Friday, August 22

Agar Tetap Kuat Menaati Allah

amirfath.com, Artikel (200), Jan 2023

Tabiat hidup harus ada aturan. Allah SWT yang menciptakan langit dan bumi serta seluruh kehidupan di dalamnya telah meletakkan aturan yang jelas. Bahwa tidak ada sekecil apa pun di alam semesta ini kecuali ada pertanggungjwabannya.

“Famay ya’mal mitsqaala dzarratin khairay yarah, wamay ya’mal mitsqaala dzarratin syarray yarahu” (QS al-Zalzalah [99]: 78). Bahwa siapa pun yang berbuat kebaikan atau keburukan sebesar zarrah, masing-masing ada perhitungannya.

Para ulama meringkas aturan tersebut dengan dua istilah: “halalun wa haramun” (halal dan haram). Apa yang diperintahkan dan dibolehkan oleh Allah disebut halal dan apa yang dilarang oleh-Nya disebut haram.

Untuk mengikuti aturan tersebut sangatlah berat. Kecuali bagi orang-orang yang kokoh imannya.

Untuk mengikuti aturan tersebut sangatlah berat. Kecuali bagi orang-orang yang kokoh imannya. Dalam surah al-Muzzammil disebutkan dengan istilah “qaulan tsaqiilaa” (perkataan yang berat).

Maksudnya bahwa dalam menaati Allah godaannya sangat berat. Setan akan bekerja keras siang dan malam, dari depan dan dari belakang. Sebab, setan tidak mau masuk neraka sendirian. Itulah mengapa ia mencari teman tidak saja dari kalangan jin, tetapi juga dari kalangan manusia.

Iblis berkata dalam surah al-A’raf 17: “Tsumma laatiayannahum mim baini aydiihim wa min khalifihim wa ‘an aymaanihim wa ‘an syamaailihim” (kemudian aku akan menggoda mereka dari depan dan belakang, dari kanan dan kiri mereka). 

Selain hal tersebut, memang turunnya wahyu adalah sangat berat. Rasululah SAW memang merasakannya sendiri. Tubuhnya gemetar dan berkeringat pada saat menerima wahyu.

Unta yang dikendarainya tampak tertunduk kerena keberatan pada saat menerima surah al-Maidah (HR Ahmad). Ibunda Aisyah menceritakan bahwa Nabi SAW pernah menerima wahyu di musim yang sangat dingin, ketika itu keringatnya mengucur deras (HR Imam Malik).

Sebagian sahabat yang pernah duduk berdampingan dengan Nabi SAW menceritakan bahwa lutut Nabi SAW yang menyandar kepadanya terasa seberat gunung. Karena itu, Nabi SAW segera kembali kepada ibunda Khadijah lalu minta diselimuti seraya berkata: “zammiluuni” (selimuti aku).

Inilah mengapa pada pembukaan surah al-Muzzammil kita membaca perintah agar meninggalkan selimutnya dan bergegas bangun untuk shalat malam, “Yaa ayyuhal muzzamil qumillaila”.

Dengan shalat malam keihklasan akan muncul. Dari keikhlasan inilah semua kewajiban menjadi ringan.

Padahal tujuan nabi berselimut untuk istirahat dari lelahnya menerima wahyu. Tetapi Allah SWT mengajarkan agar istirahatnya bukan dengan tidur melainkan dengan menegakkan shalat malam.

Ada apa dengan shalat malam? Allah SWT menjelaskan, “Innaa sanulqii ‘alaika qaulan tsaqiilaa” (Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat) (QS al-Muzzammil [73]: 4). Artinya dalam shalat malam ada kekuatan ruhani dengannya seorang hamba bisa memikul kewajibannya kepada Allah SWT.

Tidak sedikit memang orang merasa berat untuk menegakkan shalat, menjalankan puasa Ramadhan, membayar zakat, dan sebagainya. Padahal semua kewajiban tersebut tidak seberat pekerjaan harian yang harus berdiam di kantor setiap hari dari pagi sampai sore.

Sebab, dengan shalat malam keihklasan akan muncul. Dari keikhlasan inilah semua kewajiban menjadi ringan.

sumber : https://www.republika.id/posts/36455/agar-tetap-kuat-menaati-allah

About Post Author