Makna Tauhid Dan Shidqul Intima’
amirfath.com, Artikel (04), Nov 2020 – Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
(Surat Az Zumar 39 :29)
Pada ayat sebelumnya, Allah menggambarkan sifat-sifat Al Qur’an sebagai pedoman utama bagi manusia untuk menjalani hidupnya sesuai dengan bimbingan-Nya. Pertama, bahwa Al Qur’an adalah kitab yang harus dibaca (qur’aanan). Rasulullah SAW bersabda: Bacalah Al Qur’an, karena sesungguhnya ia kelak akan menjadi syafaat bagi yang membacanya” (HR. Muslim). Dalam hadits lain Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang yang mulutnya tidak pernah membaca Al Qur’an, seperti rumah yang rusak” (HR. Turmudzi, disebutkan kedudukan hadits ini hasan). Kedua, Al Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang jelas dan mengandung mukjizat. Tidak seorangpun dari masyarakat Arab yang jelas dan mengandung mukjizat. Tidak seorangpun dari masyarakat Arab yang telah mencapai puncak kefasihan berbahasa, bisa mendatangkan seperti Al Qur’an atau seperti surat yang paling pendek sekalipun. Ketiga, didalam Al Qur’an semuanya benar, tidak ada kontradiksi, semua kandungannya saling mendukung dan saling melengkapi antara satu kalimat dengan lainnya, antara satu ayat dengan lainnya dan satu surat dengan lainnya (gahiri dzii ‘iwaj). Maka dengan mengikuti petunjuk Al Qur’an seorang akan mencapai derajat taqwa (la’ allahum yattquun).
Taqwa adalah puncak tauhid seorang hamba kepada Tuhannya Sang Pencipta. Karenanya pada ayat berikutnya (maksudnya ayat diatas) Allah menyebutkan rahasia tauhid sebagai jalan satu-satunya untuk mencapai ketenangan hidup: “Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”. Maksudnya bahwa perumapaan seseorang yang menyembah banyak tuhan (musyrik) adalah seperti seorang budak yang berada di bawah banyak tuan. Dan perumpamaan seseorang yang menyembah satu Tuhan (tauhid) adalah sama seperti seorang budak yang berada di bawah satu tuan. Tentu keduanya tidak pernah sama. Marilah kita bahas secara lebih detil mengenai kedua perumpamaan ini. Demikian juga dalam bidang kehidupan yang lain. Sebuah mobil yang dikendalikan oleh banyak supir, masing-masing mempunyai keinginan yang berbeda, bisa dipastikan bahwa mobil itu akan rusak. Demikian juga, sebuah perusahaan yang dikendalikan oleh banyak direktur utama, masing-masing mempunyai keinginan yang bertentangan antar satu dengan lainnya, bisa dipastikan bahwa perusahaan tersebut akan segera hancur. Karenanya sampai sekarang belum ada sebuah pabrik yang berani mengeluarkan sebuah mobil dengan dua atau lebih dari satu setir. Sebagaimana juga dalam sebuah perusahaan apapun direktur utamanya selalu satu orang, tidak lebih.
Dalam beramal jama’i pun juga demikian. Seorang aktifis dakwah yang dibimbing yang berafiliasi kepada dua jamaah berbeda visi , misi, manhaj dan tujuan ia akan bingung. Bingung karena beberapa kondisi: (a) Ia harus ikuti semua tuntunan manhaj dari masing-masing jamaah sekaligus. Hal ini tentu tidak mungkin karena sangat bertentangan dengan fitrah manusia. (b) Ia harus tunduk dan patuh kepada pemerintah masing-masing pemimpin jamaah yang berbeda dan tidak mustahil saling bertentangan. Ini juga akan membuatnya tercabik-cabik secara psikologis, sebagaimana akan membuatnya tidak akan pernah sampai kepada tujuan. Ibarat sebuah mobil yang dikendalikan dua supir yang berbeda tujuan ia akan terus terombang-ambing dalam ketidakpastian. (c) Ia akan selalu tercekam oleh perasaan takut salah ketika hendak berbuat sesuatu mengikuti perintah salah satu jamaah. Karena jamaah yang lain pasti akan menganggapnya salah sesuai dengan tujuan dan keinginannya. Akibatnya ia tidak merdeka, lebih dari itu ia pasti tidak akan produktif. (d) Perasaan takut salah ini pada langkah selanjutnya akan membuatnya selalu berbicara bohong, karena jika ia terang-terangan bahwa ia ikut jamaah tertentu bisa dipastikan ia akan dipecat atau dikeluarkan. Kebiasaan berbohong adalah kebiasaan yang tidak normal, karena ia tidak mungkin bertahan selamanya dalam kedok kebohongan. Lama kelamaan kedok kebohongannya pasti akan terbongkar. Dan ketika terbongkar nampak bahwa ia bukan seorang pengikut ynag jujur (shaahibu sidqil intima’).
