Thursday, July 24

Bersikap Ridha Dalam Musibah

amirfath.com, Artikel (218), Feb 2023

Dalam surah al-Baqarah ada ayat tentang musibah, yang intinya berpesan agar mengakui bahwa semua milik Allah SWT (alladziina idzaa ashaabathum mushiibatun qaaluu innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun).

Kata “ashaaba” (menimpa) menunjukkan bahwa musibah itu terjadi karena kehendak Allah SWT. Tidak ada makhluk yang bisa menghindarinya. Sebab, memang hanya Allah SWT yang bisa mengendalikan segalanya.

Allah-lah yang memberikan kuasa kepada seseorang dan mencabut darinya, juga Allah-lah yang mengangkat seseorang kepada derajat yang tinggi atau menjatuhkannya (tu’til mulka man tasyaa’ wa tanzi’ul mulka mimmna tasyaa).

Dalam kondisi ini tidak ada pilihan bagi makhluk kecuali hanya mengatakan “innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Maksudnya bahwa kita semua milik Allah SWT dan kita semua akan kembali kepada-Nya.

Maksudnya bahwa kita semua milik Allah SWT dan kita semua akan kembali kepada-Nya.

Dengan kesadaran ini kita akan merasa berada di titik alpa. Kita pasrahkan segalanya kepada Allah SWT. Hal ini karena memang Allah-lah pemilik hakiki segala sesuatu.

Kita ridha dengan apa yang telah terjadi dengan mengatakan “radhiitu billahi rabbaa”. Tidak boleh sedikit pun menyesal atau saling menyalahkan. Karena memang tidak ada unsur makhluk yang bisa mempengaruhi terjadinya musibah.

Nabi bersabda, “maa ashaabaka lam yakun liyukhthiaka, wa ma akhthaaka lam yakun liyushiibaka” (apa yang menjadi musibahmu tidak akan salah alamat dan apa yang bukan musibahmu tidak akan menimpamu).

Abu Darda’, sahabat Nabi SAW, pernah suatu hari berangkat ke pasar. Di tengah jalan terdengar teriakan memanggilnya dari belakang, “Wahai Abu Darda’ rumahmu terbakar.”

Abu Darda’ menjawab, “Tidak mungkin itu terjadi. Tadi sebelum berangkat aku telah membaca doa ‘bimillahilladzii laa yadhurru ma’a ismihii syaiun fil ardhi wa laa fissamaai wa huwas samii’ul alim’, kata nabi siapa yang membaca doa ini tidak akan tertimpa musibah apa pun.”

Pemanggil itu tetap meyakinkan bahwa rumah Abu Darda’ benar-benar terbakar. Akhirnya Abu Darda’ kembali ke kampungnya.

Ternyata memang rumah-rumah sekampung itu terbakar kecuali rumah Abu Darda’. Ia hanya dikelilingi api, tetapi tidak sedikit pun api itu menyentuh rumahnya.

Hal ini bukti bahwa musibah itu tidak akan salah alamat. Karena itu, kita harus selalu ridha menerima dan selalu berdoa kepada-Nya agar dilindungi dari berbagai musibah.

Nabi SAW juga memberikan panduan agar tidak mengatakan seandainya aku begini tidak akan terjadi ini. Kata Nabi SAW, hindari mengatakan “law” (berandai-andai). Sebab, dalam perkataan tersebut ada celah bagi setan untuk masuk. Lalu memunculkan rasa kecewa kapada takdir Allah SWT.

Ini penyakit yang sangat membahayakan iman karena dengan kecewa kepada takdir-Nya akan muncul sikap putus asa. Dari sini bisa jadi seseorang akan melakukan tindakan di luar kendalinya, entah dengan mabok-mabokan atau bahkan puncaknya bisa bunuh diri.

Allah SWT berfirman, “innahuu laa yayasu mir rauhillahi illal qawmul kaafiruun” (sesungguhnya tidak akan putus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang yang kafir).

Bisa jadi setan masuk dari celah kesalahpahaman dalam menyikapi musibah.

Bisa jadi setan masuk dari celah kesalahpahaman dalam menyikapi musibah. Terutama ketika seseorang merasa kecewa atas apa yang menimpa dirinya karena ia meyakini bahwa dirinyalah “superman” yang menentukan segalanya.

Dalam kondisi ini, ia menyejajarkan dirinya dengan Allah SWT. Padahal, ia hanya makhluk yang tidak berdaya (laa haula wa laa quwwata illaa billahi). Atau setan memunculkan sikap tidak ridha kepada apa yang menimpanya.

Karena itu, Nabi SAW mengajarkan agar mengucapkan “qadarullahu maa syaa’a” (ini takdir Allah, ini kehendak-Nya). Dengan ini hati akan tenang dan lapang.

sumber : https://republika.id/posts/37719/bersikap-ridha-dalam-musibah

About Post Author