Al Baqarah : 47 – 53
Teguran dan Ancaman Kepada Kaum Yahudi
Dr. Amir Faishol Fath
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ . وَاتَّقُوا يَوْمًا لَّا تَجْزِي نَفْسٌ عَن نَّفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ . وَإِذْ نَجَّيْنَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُم بَلَاءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ . وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ . وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَىٰ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ . ثُمَّ عَفَوْنَا عَنكُم مِّن بَعْدِ ذَٰلِكَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ . وَإِذْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَالْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa’at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong. Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan. Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahan) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim. Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu, agar kamu bersyukur. Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa Al Kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk (QS. 2: 47- 53)
Rahasia Urutan Ayat
Pada ayat sebelumnya Allah swt. telah menggambarkan keburukan akhlak Bani Israil, bahwa mereka telah menyembunyikan kebenaran Rasulullah saw. sebagai utusan Allah swt. dan telah menjadi orang yang pertama kali kafir, pun mereka menolak untuk ikut shalat seperti shalatnya orang Islam, padahal itu perintah Allah swt. dan bahkan itu semua telah tertera dalam kitab suci mereka. Perhatikan bagaimana mereka benar-benar berani kepada Allah dan RasulNya. Bahkan mereka berani mengubah kandungan kitab suci yang Allah swt. turunkan. Ini sungguh kebejatan morah kaum yang Yahudi yang tak terhingga.
Karenanya Allah swt. pada ayat ini dan ayat-ayat berikutnya menyebutkan beberapa nikmat yang pernah Allah berikan kepada mereka. Agar mereka sadar bahwa mereka tidak pantas berbuat maksiat kepada Allah yang telah memberikan nikmat-nikmat yang banyak kepada mereka. Bahwa tidak benar mereka membalas nikmat-nikmat Allah yang sangat agung itu dengan perbuatan dosa. Dan di antara nikmat-nikmat itu adalah datangnya Nabi terakhir sebagai nabi yang harus mereka ikuti. Dan Nabi tekahir ini telah dijelaskan oleh Allah swt. sifat-sifatnya dalam kitab suci mereka. Di sini seakan Allah mengatakan: wahai Bani Israil ingatlah nikmat-nikmatKu yang telah Aku berikan kepadamu, sungguh telah Aku utus kepadamu rasul-rasul, dan di antara nikmat itu adalah bahwa Aku telah menjelaskan dalam kitab suci yang Aku turunkan kepadamu tentang nabi terakhir yaitu Rasulullah saw. Pun ingatlah bahwa Aku telah menjelaskan sifat-sifatnya dalam kitab Taurat dan dan Injil. Maka jika kamu mengingkari kerasulannnya berbarti kamu telah mengikari kitab Taurat dan Injil.
Dengan ini jelas bahwa kaum Yahudi sebenarnya telah tidak beriman kepada kitab suci mereka sendiri: Taurat dan Injil, dengan mengingkari kerasulan Rasulullah saw. Lebih dari itu mereka otomatis telah menolak kedua kitab suci tersebut setelah mengubah sebagian isinya, yaitu dengan menghilangkan sifat-sifat Rasulullah saw. Inilah maksud firman Allah swt. : Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): “Raa’ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis. (QS. 4: 46)
Pun dengan penjelasan di atas nampak bahwa kaum Yahudi sebenarnya harus juga beriman kepada Rasulullah saw. Beriman bahwa ia adalah nabi terakhir yang datang untuk meluruskan apa yang telah mereka ubah dalam kitab suci mereka. Dan dengan beriman ini mereka akan terus mendapatkan nikmat Allah swt., sebab tidak mungkin nikmat akan diberikan jika mereka terus menerus dalam kekafiran. Maka dengan menolak beriman kepadanya, otomatis mereka menjadi kafir dan otomatis akan dicabut dari mereka nikmat-nikmat yang pernah Allah berikan kepada mereka.
Jagalah Dirimu Dari Adzab
Allah swt. berfirman : “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa’at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong”. Dalam ayat ini Allah swt. memanggil kaum Yahudi dengan sebutan Bani Israil, untuk mengingatkan mereka kepada ayah mereka Israil (yaitu nabi Ya’qub alaihissalam). Pun untuk menarik hati mereka agar segera kembali kepada kebenaran yang telah mereka ketahui yaitu ikut Rasulullah saw.
Adapun maksud dari “nikmat” adalah nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada pendahulu mereka, yaitu dengan diutusnya nabi-nabi kepada mereka yang jumlahnya sangat banyak dan ini tidak diberikan kepada umat-umat yang lain. Inilah yang dimaksud dengan kata “tafdhiil” dalam ayat berikutnya : “dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat”. Selain makna tersebut bisa juga kata “tafdhiil” dipahami bahwa Allah melebihkan mereka atas umat lainnya selama mereka patuh kepada Allah swt. dan beriman kepada semua rasulNya, tanpa membeda-bedakan di atara mereka, termasuk juga beriman kepada Rasulullah saw. sebagai nabi terakhir. Tetapi jika mereka tidak patuh kepada Allah dan RasulNya maka keistimewaan tersebut dicabut dan tidak akan mereka mendapatkannya. Sungguh salah apa yang mereka pahami selama ini, bahwa kata “tafdhiil” tersebut maksudnya adalah bahwa hanya mereka sebagai “bangsa pilihan Allah” (sya’bullahil mukhtaar). Lalu mereka menganggap selain mereka sebagai binatang yang tidak ada harganya dan boleh dibunuh kapan saja.
