Friday, July 18

MASALAH ISTIWA

amirfath.com, Fiqih (20), Juni 2025 – Pertanyaan:
Apa maksud itiwa-Nya Allah di atas Arsy ? Bagaimana cara memahamninya ?
Jawaban:
Ayat yang sering dijadikan dasar oleh sebagian kalangan untuk menetapkan sifat “bertempat” bagi Allah adalah ayat-ayat seperti firman Allah : Ar Rahmanu álal arsyis tawa (Allah Ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy (QS. Taha: 5). Kaum mujassimah atau mereka yang memahami teks ini secara harfiah menganggap bahwa Allah benar-benar bersemayam secara fisik di atas ‘Arsy. Di sini ketika mereka ditanya apakag arsy itu mahluk ataubukan? Mereka menjawab Allahun a’lam (Alah yang tahu). Padahal dalam definisi kemakhlukan dikatakan bahwa kullu majuudin siwallahi fahuwa makhluuqun (semua yang ada selain Allah itu adalah makhluk).

Maka jika dikatkan bahwa Allah bersemayan di atas makhlukNya tentu di sini akan terjadi masalah. Sebab akan dikatakan bahwa Allah butuh kepada makhlkNya. Jika dikatkan Allah butuh kepada makhlukNya maka jelas ini pemahamn yang salah. Maha suci Allah dari ketergantungan makhlukNya.
Karena itu Ahlussnah dari kalangan Al Asyáriyah dan Al Maturidiyah memilih untuk menta’wil ayat tersebut. Sebab tanpa menakwilkannya akan jatuh dalam pemahaman antropomorfis (penyerupaan Allah dengan makhluk), tentu dalam menakwil ayat-ayat tersebut tidak asal-asalan melainkan sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan prinsip-prinsip tauhid. (1). Prinsip, Allah Tidak Serupa dengan Makhluk: laisa kamitslihii syaiun (Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya) (QS. Asy-Syura: 11). Ayat ini menjadi landasan utama bahwa Allah tidak memiliki bentuk, arah, tempat, atau gerakan sebagaimana makhluk. Maka, ketika ada ayat-ayat mutasyabihat seperti “istiwa ‘ala al-‘arsy”, maka ta’wil dilakukan untuk menjaga keesaan dan kesucian sifat Allah. (2). Prinsip ta’wil terhadap Makna “Istiwa” yaitu sebagai berikut: kata “istawa” secara bahasa Arab bersifat musytarak (mempunyai banyak makna). Ia bisa berarti: Tinggi (ʿalā), Berkuasa (istawlā), Tetap (istiqāma), dan Mengatur (qahr wa tasarruf). Maka, dalam konteks ayat “ar-Rahmanu ‘ala al-‘arsy istawa’, Ahl al-Ta’wil memaknai “istawa” sebagai: istawla artinya menguasai atau mengatur kekuasaan atas ‘arsy. Ini sesuai dengan tafsir sebagian ulama salaf seperti Imam al-Baqillani, Imam al-Qurthubi, dan al-Razi, serta ulama muta’akhirin dari kalangan Asy’ariyah. (3). Prinsip pengingkaran Tempat dan Arah bagi Allah. Para ulama besar seperti: Imam Abu Hanifah (w. 150 H) berkata:“Barang siapa berkata: Aku tidak tahu apakah Tuhanku di langit atau di bumi, maka ia telah kafir, karena ia telah menetapkan tempat bagi Allah.”Imam al-Ghazali (w. 505 H) berkata:“Allah tidak berada di arah, tidak di atas dan tidak di bawah, tidak di kanan dan tidak di kiri, karena arah adalah sifat makhluk.”Imam al-Nawawi (w. 676 H) mengatakan:“Aqidah salaf adalah membiarkan (ayat-ayat mutasyabihat) sebagaimana adanya tanpa menyelami makna zahirnya, dan meyakini bahwa Allah Maha Suci dari arah, tempat, dan anggota tubuh.”(4). Dalil-Dalil Takwilan dari Al-Qur’an: Beberapa ayat yang menunjukkan bahwa Allah tidak terikat tempat: pertama, QS. Al-Hadid: 4: “Dia bersama kalian di mana pun kalian berada.” Jika Allah bersama makhluk di mana pun, bagaimana mungkin Dia hanya berada “di atas ‘arsy”? Kedua, QS. Ash-Shura: 11: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”Tempat, arah, dan bersemayam adalah sifat makhluk, maka tidak layak disandarkan kepada Allah. (5). Konsep “Bersemayam” dalam Konteks Kerajaan dan Kekuasaan. Dalam banyak ungkapan Arab klasik, kata “istiwa ‘ala al-‘arsy” dipakai untuk menunjukkan penguasaan seorang raja atas singgasananya, bukan duduk secara fisik. Misalnya:“Fulanun istawa ‘ala al-mulk” artinya: “Ia menguasai kerajaan”, bukan “ia duduk di atas kerajaan”. Demikian juga dalam konteks Allah, ‘arsy bukan tempat bagi Allah, tetapi simbol kebesaran dan kekuasaan-Nya atas seluruh makhluk (6). Pendapat Ulama-Ulama Besar, Imam Malik ketika ditanya tentang istiwa’, menjawab:“Istiwa itu ma’lum (dipahami dalam bahasa), bagaimana (kaifiyyah) itu majhul (tidak diketahui), was suálu ánhu bidátun (dan bertanya tentangnya adalah bid’ah).”Ini menunjukkan kehati-hatian dalam membahas ayat-ayat mutasyabihat. Ia tidak menetapkan makna jasmani. Imam Fakhruddin al-Razi (w. 606 H) mengatakan:“Jika Allah Maha Suci dari arah, maka tidak mungkin Dia duduk atau bertempat di atas ‘arsy.”(7). Konsep ‘Arsy dalam Perspektif Ahlussunnah: ‘Arsy adalah makhluk terbesar yang mencerminkan kemuliaan dan kekuasaan Allah. Dipastikan Allah tidak membutuhkan ‘arsy, bahkan ‘arsy butuh kepada Allah, sebagaimana seluruh makhluk lainnya.
Kesimpulan dari apa yang dibahas di atas: pertama, Pandangan bahwa Allah benar-benar bersemayam secara fisik di atas ‘arsy bertentangan dengan prinsip dasar tauhid dan kesucian Allah dari sifat-sifat makhluk. Karena itu Ahl al-Ta’wil menjawab ayat-ayat mutasyabihat dengan pendekatan ta’wil yaitu dengan: Menafsirkan istiwa dengan makna menguasai (istawlā), Kedua, menolak keyakinan bahwa Allah butuh tempat atau arah, karena itu adalah sifat makhluk, Ketiga, menguatkan akidah tanzih: Allah Maha Suci dari segala bentuk penyamaan dengan makhluk. Dengan demikian, menakwil ayat “istiwa” adalah cara untuk menjaga kemurnian tauhid, bukan untuk menolak nash, melainkan untuk menjaga kesesuaiannya dengan nash lain dan kaidah tauhid. (Dr. Amir Faishol Fath, pakar Tafsir Al Quran )

About Post Author