Tuesday, July 29

Al Baqarah : 28

Teguran Bagi Orang Kafir

Dr. Amir Faishol Fath

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (28)

Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?

Rahasia Urutan Ayat

Pada ayat sebelumnya Allah swt. menjelaskan tentang orang-orang yang rugi (khasiruun). Mereka adalah orang-orang yang tidak mau patuh kepada Allah. Mereka mengira dunia ini kekal selamanya. Karenanya mereka bekerja keras untuk urusan dunianya. Mereka gigih dan siap membayar mahal untuk mepersiapkan kehidupan dunia mereka. Sementara kehidupan akhirat mereka abaikan. Perhatikan bagaimana mereka berlomba-lomba dengan penuh kebanggan menyekolahkan anak-anak mereka ke luar negeri. Sementara untuk belajar ilmu iman mereka anggap tidak penting. Bahkan mereka tidak mau mengeluarkan biaya sama sekali. Mereka tidak yakin bahwa sebentar lagi mereka akan mati. Mungkin sehali lagi, dua hari lagi atau sepekan lagi, atau sebulan lagi, atau setahun lagi. Dan kenyataan menunjukkan bahwa banyak orng-orang yang meninggal dunia pada saat masih muda. Intinya bahwa mereka kafir, tidak beriman kepada Allah dan hari Kimat. Karena itu mereka lalai dan sibuk mengejar masa depan yang rentan. Sementara masa depan akhirat yang pasti mereka kesampingkan.  

            Karena itu pada ayat berikutnya Allah swt. menyayangkan mengapa mereka kafir. Mengapa mereka tidak mau patuh kepada Allah swt. Mengapa mereka membesar-besarkan dunia yang pasti hancur dan pasti akan mereka tinggalkan. Bukankah mereka kelak pasti akan kembali kepada Allah. Lalu apa yang akan mereka akan banggakan, jika ternyata kelak mereka menghadap Allah tidak membawa apa-apa. Tidak membawa amal salih yang Allah banggakan. Sungguh tidak ada sukses bagi mereka kafir, kereha seluruh kesibukan mereka hanyalah persiapan menuju neraka.

Mereka Tidak Punya Alasan

          Allah swt. berfirman : “Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” Ini pertanyaan bukan untuk dijawab, tetapi menyayangkan mengapa mereka kafir (litta’jiib). Benar mereka sangat disayangkan, mengapa mereka tidak mau menggunakan akal mereka melihat bukti-bukti kekuasaan Allah. Sehingga mereka tidak tahu bagaimana cara hidup di muka bumi ini. Perhatikan bagaimana Allah swt. mengajak mereka agar melihat bukti-bukti keluasaan Allah pada ayat-ayat sebelumnya. Mereka diajak melihat penciptaan diri mereka, lalu penciptaan langit dan bumi (lihat ayat 21-22). Setelah itu mereka diajak agar meyakini kebenaran Al Quran (lihat ayat : 23-24). Namun ternyata mereka tetap membuat kerusakan di muka bumi. Mereka memutuskan tali silaturrahim yang Allah perintahkan. Maka pada ayat ini pembicaraan lebih serius lagi, yaitu mengani kehidupan dan kematian yang tidak mungkin mereka pungkiri.

            Di sini seakan Allah berkata kepada mereka yang kafir : Apa alasanmu menjadi kafir? Bukankah Aku telah membuatmu menjadi hidup dan membuatmu menjadi mati. Kamu tidak ada bisa berdaya kalau tida Aku hidupkan. Dan apapun tingkat keberhasilan yang kamu capai di dunia, suatu saat kamu pasti akan mengakhirinya. Bila ini kamu sadari secara mendalam kamu pasti akan beriman dan siap patuh kepadaKu. Namun sayang, banyak manusia tidak menyadari hakikat ini. Sehingga mereka lalai. Mereka terlena dengan uang. Mereka menganggap uang adalah segalanya. Sehingga mereka lebih siap patuh kepada siapa yang memberi uang dari pada kepada Allah yang memberikan kehidupan.

Seharusnya mereka segera menyadari akan hal tersebut dan berkata : bahwa aku tadinya tidak ada, lalu aku diadakan dari segumpal mani, lalu akau diproses oleh Allah dalam rahim ibuku sehingga akau menjadi manusia. Lalu aku dilahirkan ke dunia untuk menjalani hidup sampai waktu yang telah ditentukan. Di dunia, juga aku hidup karena pertolnganNya. Segala fasilitas hidup disediakan bagiku. Aku butuh oksigen dan netrogen untuk bernafas, ternyata telah disediakan oleh Allah secara cuma-cuma. Bayangkan, kalau setiap hari aku harus membayar semua itu, sungguh seluruh gajiku selama sebualan tidak akan cukup membyar biaya bernafas untuk sehari. Belaum lagi fasiltas mata untuk merlihat, jantung, ginjal dan lain sebagainya. Ditambah lagi sarana kaki dengannya aku bisa berjalan menuju tempat-tempat yang aku inginkan dengan mudah, padahal aku melihat banyak orang tidak punya kaki.  Belum lagi nikmat mata dengannya aku bisa melihat, padahal banyak orang yang tdak punya mata. Masih kurang apa lagi. Pantaskah kemudian aku tidak beriman kepada yang menyediakan aku hidup. Sungguh suatu saat aku kelak pasti akan mempertanggungjawabkan semua ini. Setelah mati aku pasti akan dihidupkan kembali untuk dihsab. Sebab tidak mungkin Allah menciptakanku tanpa tujuan. Aku bikin perusahaan saja punya tujuan. Masak Allah menciptakan langit dan bumi tanpa tujuan? Lalu aku hidup di muka bumi seenak nafsuku? Tanpa ikut panduanNya? Lalu aku anggap bahwa Allah tidak pernah menurunkan panduan?

