Al Baqarah : 31 – 33
Urgensi Ilmu
Dr. Amir Faishol Fath
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْماءَ كُلَّها ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْماءِ هؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صادِقِينَ (31) قالُوا سُبْحانَكَ لا عِلْمَ لَنا إِلاَّ ما عَلَّمْتَنا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (32) قالَ يا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمائِهِمْ قالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّماواتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ ما تُبْدُونَ وَما كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ (33)
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” (QS. Al baqarah : 31-33)
Rahasia Urutan Ayat
Setelah menjelaskan fungsi diciptakannya manusia, bahwa ia sebagai khalifah di muka bumi, pun setelah menjelaskan alasan mengapa manusia yang terpilih sebagai khlifah, kok bukan jin dan malaikat, padahal mereka telah diciptakan lebih dahulu dari pada manusia. Di sini Allah swt. menjelaskan alasan utama bahwa dipilihnya manusia sebagai khalifah adalah karena Allah swt. membekali manusia ilmu yang dengannya manusia bisa berinnovasi. Benar, malaikat patuh kepada Allah tetapi mereka tidak bisa berinnovasi. Malaikat selalu menunggu perintah Allah swt. dan tidak mampu berkreasi. Sebab desain penciptaan malaikat semata untuk melalakukan tugas yang diperintahkan olehNya, bukan untuk berinnovasi. Karena itu malaikat tidak punya alternatif untuk melanggar. Semua yang dikerjakan hanyalah pelaksanaan dari apa yang Allah perintahkan. Inilah makna ayat : “ (malaikat-malaikat itu) tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS. At Tahrim : 6). Berdasarkan ini jelas bahwa malaikat selalu menunggu perintah Allah swt. Tidak sedikitpun berinnovasi atau berkreasi. Itulah alasan mengapa sampai sekarang belum ada produk teknologi made in malaikat.
Adapun mahluk jin sekalipun mempunyai kemampuan melakukan alternatif tetapi tidak mempunyai kecerdasan setinggi kecerdasan manusia. Dalam sebuah riwayat disebutkan oleh Imam Ibnu Katisr, bahwa paling ceredsanya jin, itu selevel dengan akal anak manusia berusia sepuluh tahun. Karena itu makhluk jin tidak pernah berpikir melakukan sebuah innovasi, melainkan hanya berpikir untuk bermain-main dan mengganggu makhluk lain. Dari sini kita paham mengapa masyarakat jin samapai sekarang tidak mampu membangun tehnologi dan peradaban. Padahal secara usia Jin jauh lebih yua dari usia manusia. Imam Ibn Katsir menyebutkan bahwa makhluk jin diciptakan dua ribu tahun sebelum diciptakannya manusia. