Tuesday, July 29

Pelajaran Berharga Dari Peristiwa Uhud

amirfath.com, Sirah (02), Nov 2020 –Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud). Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar). Kamy berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (3:165)

Ayat di atas menggambarkan kondisi umat Islam pada saat mengalami kekalahan perang Uhud. Mereka kehilangan tujuh puluh syuhada, dtambah lagi dengan sejumlah korban luka-luka. Padahal mereka berjuang di jalan Allah. Sementara musuh mereka orang-orang kafir berjuang di jalan syetan. Sebelumnya, pada saat perang Badr, mereka menang, dan bisa menggugurkan tujuh puluh orang, serta bisa menangkap tujuh puluh tawanan dari pasukan kafir. Mengapa kekalahan itu terjadidi Uhud, padahal jumlah mereka di Uhud, padahal jumlah mereka di Uhud lebih banyak dari pada di Badar? Ayat di atas menjawab pertanyaan ini.

Kerapian Sistem “Sunnatullah”

                Allah swt. Berfirman: “Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada perang Badar) kamu berkata: dari mana kekalahan ini?” Maksudnya: mengapa kamu mempertanyakan kekalahanmu? Apakah kamu mengira bahwa kamu tidak akan pernah kalah sekalipun kamu lalai akan tugas-tugasmu? Apakah kamu tetap yakin bahwa Allah akan menolongmu, sementara kamu tidak komitmen dengan sunnatullah?  Tidak, tidak demikian pemahaman yang harus kamu jalani dalam berjuang di jalan Allah.

                Allah swt. Telah meletakkan sisitemNya (baca: sunnatullah) di alam ini dengan sangat rapi. Siapa yang mengikuti sisitem ini dengan baik ia akan berhasil, dan siapa yang mengabaikannya ia akan gagal. Tidak ada langkah dan perbuatan kecuali harus seirama dengan sistem yang sudah ada. Termasuk dalam menjalankan tugas dakwah komitmen ini juga harus selalu dipertahankan, jangan sampai ada langkah apapun yang kemudian menyebabkan hancurnya semua usaha yang telah dibangun. Seorang aktifis dakwah harus selalu menyadari makna ini, karena tidak mustahil sebuah kesalahan kecil yang dianggap remeh, lama kelamaan akan menjadi besar.

                Ayat di atas setidaknya telah memberikan pelajaran, bahwa para aktifis dakwah harus selalu mempertahankan kualitas amal: amal secara fardiyah maupun amal secara jamaiyah. Menurunnya kualitas amal fardiyah tidak mustahil akan berdampak pada kualitas amal jamaiyah. Dan menurunnya kualitas amal jamiayah sudah barang tentu akan berdampak kepada masyarakat umum secara lebih luas. Dampak tersebut bila sudah terjadi, ia akan menimpa siapapun, tidak pandang bulu. Ayat di atas adalah gambaran kekalahan yang menimpa masyarakat sahabat di dalamnya ada Rasulullah saw.

                Perhatikan, siapa yang akan mengira bahwa masyarakat sekualitas sahabat dipimpin langsung oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam. akan mengalami kekalahan? Tetapi ternyata itu terjadi, hanya karena kelengahan segelintir dari mereka. Lengah terpedaya oleh harta rampasan yang berserakan. Suatu tindakan yang kemudian membuat mereka lalai akan tugas yang harus mereka perjuangkan.

                Seringkali terjadi memang, ketika kemenangan dicapai, orang tertipu dengan keberhasilan. Seakan perjalanan sudah selesai. Sehingga ia tidak hati-hati lagi seperti kehati-hatiannya dulu sebelum kemenangan dicapai. Lebih-lebih ketika harta melimpah seperti yang ditemukan pasukan kaum muslimin di Uhud, mereka seketika tertipu dengan secuil harta yang sebenarnya tidak ada apa-apanya dibanding dengan kenikmatan di surga. Ketertipuan itu membuat mereka lupa kepada pesan pertama Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam, agar tetap bertahan pada posisinya sampai ada perintah lebih lanjut. Itulah yang kemudian terjadi, mereka kemudian kalah, buah dari kekalahan yang mereka perbuat. Karenanya Allah menegaskan: qul huwa min indi anfusikum (Katakanlah: “Itu (kesalahan) dirimu sendiri”).

Kesalahan Diri Sendiri

                Firman Allah: qul huwa min indi anfusikum, menegaskan makna yang sangat dalam mengenai beberapa hal: Pertama bahwa Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Tidak pernah berbuat dzalim. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak berbuat dzalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi mereka itulah yang berbuat dzalim kepada diri mereka sendiri”. (QS. Yunus 10:44).

                Di ayat lain Allah menceritakan bahwa umat terdahulu pernah diadzab karena perbuatan mereka sendiri: “Maka mereka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” (QS. Al Ankabuut 29:40).

                Maka setiap bencana dan malapetaka yang manusia alami asal muasalnya adalah perbuatan manusia itu sendiri: “Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang yang sebelum mereka? Orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah dateng kepada mereka rsul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri (QS. Ar Rum 30:9)

                Kedua, bahwa setiap musibah yang menimpa manusia, itu tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan ada sebab-sebab yang mendahuluinya. Di sini nampak bahwa kualitas pekerjaan apapun sangat ditentukan oleh manusianya. Lebih-lebih bila pekerjaan tersebut tergolong amal dakwah, maka sungguh sangat menuntut keistiqamahan pelakunya dalam menjalankan kewajibannya kepada Allah. Semakin sungguh-sungguh seorang aktifis dakwah dalam menjalani hakikat kehambaanNya kepada Allah, maka juga akan semakin produktif dakwah yang dijalaninya. Sebaliknya bila seorang aktifis mulai tertipu dengan gemerlap dunia seperti tertipunya pasukan Uhud pada saat menemukan tanda-tanda kemenangan, maka di situlah titik runtuhnya amal dakwah itu akan bermula.

                Inilah pengertian dari firmanNya: qul huwa min indi anfusikum. Maksudnya: kegagalan itu dari dirimu sendiri, dirimu yang tertipu dengan gemerlap dunia, sehinggakemudian amal dakwah kau kesampingkan. Maka bila dakwah yang kau lakukan tidak  memberikan keberkahan, melainkan malah menyeret fitnah dan kemunkaran itu asal-muasalnya adalah perbuatan pelakunya. Boleh jadi seseorang yang tadinya tulus berdakwah, tetapi kemudian setelah dunia mulai melimpah, ia berubah haluan, dunia malah menjadi tujuan.

                Orang yang seperti ini akan mendapatkan akibat dari perbuatannya sendiri, di mana akibat tersebut bisa jadi akan menimpa semua orang tak terkecuali, seperti kekalahan yang telah menimpa para dahabat dan Rasulullah dimedan Uhud. 

                Ketiga, bahwa perjuangan seorang aktifis dakwah untuk tetap istiqamah dalam menjalani kewajibannya, adalah bagian dari sunnatullah yang harus selalu dipertahankan. Sedikit lengah dan tertipu oleh kepentingan sesaat, ia akan terjerembab ke dalam kegagalan. Dakwah yang diucapkan akan menjadi sekedar jargon tanpa jiwa. Akibatnya Allah Subhanallahu wa Ta’ala tidak akan menurunkan bantuanNya. Bila Allah menolak untuk membantunya, maka itu suatu tanda hilangnya keberkahan dalam kerja dakwah tersebut. Bila keberkahannya hilang, jangan harap amal dakwah yang ditawarkan akan menjadi bermanfaat, melainkan malah akan menjadi ancaman bagi pelakunya. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat”? amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. (QS. Ash Shaf 61:2)

                Perhatikan betapa kerja dakwah sangat menuntut masing-masing aktifisnya untuk senantiasa mempertahankan dan meningkatkan kualitas kepribadiannya: baik sebagai hamba Allah yang tercermin dalam kekhusyukan ibadahnya, maupun sebagai aktifis yang selalu menjadikan dakwah sebagai medan utama perjuangannya.

                Dari sini jelas, bahwa perjuangan di jalan dakwah menuntut ketabahan pelakunya dalam menjaga secara terus-menerus kualitas dirinya, kualitas ketaatannya kepada Allah dan kualitas amal dakwahnya. Kualitas yang benar-benar mencerminkan makna kesungguhan, keseriusan dan pengorbanan secara jujur (baca: itqaan) dalam menjalankan tugas-tugas dakwah yang dipikulnya. Inilah yang kita kenal dengan istilah: al muhafadzah alaa jaudatil junuud (memelihara kwalitas aktifis dakwah).

