Tuesday, September 2

Ramadhan Bulan Harokah

amirfath.com, Artikel (01), Nov 2020 – Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa(QS. Al Baqarah 2/183)

                Hidup adalah gerak, yang penuh dengan tantangan. Tidak cukup dalam menghadapi berbagai tantangan hanya bermodal kekuatan spiritual, melainkan harus juga diimbangi dengan tantangan hanya bermodal kekuatan spiritual, melainkan harus juga diimbangi dengan kekuatan material. Orang yang hanya bermodal kekuatan material ia tidak bisa bertahan lama, begitu juga sebaliknya. Di dalam berdakwah di jalan Allah para nabi tidak pernah mencontohkan dengan hanya berdiam di dalam masjid. Mereka bergerak secara fisik, pindah dari kampung ke kampung bahkan dari negeri ke negeri. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mencapai kekuatan sosial yang spektakular, harus melakukan hijrah terlebih dahulu. Hijrah dari kota Mekkah ke kota Madinah. Dari kota Madinah itulah kemudian kekuatan umat Islam mencapai puncak keemasannya.

                Allah pernah memperlihatkan bagaimana pasukan Abrahah yang ditopang dengan pasukan gajah, hancur berantakan, seperti dedaunan yang dimakan ulat, itu karena mereka hanya bermodal kekuatan fisik saja (lihat surat Al fiil). Jauh sebelum itu, kaum Aad, dan Fir’aun semuanya porak poranda, seklaipun mereka telah mencapai puncak peradaban yang sangat tinggi pada masanya, itu juga karena mereka terlalu menuhankan kekuatan materi. Jiwa mereka kosong, kering tidak berdaya. Yang mereka miliki hanyalah kesombongan. Mari kita simak firman Allah: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum ‘Aad?, (yaitu) penduduk Iran yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu, di negeri-negeri lain, dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah, dan kaum Fir’aun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Tuhanmu menimpakan kepada mereka cemeti azab (QS. Al Fajr 6-13).

                Al Qur’an menegaskan bahwa tidak ada kemenangan kecuali dengan membangun dua sisi kekuatan secara seimbang: kekuatan spiritual dan material. Dalam surat Al Baqarah 2/201 Allah Subhanallahu wa Ta’ala mengajarkan sebuah doa yang menekankan pentingnya keseimbangan antara kedua sisi tersebut: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. Kebaikan hakiki adalah yang melahirkan keseimbangan di dunia maupun di akhirat. Apalah arti kebahagiaan dunia jika ternyata kemudian harus menderita seumur hidup di akhirat dalam siksaan api neraka.

Kekuatan Iman Dan Fisik

                Ayat di atas menggambarkan titik keseimbangan antara kekuatan dan iman (baca spiritual)dengan kekuatan fisik (baca; puasa). Allah memanggil mereka yang beriman, karena hanya mereka yang siap untuk melaksanakan perintah Allah Subhanallahu wa Ta’ala untuk melaksanakan puasa. Di dalam puasa sendiri –sekalipun nampak lebih dominan kepada sisi fisiknya- tetapi secara bersamaan sudah terkandung di dalamnya dua sisi kekuatan: Secara fisik puasa akan membuat tubuh menjadi semakin tangguh dan kebal dari berbagai penyakit, dan secara spiritual puasa bisa membuat pelakunya lebih bahagia, tenang dan terbebas dri rasa takut.

                Hakikat keseimbangan ini, harus selalu tercermin dalam gerakan apapun, lebih-lebih dalam gerakan dakwah kepada Allah. Seorang aktifis dakwah yang hanya sibuk secara fisik, sementara spiritualnya dibiarkan kering, tentu akan mengalami dampak ketidakseimbangan ini cepat atau lambat. Banyak kejadian di mana seseorang sanggup ngobrol berjam-jam atas nama rapat, sementara untuk duduk lima belas menit membaca Al Qur’an terasa berat. Sebagian ada yang sanggup duduk di depan tv satu jam dua jam, sementara untuk menegakkan sholat sepuluh menit terasa terlalu lama. Pikirannya penuh dengan rangkaian acara dan program dakwah, sementara Allah seringkali dilupakan dalam sholatnya apalagi dalam kehidupannya sehari-hari.

                Sebuah gerakan dakwah tidak akan berkah selama tidak berpijak kepada dua sisi kekuatan tersebut. Perhatikan Allah berfirman dalam surat As syams 9-10: “Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya”. Dan di ayat lain Allah berfirman: Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya. Apa saja yang ka,u nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan) (QS. Al Anfal 8/60).

                Di bulan Ramadhan kekuatan spiritual dan fisik sama-sama terbina secara seimbang. Karenanya ketika Allah mewajibkan puasa yang dipanggil adalah orang-orang yang mempunyai iman: yaa ayyuhalladziina aamanuu. Seorang aktifis dakwah hendaknya menjalani momentum ini secara maksimal. Di dalam Al Qur’an Allah selalu mengulang-ulang ayat perintah menegakkan sholat, sebagaimana juga Allah mengulangulang ayat perintah berjihad. Jihad adalah medan yang sangat menuntut kekuatan fisik. Dan sudah terbukti dalam sejarah bagaimana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya terjun ke medan tempur, berhadapan dengan pasukan yang tidak hanya lebih kuat secara senjata, melainkan juga lebih dari segi jumlah pasukan. Tetapi umat Islam pada waktu itu mampu menghadapi mereka. Mengapa karena bekal yang dibawa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabatnya tidak hanya materi melainkan lebih dari itu adalah bekal ruhani.

