Manusia dan Tipu Daya Setan
amirfath.com, Artikel (246), April 2023
Siapapun yang membaca surah al-Baqarah akan mendapatkan gambaran bahwa manusia memang dipersiapkan untuk memimpin di muka bumi (Innii ja’ilun fil ardhi khalifah) (QS al-Baqarah [2]: 30).
Karena itu, Allah SWT menjadikan manusia pertama sebagai nabi dan rasul sekaligus, yaitu Nabi Adam AS. Ini supaya keturunannya dikawal langsung olehnya agar tidak ada yang menyimpang dari manhaj yang Allah SWT ajarkan. Sekalipun memang tidak bisa dipungkiri munculnya fenomena Qabil (putra Nabi Adam) yang tidak mau patuh kepada ajaran wahyu.
Setelah itu, Allah SWT mengutus nabi-nabi dan rasul yang sangat banyak jumlahnya untuk membimbing manusia di berbagi belahan bumi (Minhum man qashsasnaa ‘alaika wa minhum man lam naqshushum ‘alaika) (QS Ghafir [40]: 78).
Maksdunya bahwa nabi-nabi yang kita kenal adalah yang disebutkan namanya dalam Alquran, sementara nabi-nabi lain masih banyak yang tidak diceritakan. Memang waktu itu belum ada teknologi komunikasi canggih seperti sekarang. Karenanya jumlah para nabi terus ditambah sejalan dengan pertumbuhan jumlah manusia agar tetap dalam hidayah-Nya.
Allah SWT mengutus nabi-nabi dan rasul yang sangat banyak jumlahnya untuk membimbing manusia di berbagi belahan bumi.
Namun perjalanan dakwah kenabian tidak semulus yang kita bayangkan. Sebab, ada saja orang-orang yang mengingkarinya seperti fenomena kaum Aad, Tsamud, kaum Nabi Luth, Firaun, dan kaum Nabi Syuaib. Kisah-kisah kekafiran tersebut diulang-ulang dalam Alquran supaya menjadi pelajaran bagi genarasi sesudahnya.
Nabi terakhir adalah Rasulullah SAW yang lahir darinya genearsi sahabat sebagai generasi terbaik. Lalu genarasi tabiin, setelah itu genarasi tabiit taabiin. Pelanjutnya kemudian adalah para ulama yang bermunculan di berbagai generasi.
Sebagaimana Allah SWT mengawal manusia agar selalu istiqamah di jalan-Nya. Di saat yang sama, setan juga sedang berjuang habis-habisan untuk menyesatkan mereka.
Iblis sebagai panglima setan telah minta izin kepada Allah SWT agar dipanjangkan usianya supaya bisa melakukan tipu daya sepanjang zaman (Qaala anzhirnii ilaa yaumi yub’atsuun). Allah SWT mengizinkannya (Qaala innaka minal munzhariin).
Kata “anzhirni” makanya “amhilnii” (tangguhkan). Maksudnya, usia iblis ditangguhkan oleh Allah SWT sampai hari kiamat (Ilaa yaumi yub’atsuun) (QS al-A’raf [7]: 14) sebagai ujian bagi manusia. Memang iblis sesumbar akan menggunakan segala cara agar bisa menyesatkan manusia. Terutama di tempat-tempat yang baik (La’aq’udanna lahum shiraathakal mustaqiim) (QS al-A’raf [7]: 16).
Di sini iblis akan menggencarkan godaanya dari semua arah: depan, belakang, kiri, dan kanan (Tsumma laatiyannahum mim baini aidiihim wa min khalfihim wa ‘an syamaailihim) (QS al-A’raf [7]: 17).
Bagi yang kuat imannya, ia akan selamat dari godaanya. Sebab, iblis mengakui sendiri bahwa ia tidak akan mampu menggoda mereka yang ikhlas.
Bagi yang kuat imannya, ia akan selamat dari godaanya. Sebab, iblis mengakui sendiri bahwa ia tidak akan mampu menggoda mereka yang ikhlas (Wa laughiyannahum ajma’iin illaa ‘ibaadaka minhumul mukhlashiin) (QS al-Hijr [15]: 40).
Syekh As-Sa’di menjelaskan makna almukhashiin dengan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah memilih jalan ikhlas untuk menaati Allah, maka Allah juga ikhlas kepada mereka sehingga mereka benar-benar mempunyai iman dan tawakal yang kokoh. Tetapi jumlah yang mencapai derajat ini sangat sedikit (Wa qaliilum min ‘ibadiyasy syakuur) (QS Saba’ [34]: 13).
Kata “syakuur” maksudnya adalah orang-orang yang benar-benar menggunakan nikmat Allah SWT dalam ketaatan kepada-Nya. Sementara perjuangan setan fokus untuk menghalangi proses syukur ini (Wa laa tajidu akhtsarahum syaakiriin) (QS al-A’raf [7]: 17).
Itulah mengapa kita menemukan di berbagai belahan bumi orang-orang yang secara ekonomi sudah mapan, tetapi di saat yang sama mereka mengalami stres yang penuh histeris, sampai ke tingkat harus mengonsumsi hal-hal yang memabukkan dan bahkan sampai mereka bunuh diri.
Itu pasti jawabannya karena mereka tidak ikut Allah SWT, tetapi ikut tipu daya setan. Mereka tampak sempoyongan karena kesurupan oleh setan (Laa yaquumuuna illaa kamaa yaquumulladzii yatakhabathuhusy syaithaanu minal mass) (QS al-Baqarah [2]: 275).
sumber : https://www.republika.id/posts/39579/manusia-dan-tipu-daya-setan