Dalam surah Al Mulk: 9-10, Allah swt. merekam kisah orang-orang kafir di neraka. Bahwa mereka masuk neraka karena melakukan tiga hal : (a) mendustkan para rasul Allah. Sebab mereka ingin hidup bebas tanpa tauran. Mereka ingin hidup dalam gelimang dosa tanpa batas. (b) Mereka menuduh Allah bahwa Allah tidak pernah mjenurjnkan wahyu. Meereka berkata bahwa Allah tidak pernah menurnkan wahyu kepada siapapun. (c) Mereka menuduh para rasul, behwa para rsaul itu adalah manusia-manusia sesat. Karena itu dalam pikiran mereka tidak perlu ikut rasul, sebab ikut rasul adalah tindakan yang sesat. Allah swt berfirman : “hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir). Penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” Mereka menjawab: “Benar ada, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan (nya) dan kami katakan: “Allah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar”.

Mengapa dalam ayat ini disebut juga kematian sebagai dalil akan kekuasaan Allah swt.? Sebab manusia selama masih hidup seringkali tidak menyadari akan mahalnya nikmat hidup. Ia baru sadar ketika melihat kematian. Memang nikmat hidup tidak kelihatan, baru kelihatan setelah mati. Mirip dengan nikmat sehat, banyak orang tidak merasakannya. Baru terasa setelah mati. Karena itu Allah sebutkan dalam ayat hidup dan mati adalah dalil kekagunganNya. Dalam Al Quran Allah swt. menyebutkan peroses hidup manusia bahwa asal muasaalnya dari tanah “turab” (lihat QS Al Hajj :5), lalu tanah itu dibasahi sehingga mnenjadi tanah lempung “thin” (lihat Al Mu’minun:12) Lalu tanah lempung itu diaduk sehingga sangat melekat “thiunun laazib” (lihat Ash Shafaat :11).  Lalu dikeringkan sehingga menjadi berbunyi sepertri tembikar “min shalshalin kal fakhkhaar” (lihat QS Ar Rahman : 14). Namun begitu manusia mati,ia mengalami proses yang sebaliknya : ruh keluar dari jasadnya, lalu jasad tersebut secara bertahap menjadi keras, lalu mengering seperti tembikar setelah itu kembali menjadi tanah seperti semula.

Kepada Allah Manusia Pasti Kembali   

Pada bagian akhir ayat di atas lihatlah Allah menutup dengan firmannya : “wa ilaihi turja’uun” (kepadaNya kamu dikembalikan). Ayat seperti ini begitu banyak diulang-ulang dalam Al Qur’an. Bahkan kita diajarkan agar mengucapakan “ innaa lillaahi wa inaa ilaihi raajiun” (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kami pasti akan kembali kepadaNya) setiap kali kita mendengar ada musibah kematian. Allah berfirman : “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun” (QS. Al Baqarah : 156).  

Dalam doa-doa Rasulullah saw.  kita juga selalu diajarkan agar mengakui hakikat ini. Dalam doa bangun tidur kita membaca : “alhamdulillaahil ladzii ahyaana ba’da maa amaatanaa wa ilaihin nusyur” (segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepadaNya kami pasti akan kembali). Dalam pagi hari kita membaca : “ashbahnaa wa ashbahal mulku lillaahi walhamdulillahi laa syariikalah wa ilaihin nusyuur” (kami telah masuk waktu pagi juga semua kerajaan telah masuk waktu pagi maka segala puji bagi Allah dan kepadaNya kami pasti kembali). Dalam doa sore hari kita membaca: “amsainaa wa amsal mulku lillaahi walhamdulillahi laa syariikalah wa ilaihil mashiir” (kami telah masuk waktu sore juga semua kerajaan telah masuk waktu sore maka segala puji bagi Allah dan kepadaNya kami pasti kembali).

Dalam penutupan ayat ini terkandung beberapa makna berikut : (a) bahwa akhir perjalanan manusia pasti akan kembali kepada Allah swt. untuk mempertanggung- jawabkan segala amalnya. Percaya atau tidak, hakikat ini pasti terjadi. Bagi yang percaya maka ia akan bersungguh-sungguh mengisi hidupnya di dunia dengan amal salih. Sebaliknya bagi yang ingkar ia akan sibuk dengan segala yang sia-sia dan dosa-dosa. (b) bahwa orang kafir sejak dulu sampai sekarang masih terus berusaha mengingkari hari Kiamat ini (baca : hari di mana manusia menghadap Allah swt). Imam Al Ghazali telah membantah secara detil dan mendalam semua alasan yang diajukan para filosuf dalam bukunya yang berjudul “tahaafutul falaasifah” (kerancuan para filosuf). Tapi semua alasan yang mereka ajukan intinya sama. Allah telah merekam alasan mereka dalam surah Al Jatsiyah: 24, Allah berfirman :   “Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja”. (c) keyakinan ini akan membangun rasa aman bagi orang-orang briman. Bahwa segala kebaikan yang mereka amalkan selama ini tidak sia-sia. Karena mereka pasti akan mendapatkan balasan surga dari Allah swt. Pun juga membuat mereka tidak kecewa, sebab ternyata orang-orang kafir dan para pendosa kelak pasti akan mendapatkan hukuman neraka dari Allah swt. Wallahu a’lam bishshawab.   

About Post Author