Dari Ramadhan Menuju Harakah Da’awiyah

                Seseorang yang mempunyai dua kekuatan ruhani dan fisik secara seimbang ia akan beruntung. Allah contohkan dengan seorang Nabi Musa, yang fisiknya dan ruhaninya kuat dengan sifat amanah yang dia punya. Sampai-sampai putrinya nabi Syu’aib tertarik untuk meminangnya sebagai pegawai; salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik  yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” (QS. Al Qhasash 28/26).

                Begitu juga umat yang kuat secara ruhani dan fisik ia menjadi umat yang beribawa. Allah berfirman: Muhammad itu utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tanpak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil,yaitu seperti tanaman yang mengelluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia da tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yangberiman dan mengerjalan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar (QS. Al Fath 48/29).

                Sebuah gerakan dakwah yang kokoh tentu juga yang berpijak di atas kedua kekuatan tersebut. Ramadhan adalah kesempatan emas bagi aktifis dakwah dan bagi semua umat Islam untuk lebih memaksimalkan diri dalam meraih dua kekuatan tersebut secara seimbang. Mengapa ? Pertama, karena dalam Ramadhan seorang hamba benar-benar manahan gejolak nafsunya untuk semata mentaati Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Di malam harinya ia bangun menegakkan sholat, lalu menjelang fajar bangun lagi untuk menyantap sahur, dimana pada saat itu ia juga sempat bermunajat kepada Allah dan membaca Al Qur’an. Lalu di siang harinya ia selalu mem

baca Al Qur’an. Setelah itu pas menjelang puasa kegembiraan nampak pada wajahnya, karena hendak berbuka. Perhatikan suasana yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lain, hanya kita dapatkan di bulan Ramadhan. Di bulan Ramadhan kesempatan untuk berbuat dosa menjadi sempit. Maka seseorang yang benar-benar berpuasa imannya akan meningkat. Dari meningkatnya iman inilah akan lahir meningkatnya kualitas kerja. Bila seorang aktifis dakwah, maka dari Ramadhan ia akan lebih bergerak ke arah yang lebih produktif.

                Kedua, selama Ramadhan seseorang benar dilatih untuk bersabar. Sabar menahan haus dan lapar. Sabar menahan diri dari kemaksiatan. Sebab untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaannya seperti minum kopi, merokok dan lain sebagainya. Ia lakukan itu bukan takut dipenjara, melainkan karena takut kepada Allah. Kesadaran inilah yang sebenarnya harus dicapai oleh setiap muslim, dalam menjalankan ketaatannya kepada Allah. Orang yang selalu sabar menjauh dari kemewahan ia akan lebih bertahan pada masa-masa sulit dari seseorang yang selalu bermanja-manja dengan kelezatan hidup. Diceritakan bahwa Yazdajir Raja terakhir kerajaan Iran, ketika ibu kotanya dibuka oleh umat Islam, ia lari menyelamatkan diri. Yang aneh dan lucu adalah bahwa saat ia lari masih sempat membawa seribu penyanyi, seribu pelayan, seribu dayang-dayang dan lain sebagainya (As Sirah An Nabawiyah, Abul Hasan An Nadwy h.36). perhatikan seseorang yang terbiasa hidup mewah ia kan merasakan penderitaan yang tak terhingga ketika datang masa-masa sempit secara tiba-tiba. Seseorang yang benar-benar menyadari hakikat ini pada saat menjalankan puasa, ia tidak akan mudah tergiur dengan kemewahan. Jiwanya akan selalu stabil baik di masa sulit maupun di masa senang. Semangatnya untuk berjuang di jalan Allah tetap selalu menyala dalam kondisi apapun. Ia menjadi seperti yang diucapkan dalam pepatah: tidak pernah lapuk karena panas dan tidak pernah lekang karena hujan.

                Ketiga, dari puasa Ramadhan seseorang belajar ketaatan yang jujur kepada Allah. Taat dalam arti bahwa ketika perintah itu datangnya dari Allah sekalipun nampak bertentangan dengan keinginan dirinya, tetap menjalaninya dengan penuh keimanan dan harapan dakan ridha Allah semata. Unsur taat seperti ini sangat menentukan dalam menjalankan roda dakwah. Karenanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam membai’at sahabt-sahabatnya untuk tetap taat dalam kondisi apapun “fii mansyati wal makrahi” (dalam masa senang maupun sulit). Dakwah tidak akan berjalan tanpa spirit dan ketaatan kepada qiyadah. Dari saking pentingnya ini, Allah mensejajarkan ketaatan kepada Rasul adalah sama ketaatan kepada Allah: Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS. An Nisa 4/80). Dalam ayat lain: Katakanlah: “Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” (QS. Ali Imran 3/32). Dalam surat Al Anfal 8/20: Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar( perintah-perintah-Nya). Ini semua menunjukkan bahwa unsur taat adalah unsur yang paling penting dalam menegakkan kehambaan kita kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Sebagaimana juga ia tidak bisa dipisahkan dari gerakan dakwah yang harus bergerak dalam satu irama untuk mencapai tujuan mulia: tegaknya ajaran Allah di muka bumi.

                Dari keterangan di atas nampak betapa Ramadhan adalah kesempatan paling berharga untuk memaksimalkan kemampuan menjalankan tugas-tugas dakwah tidak hanya secara fisik melainkan lebih dari secara spiritual. Sebab hanya dengan meraih dua kekuatan tersebut secara seimbang dakwah akan menjadi berkah dan akan mendapatkan pertolongan Allah Subhanallahu wa Ta’ala.

Wallahu a’alam bishshawab.

About Post Author