Monday, August 11

Kepemimpinan dan Iktikaf

amirfath.com, Artikel (247), April 2023

Secara khusus pembahasan tentang program Ramadhan digambarkan dalam surah al-Baqarah [2]: 183-187. Di pengujung ayat 187, ada pesan tentang iktikaf (Wa laa tubaasyiruuhunna wa antum ‘aakifuuna fil masaajid).

Sebagimana kita ketahui bahwa tema pokok surah al-Baqarah adalah tentang kepemimpinan. Maka dibahasnya iktikaf dalam surah ini tentu tidak bisa dipisahkan dengan tema pokok tersebut.

Bahwa seorang pemimpin sebagai wakil Allah di bumi (khalifatullah fil ardh) harus selalu menguatkan hubungan dengan-Nya. Ramadhan adalah bulan di mana Allah SWT membina hamba-hamba-Nya agar mengendalikan hawa nafsu.

Terutama bagi para pemimpin yang di tangannya berbagai kemampuan untuk berbuat apa saja. Sungguh runtuhnya sebuah negeri sepanjang sejarah manusia adalah karena rusaknya para pemimpin.

Dalam Alquran, Allah SWT menyebutkan seorang pemimpin dengan istilah ulil amr. Memang perintah menaati ulil amr terdapat pada urutan ketiga setelah perintah menaati Allah dan Rasul-Nya (Athi’ullaha wa athii’ur rasuula wa ulil amri minkum) (QS an-Nisa [4]: 59).

Di sini jelas bahwa redaksi untuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya digunakan perintah “athi’uu” secara khusus. Sedangkan, untuk ulil amri tidak ada kata athi’uu. Ini maksudnya bahwa kewajiban menaati ulil amri berlaku selama mereka dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Seorang pemimpin sebagai wakil Allah SWT di muka bumi harus benar-benar mempunyai waktu khusus untuk Allah SWT. Di antara yang paling baik dari waktu khusus tersebut adalah dengan cara iktikaf.

Dari sini kita mendapatkan korelasi antara iktikaf dan kepemimpinan. Bahwa seorang pemimpin sebagai wakil Allah SWT di muka bumi harus benar-benar mempunyai waktu khusus untuk Allah SWT. Di antara yang paling baik dari waktu khusus tersebut adalah dengan cara iktikaf.

Iktikaf adalah acara puncak Ramadhan. Di mana para hamba Allah SWT benar-benar mengkhususkan diri di masjid. Selama iktikaf seorang hamba tidak ada aktivitas yang bersifat keduniaan.

Mereka benar-benar fokus menghubungkan dirinya dengan langit. Yaitu dengan memperbanyak zikir, membaca Alquran, menegakkan shalat malam, dan sebagainya. Di sanalah para hamba akan merasakan kelezatan tak terhingga bersama Allah SWT.

Mereka tidak boleh keluar masjid kecuali karena ada hajat seperti untuk mengambil makanan atau ke toilet dan sebagainya. Hubungan dengan langit yang sangat intensif ini ibarat HP yang sedang di-charging.

Cara terbaik HP tersebut harus dalam kondisi hibernasi supaya pengisiannya maksimal. Hiberasi ini ibarat iktikaf yang dengannya power keimanan akan menjadi optimal. Seorang pemimpin dengan iktikaf ini diharapan benar-benar mempunyai power keimanan yang tinggi.

Hubungan dengan langit yang sangat intensif ini ibarat HP yang sedang di-charging.

Itulah mengapa Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan iktikaf sepuluh hari terakhir Ramadhan seumur hidupnya. Pada tahun Rasulullah SAW wafat, ia beriktikaf selama 20 hari. Bahkan jauh sebelum diangkat jadi nabi, Rasulullah SAW suka menyendiri di gua Hira untuk beribadah (hubbiba iliahil khala’) (HR Bukhari).

Kata alkhala’ artinya atta’abbud munfaridan (menyendiri sambil beribadah). Dari sini kemudian Nabi SAW mendapatkan wahyu, yaitu lima ayat pertama dari surah al-Alaq sebagai bukti kenabiannya.

Bila ibadah shalat lima waktu merupakah cara harian untuk memastikan hubungan dengan Allah SWT, maka setiap tahun minimal sepuluh hari berkitikaf, mengkhusukan diri di masjid, hanya untuk beribadah kepada-Nya.

Memang tidak semua orang Islam tertarik untuk iktikaf. Di akhir Ramadhan banyak sekali kaum muslimin yang meghabiskan waktunya untuk hal yang sia-sia, seperti belanja di mal atau mudik. Sementara ibadah iktikaf yang seharusnya diutamakan ternyata dilewatkan begitu saja.

Padahal dengan iktikaf, seorang hamba akan terbantu melakukan shalat malam secara optimal. Sehingga dengannya akan mudah mendapatkan malam al-Qadar. Dengan kata lain, iktikaf adalah program khusus dari Allah SWT untuk para hamba-Nya agar lebih maksimal dalam memburu malam al-Qadar.

sumber : https://www.republika.id/posts/39598/kepemimpinan-dan-iktikaf

About Post Author