Sungguh, tidak ada jamaah yang menginginkan pengikutnya dari seorang yang tidak jujur dalan beralifiasi. Ia pasti mencita-citakan dukungan dari semua pihak secara kokoh dan berkualitas. Dukungan yang berbahu kepura-puraan tidak akan pernah melahirkan kerja sama yang indah. Bahkan akan membuat jamaah selalu goyah dan tidak efektif. Karenanya kejujuran loyalitas (shidqul intima’) bagi semua pendukungnya adalah sayarat utama untuk membangun sebuah jamaah yang kokoh dan beribawa. Sebaliknya seorang yang plin-plan (pinjam istilah Al Qur’an mudzabzabiin baina dzlika, laa ilaa haaulaa’ walaa ilaa haaulaa’ (QS. An Nisaa’:143) tidak memenuhi syarat untuk diajak bekerja sama dalam beramal jama’i.
Tauhid Membangun Ketenangan
Pada perumapamaan kedua Allah SWT menggambarkan kondisi seorang budak yang hanya tunduk pada seorang tuan (warajulan salaman lirajulin), untuk memperbandingkan dengan kondisi budak pertama yang tunduk pada banyak tuan berbeda-beda keinginan (mutasyaakusyuun). Lalu Allah bertanya: Adakah kedua budak itu sama halnya? Jawabannya tentu tidak. Sebab yang pertama tersiksa dalam kebingungan, sementara yang kedua berada dalam ketenangan. Inilah rahasia tauhid, bahwa seorang manusia harus mengahamba hanya kepada Allah Sang Pencipta. Dan atas dasar tauhid ini –seperti telah disebutkan di atas- Allah menegakkan fitrah manusia. Siapapun yang berusaha melanggar, ia pasti tidak akan pernah menemukan rasa aman. Sebaliknya manusia tauhid akan selalu berada dalam kehidupan yang aman, tenang dan tidak disibukkan oleh perasaan-perasaan yang selalu mengancam. Lebih dari itu ia akan menemukan dirinya dalam beberapa kondisi sebagai berikut:
Pertama, ia akan selalu istiqamah, karena panduan amal yang harus diikuti jelas, tidak ada keraguan di dalamnya, sebab ia datang dari hanya satu Tuhan, tidak dicampuri kepentingan lain. Perintahnya pun tidak tumpang-tindih dan tidak membingungkan. Allah berfirman: Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah (wastaqim) sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supayaberlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)” (Asy Syuraa 42:15).
Kedua, ia yakin akan apa yang harus ia kerjakan. Tidak ada kebimbangan sama sekali dalam dirinya. Mengapa? Sebab ia tahu bahwa pekerjaannya sesuai dengan keinginan Tuhan-Nya. Dan dengan mengikuti keinginanNya ia yakin bahwa apa yang dilakukan pasti benar. Keyakinan tentu sangat menentukan dalam produktifitas. Seorang peragu tidak akan pernah berani melangkah ke depan melakukan sesuatu. Sebaliknya seorang yang mempunyai self confidence ia tidak akan pernah gentar menjalankan tugas-tugasnya. Segala tantangan ia atasi dengan tenang. Dari ketenangan seperti inilah keberhasilan akan tercapai.