Keharusan Memelihara Dan Meningkatkan Kwalitas Diri

                Pengertian lebih lanjut dari makna ayat: qul huwa min indi anfusikum adalah bahwa kualitas diri merupakan faktor penentu dari berhasil tidaknya sebuah usaha apapun, lebih-lebih amal dakwah. Terutama ketika amal dakwah tersebut sudah berjalan, dan mulai merambah tanda-tanda keberhasilan. Di sini upaya pemeliharaan dan peningkatan kualitas diri sangatlah diperlukan. Sebab tanpa pemeliharaan dan peningkatan amal dakwah pasti akan mengalami penurunan. Bahkan tidak mustahil tumbuhnya gesekan-gesekan internal akan selalu terjadi. Dari, gesekan-gesekan ini kemudian muncul gelembung perpecahan yang pada gilirannya menghanyutkan hasil usaha yang sudah dibangun sekian lama. Perhatikan peristiwa perang Uhud yang tadinya umat Islam sudah mendekati kemenangan, namun akhirnya malah berbalik menjadi kekalahan, di mana sebab utamanya adalah: qul huwa min indi anfusikum. Artinya, mereka tidak bisa memelihara kualitas diri yang membuat mereka menang, padahal mereka pernah mencapainya di perang Badar dan dipermulaan perang Uhud. Anehnya kualitas diri tersebut malah mereka lepaskan, dan dari situlah kemudian mereka tidak memenuhi syarat untuk menang, karenanya mereka kalah.

                Oleh sebab itu, pemeliharaan dan peningkatan kualitas diri adalah merupakan keniscayaan untuk terus melanjutkan perjuangan dakwah. Sebab tidak mungkin sebuah perjalanan dakwah akan terus berlangsung dengan baik, apalagi meningkat, bila di tengah jalan para aktifisnya mengalami degradasi.

                Kerja dakwah adalah kerja yang tidak mungkin  dipikul oleh segelimtir orang, melainkan harus dipikul bersama-sama. Karenanya yidak mungkin dalam hal ini hanya mengandalkan kerja keras sebagian orang lalu yang lain tidak mengimbanginya.

                Dakwah menuntut keseimbangan secara utuh dalam segala dimensinya: dimensi spiritual, intelektual, material, dan moral. Seorang aktifis dakwah adalah seorang selalu memelihara hakikat ini secara seimbang dalam dirinya dan dalam kebersamaan dengan  yang lain. Bila kesimbangan ini hilang, tentu akan terjadi ketimpangan. Dan dari ketimpangan ini kemudian muncul kegagalan. Kegagalan perang Uhud seperti yang ditegaskan dalam ayat di atas adalah contoh nyata yang sangat jelas.

                Sampaipun peperangan tersebut dipimpin langsung oleh Rasulullah saw, tetapi karena kesalahan sebagian dari mereka yang tidak sanggup memelihara kualitas diri, akhirnya mengakibatkan semuanya menjadi berantakan. Penyakit ini sering kali terjadi dalam perjalanan dakwah.

                Bila diawal langkahnya para aktifis selalu semangat, tetapi ditengah perjalanan semangat membara itu seringkali kehabisan nafas. akibatnya dakwah menjadi korban. Karenanya Allah tutup ayat di atas dengan penegasan: “. Innallaha ‘laa kulli sya’in qadiir (sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu). Itu untuk menggambarkan ketegasan sunnatullah (baca: sebab akibat). Bahwa Allah Maha Kuasa menjalankan sunnahNyatersebut secara sempurna. Tidak bisa ditawar-tawar. Siapa yang sungguh-sungguh mengikuti sunnah tersebut akan berhasil dan siapa yang mengabaikannya ia akan gagal sekalipun ia beriman kepadaNya.

                Manusia diciptakan oleh Allah bukan untuk menandingiNya. Sehebat-hebatnya manusia, ia tidak akan pernah mampu menandingi kekuasaanNya. Allah tetap Maha Kuasa dan manusia tetap maha lemah di hadapanNya. Maka ketika Allah membekali akal dan segala keilmuan kepada manusia itu semuanya tidak akan pernah mencapai level kekuasaanNya. Karenanya ia tidak bisa independen total dari Allah. Ia dengan segala pencapaiannya tetap harus tunduk kepadaNya. Lebih dari itu ia juga harus tetap memelihara ketundukan ini secara maksimal sampai ia lakukan ia akan berhasil tidak saja secara personal, melainkan juga secara sosial dalam kebersamaannya dengan yang lain. Sebaliknya bila ia gagal memelihara dan meningkatkan tingkat ketundukan yang pernah ia capai, ia pasti akan gagal, tidak saja di dunia melainkan juga di akhirat.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author