Friday, August 22

Waktu Terbaik untuk Ibadah

amirfath.com, Artikel (201), Jan 2023

Dalam surah al-Muzzammil, Allah SWT menunjukkan bahwa ada waktu siang dan malam yang silih berganti. Di waktu malam sebaiknya diisi dengan perbanyak shalat malam dan membaca Alquran dengan tartil, “Wa rattilil quraana tartiilaa” (QS al-Muzzammil [73]: 4).

Sebab, pada saat itu hati masih terbuka dan siap menerima pesan-pesan iman, “Inna naasyiatallaili hiya asyaddu wathaw wa aqwamu qiilaa” (QS al-Muzzammil [73]: 6).

Kata “nasyiah” dari kata “nasyaa” (bangkit) maksudnya bangun untuk menegakkan ibadah. Di dalamnya ada makna perjuangan, sebab untuk bangun malam harus melawan kantuk dan kenyamanan tidur yang sangat berat. Apalagi sedang berada dalam selimut.

Karena itu, cara melawannya harus disingkirkan lebih dahulu selimutnya. Itulah rahasia dibukanya surah al-Muzzammil dengan ayat “yaa ayyuhal muzzammil” (QS al-Muzzammil [73]: 1).

Kata “wathaw” satu akar dengan kata “muwatha’ah” artinya “almuwafaqah” (pas). Jadi ayat “asyaddu wathaw” maksudnya labih pas seperti botol dengan tutupnya.

Waktu malam adalah saat yang paling pas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bahwa waktu malam adalah saat yang paling pas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebab, Allah SWT yang menciptakan hati lebih tahu kapan ia terbuka dan siap menerima pesan.

Karena itu, hamba-Nya diperintahkan agar bangun malam. Saat yang paling baik untuk mengisi hati dengan iman adalah waktu malam.

Ingat bahwa hati ini diciptakan untuk diisi iman, bukan diisi urusan dunia. Karena itu, dalam sebuah doa dikatakan: “Allaahumma laa taj’aliddunya fii quluubina bal ij’alhaa fii ayddiinaa” (Ya Allah jangan jadikan urusan dunia masuk ke dalam hatiku, biarkan ia di tanganku).

Adapun waktu siang biasanya manusia sangat sibuk untuk mencari nafkah, “Inna laka fin nahaari sabahan thawiilaa”  (QS al-Muzzammil [73]: 7).

Kata “sabahan” satu makna dengan kata “aljaryu wad dawraan” (berlari kencang dan berputar-putar). Maksudnya bahwa di siang hari kesibukan untuk urusan memenuhi kebutuhan hidup sangat padat, di mana manusia dipaksa untuk terus bergerak tanpa henti. Akibatnya, waktu ibadah menjadi sangat sempit.

Berbeda dengan waktu malam yang lapang dan tenang, tidak ada kesibukan dan kebisingan, di mana hati terasa teduh. Itulah mengapa dalam ayat tentang malam dikatakan “Wa aqwamu qiilaa” (QS al-Muzzammil [73]: 6).

Bahwa di malam hari lidah lebih kokoh dalam melafalkan Alquran karena suasana hati lebih tenang.

Namun, sesibuk apa pun, di siang hari harus juga ada celah waktu untuk beribadah dan berzikir.

Namun, sesibuk apa pun, di siang hari harus juga ada celah waktu untuk beribadah dan berzikir. Karena itu Allah selipkan ayat tentang perintah berzikir dan perbanyak ibadah setelah membicarakan tentang siang, “Wadzkurisma rabbika wa tabattal ilaihi tabtiilaa” (QS al-Muzzammil [73]: 8).

Kata “wadzkurisma rabbika” menunjukkan makna agar dalam berzikir selalu ingat kepada Allah SWT sebagai “arrabb” (pemilik, penjaga, dan pemelihara semua makhluk). Kesadaran ini akan membantu seorang hamba agar menikmati zikirnya sepenuh hati.

Lalu kata “tabattal” maknanya “alinqithaa’ ‘anid dunyya” (memisahkan diri dari urusan dunia), maksudnya bersungguh-sungguh mengkhususkan diri untuk Allah agar lebih khusyuk.

Dengan kata lain bahwa sekalipun waktu ibadah di siang hari sangat singkat, hendaklah seorang hamba benar-benar menggunakan kesempatan tersebut dengan penuh kehusyukan secara maksimal.

sumber : https://www.republika.id/posts/36508/waktu-terbaik-untuk-ibadah

About Post Author