Dan Allah mengajarkan hakikat tauhid adalah rangka ini, yaitu supaya manusia benar-benar terkonsentrasi mengejar ridha-Nya. Tidak terombang-ambing dalam kebingungannya sendiri, membuang-buang waktu dalam kepentingan yang semu. Perhatikan Allah menggambarkan perbuatan orang-orang kafir seperti fatamorgana: Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan di dapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya (QS. An Nur 24: 39). Disini nampak, bahwa betapa orang-orang kafir benar-benar dalam kerugian yang nyata. Di dunia ia telah demikian capek mengurus kehidupannya, tetapi ujung-ujungnya semua kecapekan itu menjadi sia-sia tidak bermakna sama sekali. Mengapa? Sebab ia ternyata mengikuti Tuhan lain yang sebenarnya bukan Tuhan. Coba, ia ikut Allah, ia pasti benar, dan tidak ada yang sia-sia dalam hidupnya.
Ketiga, tenaganya efektif, tidak ada yang dibuang sia-sia. Semuanya bermakna. Sekecil apapun yang ia lakukan untuk Allah semuanya tercatat dengan rapi; famay ya’mal mitsqaal dzarratin khairan yarah, wamay ya’mal mitsqaal dzarratin syarray yarah (Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula (QS. Az Zalzalah 99: 8). Sebaliknya bagi yang ikut banyak tuhan, pasti tenaganya akan terkuras dalam pekerjaan yang tidak ada gunanya. Sebab setiap pekerjaan yang ia lakukan sekalipun disetujui sebagian tuhan tetapi belum tentu disetujui oleh tuhan-tuhan lain yang ia sembah.
Benar, manusia tauhid tenaganya pasti efektif, sebab ia tahu siapa yang harus ditaati, Dialah Allah yang Maha Kuasa, sumber segala kekuatan, mnfaat dan rizki. Tidak ada yang pantas ditaati selainNya. Karenanya segala tenaga yang ia miliki terkonsentrasi hanya kepadaNya. Dari sini ia menjadi produktif dalam arti yang sebenarnya. Kakinya terhunjam ke bumi dan amalannya menjulang ke langit seperti yang Allah gambarkan dalam firmanNya: Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat permpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya( menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat (QS. Ibrahim 14: 24-25) Sebaliknya orang-orang kafir hidupnya seperti pohon yang buruk, karena ia tidak tahu bagaimana menjalani hidup sebagaimana mestinya, akibatnya ia tidak tumbuh secara normal dan subur, akarnya tidak terhunjam ke bumi dan tangkainya tidak menjulang ke langit bahkan ia tidak bisa memberikan rasa aman, sebab pada dirinya sendiri saja ia tidak sanggup memberikan ketenangan. Allah berfirman: “Dan perumpamaan kalimat yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun (QS. Ibrahim 14:26).
Keempat, tujuannya jelas, maka otomatis jalannya jelas. Sebab yang ia ikuti hanya satu perintah dan pasti benar. Orang yang berjalan di atas jalan yang lurus dan pasti mengarah kepada tujuan yang diingankan, ia akan merasa tenang. Pandangannya selalu mengarah ke depan, tidak disibukkan oleh hal-hal yang tidak ada gunanya. Jalannya lancar, karena ia yakin bahwa arah yang ditempuhnya pasti mengantarkan kepada tujuan. Pun ia tidak berhenti sana-sini, karena yang ia ikuti hanya satu komando. Komando Allah Tuhannya yang ia tuju sebagai tempat kembali. Manusia tauhid dengan gambaran di atas, ia pasti tenang dan bahagia, demikian juga seorang yang hanya tunduk pada satu komando dalam pekerjaan apapun, apalagi dalam beramal jama’i di jalan dakwah, sungguh akan mengalami hal yang sama. Karenanya kemudian Allah menutup ayat di atas dengan mengajarkan agar seorang yang mencapai nikmat tauhid ini, hendaknya bersyukur kepadaNya. Sebab hanya dengan tauhid ketenangan dan kebahagiaan akan teraih. Perhatikan Allah berfirman: segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui. Benar, sangat disayangkan karena ternyata mayoritas manusia tidak bertauhid. Kalaupun mereka telah ber-Islam tetapi mayoritas dari mereka yang ber-Islam tidak bersungguh-sungguh menegakkan makna tauhid ini dalam kehidupannya. Karena itulah Allah menegaskan: tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui.
Wallahu a’lam bishshawab.