Friday, July 18

Hikmah

amirfath.com, Cerpen (07), Des 2020 – Saya sering bercerita kepada istri saya tentang bagaimana kita harus mengambil hikmah dari berbagai peristiwa yang kita alami. Seperti umpamanya, istri saya lagi sakit. Saya segera mengingatkannya kepadanya nikmat kesehatan yang pernah ia miliki. Sambil mengurut poin-poin refeleksi yang ada di kakinya, saya sedikit banyak memberikan semacam gambaran. Bahwa betapa nikmat kesehatan itu sangat mahal. Karenanya kalau kita sedang sehat, janganlah sekali-kali kita buang-buang, kita manfaatkan kesehatan tersebut dengan sebaik-baiknya. Kita pergunakan setiap tetes dari kesehatan untuk hal-hal yang sangat berguna bagi masa depan kita di akhirta nanti. Artinya selama kita sehat, banyak-banyaklah beribadah, berdakwah dan lain sebaginya.

            Istri saya menerima saja apa yang saya sampaikan. Dan saya terus mengurutnya, sampai ia merasa mendingan dari rasa sakitnya.

            Ya tentunya, karena masalah hikmah selalu kita temui dimana-mana, dan bahkan hampir segala kejadian, segala proses tidak pernah lepas dari hikmahnya, maka setiap saya ada kesempatan duduk bersama istri saya, saya selalu berusaha untuk memetic hikmah-hikmah yang bertaburan itu. Kadang saya mengutip sebuah ayat, lalu saya terang kana pa dibalik ayat itu. Kadang juga bercerita masalah-masalah kecil yang pernah saya saksikan. Lalu dibalik itu saya selipkan hikmah yang dikandungnya.

            Sebut saja misalnya, suatu hari saya pernah menunjukkan bagaimana daun-daun di depan rumah yang saya tempati berguguran dari tangkainya. Istri saya pertama kali melihatnya biasa-biasa saja. Ia nampaknya sekedar melihat kejadian itu, tak lebih dari peristiwa biasa. Karenanya, ketika saya minta untuk mengomentarinya, istri saya diam saja. Saya langsung meraihnya, dan bercerita semuanya itu.

            “Mama” kata saya “coba mama saksikan secaa lebih dalam lagi, bagaimana daun-daun itu berguguran. Tentunya mama melihat kan, bahwa daun-daun jatuh itu tidak semuanya kering. Tetapi ada yang hilang jauh dan ada yang menjelang kering? Benar kan ma? Nah, disini kita bisa mengambil pelajaran ma. Apa itu? Yaitu bahwa Allah dari kenyataan ini memperingatkan kita akan peristiwa mati yang pasti terjadi. Dan datangnya sepert apa yang terjadi pada daun-daun itu, secara tiba-tiba. Pun tidak pandang bulu, yang tua, yang muda atau yang masih bayi. Semuanya pasti akan mengalaminya. Tanpa beraturan, artinya tidak mesti yang tua mati duluan dan yang muda masih panjang usianya. Tidak, kita menyaksikan daun-daun itu berguguran secara bersamaan. Kadang yang hijau gugur lebih dulu. Begitu juga manusia seperti kita-kita ini. Makanya kita harus senantiasa siap-siap dengan amal shaleh. Karenanya hanya amal shaleh ini yang akan kita bawa mati.”

            Istri saya tertegun saja. Tidak memberi komentar apa-apa.

            “Saya teringat ma” kata saya lebih lanjut “pada kejadian yang menimpa kawan saya, usianya muda. Dulunya ia sekelas dengan saya. Tak disangka dalam usia semuda itu, ia tiba-tiba diberitakan meninggal dunia. Asal muasalnya, kata sebuah berita yang mutawatir, dan saya juga turut menyaksikan kejadiannya, adalah bahwa kawan saya itu sedang belajar berenang di sebuah danau yang dikenal dengan ‘Rawal Dam’. Danau itu lumayan dalam dan agak sepi. Ketepatan ia sendirian, entah kok tiba-tiba menurut cerita seorang yang menyaksikannya, ia hilang dari permukaan air. Di lacak malam itu juga, ternyata belum didapatkan. Sementara sepeda motor yang ia kendarai masih saja bertengger di tepi danau. Berarti dalam kesimpulan orang-orang, ia tidak jauh dari situ, namun kemana dia? Orang-orang bertanya-tanya, ditangkap orang? Tenggelam? Atau kenapa? Keesokan harinya, baru dikejar oleh pasukan penyelam resmi pemerintah Pakistan. Dari sana kemudian data terbukti bahwa ia tenggelam. Nah disini ma kita bisa mengambil pelajaran, bahwa kematian justru kadang menjemput seorang yang masih tegar usianya. Seperti daun hijau yang gugur lebih dulu dari pada yang kering itu.”

            Istri saya termenung saja, ia nampaknya menerima kesimpulan yang saya isyaratkan.

            Lain kali saya bercerita lagi, kisahnya mengenai seorang kakek tua yang pernah saya temui di jalanan. Kakek itu benar-benar menderita, bukan saja karena tuanya. Melainkan juga karena keuda kakinya habis ditelan bom. Pasalnya ia memang orang Afghanistan, konon ketika perang melawan serdadu komunis berkecamuk di sana kakek itu memang turut terlibat untuk membela negerinya. Namun ketika bom itu tiba-tiba mengunyah hangus kakinya. Ia terpaksa mengungsi ke negara tetangg, Pakistan. Tepatnya di Islamabad, saya tersentuh ketika pertama kali melihat kakek itu, ia berjalan dengan kedua tangannya tubuhnya diseret. Tak dibantu siapa-siapa, kemana kakek itu pergi? Saya tidak tahu. Dan mengapa ia keluar saat panas-panas begini? Apakah ia sedang mencari nafkah? Nafkah apa gerangan yang ia sedang cari? Lalu kemana anak-anaknya atau cucunya? Apakah mereka telah hangus dalam letusan bom itu? Kalau memang benar mengapa tidak seorangpun yang bisa menyalamatkan kakek itu? Adakah umat islam demikian kering perasannya, sehingga begitu tega membiarkan kakek itu tanpa siapa yang membantunya?

            “Mama” kata saya selanjutnya “coba mama sejenak merenungi kisah ini. Lalu kita ambil apa hikmah di balik semua itu. Sungguh mama akan banyak mendapatkan pelajaran. Pertama, mumpung kita masih muda mama, belum setua kakek itu mari kita sungguh-sungguh mempergunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Sehingga kita tidak segera dirundung sejuta penyesalan setelah tua nanti. Kedua, mumpung kita masih mempunyai kemungkinan untuk bekerja apa saja, di mana Alhamdulillah Allah mengaruniai kita tubuh yang sempurna, maka jangan sampai kita menjalani hidup ini begitu saja. Tanpa makna, kita tempuh segala kemungkinan yang bisa kita lakukan untuk kebangkitan umat yang kita cintai. Ketiga, mumoung Allah masih memberikan kepada kita rizqi yang lumayan cukup jika dibanding dengan kakek itu, maka marilah kita gunakan rezqi ini untuk hal-hal yang dicintai Allah. Karena semua apa yang kita terima ini tak lebih dari titipan-Nya, yang harus kita manfaatkan dijalan-Nya dan kelak kita pasti akan dimintai pertanggung jawaban atas semua itu”

            Istri saya diam, mata saya berkaca-kaca. Kedua pipinya basah karena air mata.

About Post Author