Lalu setelah itu Allah swt. memberikan pesan pemungkas sekaligus ancaman, agar mereka tidak mengulangi lagi akhlak yang buruk seperti pendahulu mereka. Lebih dari itu dalam pesan tersebut tersirat penolakan terhadap paham bahwa mereka adalah bangsa yang disitimewakan oleh Allah swt.. Allah berfirman : “Dan jagalah dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa’at dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong”. Di sini seakan Allah swt. mengatakan kepada mereka dan kepada semua manusia: “Bahwa tidak ada umat yang distimewakan, dan tidak ada seorangpun yang aman dari adzabKu –kata Allah- kecuali yang benar-benar patuh kepadaKu, dan rasulKu, maka pada hari Kiamat nanti semua akan mempertanggungjawabkan amal mereka sendiri-sendiri. Semua relasi, keturunan dan perantara tidak ada gunanya. Yang berguna pada waktu itu hanya amal salih.
Ingatlah Nikmat-nikmat Allah
Lalu pada ayat berikutnya, Allah swt. mengingatkan kaum Yahudi akan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada mereka. Supaya mereka tahu diri dan tersadar dari kesalahan yang telah mereka perbuat. Kesalahan menyembunyikan kebenaran, kesalahan menolak beriman kepada Rasulullah saw. dan lain sebagainya. Dalam pembahasan ini disebutkan empat nikmat lalu sisanya akan disebutkan pada pembahasan yang akan datang.
Pertama, nikmat diselamatkannya mereka dari kekejaman Fir’un, di mana waktu itu Fir’un bertekad akan membunuh setiap anak laki-laki mereka yang baru lahir dan membiarkan hidup anak bayi perempuan. Dan Fir’un benar-benar melaksanakan tekadnya ini. Sebagian ada yang tertimpa adzab ini dan sebagian ada yang selamat. Tekad ini berasal dari sebuah mimpi. Bahwa suatu malam Fir’un bermimpi ada titik api menyala lalu menyebar dan masuk ke rumah-rumah penduduk Mesir kecuali rumah-rumah Bani Israil. Lalu mimpi itu ditafsirkn bahwa akan lahir seorang anak laki-laki dari kalangan Bani Israil yang kelak akan menghancurkan kerajaan Fir’un. Berangkat dari penafsiran ini Fir’un langsung melakukan tindakan, yaitu membunuh setiap anak bayi laki-laki dari Bani Israil dan membiarkan anak-anak bayi perempuan mereka hidup. Namun Allah swt. menyelamatkan mereka dari kekejaman ini. Inilah makna firman Allah : “Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu”. Maksudnya, bahwa dalam peristiwa ini ada cobaan dari Allah swt. Cobaan bagi yang selamat apakah mereka akan bersyukur? Dan cobaan bagi yang tertimpa musibah apakah mereka akan bersabar?. Dan cobaan bisa berupa kebaikan atau kenikmatan pun juga berupa keburukan atau bencana. Allah swt. berfirman : Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. 21: 35) dan dalam ayat lain Allah swt. berfirman : Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (QS. 7: 168)
Kedua, nikmat diselamatkannya mereka dari pengejaran Fir’un. Yaitu dengan dibelahnya laut Merah, setelah dipukul dengan tongkat Nabi Musa as. Sebagai mukjizat yang Allah berikan kepadanya, sebagaimana mukijazat-mukijzat yang diberikan kepada nabi-nabi lainnya. Ketika lau nampak seketika membelah dirinya seperti terdapat sebuah dinding yang menghalanginya. Sehingga Bani israil bisa menyembrangi laut tersebut di atas hamparan dasar laut. Lau di saat yang sama ketika Fir’un dan pasukannya ikut menyebrangi belahan tersebut, seketika air laut menyatu dan menenggelamkan Fir’un beserta pasukannya. Inilah maksud ayat dalam firman Allah pada ayat di atas : Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.
Ketiga, nikmat diterimanya taubat setelah mereka berbuat dosa. Yaitu pada saat Nabi Musa as. Dipanggil menghadap Allah swt. ke bukit Tursina untuk meneriman wahyu, selama empat puluh hari, tiba-tiba mereka membuat patung sapi dari emas lalu menymebahnya sebagai tuhan. Ini sungguh suatu kedzaliman yang nyata. Tetapi Allah swt. masih mengampuni mereka mereka. Inilah maksud firman Allah swt. : Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kamu menjadikan anak lembu (sembahan) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zalim. Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahanmu, agar kamu bersyukur.
Keempat, nikmat diturunkannya kitab Taurat kepada Nabi Musa as. Sebagai panduan bagi Bani Israil agar mereka hidup di jalan yang benar, dengan memahami kandungannya dan mengambil tuntunannya. Makan dengan panduan ini mereka tahu apa yang halal dan apa yang haram, pun dengannya mereka tahu mana yang baik untuk diikuti dan mana yang baruk untuk dijauhi. Ini sungguh suatu nikmat yang agung sebab nikmat ini diberikan setelah mereka diselamatkan dari kekejaman Fir’un dan dari ketenggelaman di laut merah. Pun dengan nikmat ini mereka akan bahagia di dunia dan akhirat. Allah swt. berfirman : . Dan (ingatlah), ketika Kami berikan kepada Musa Al Kitab (Taurat) dan keterangan yang membedakan antara yang benar dan yang salah, agar kamu mendapat petunjuk.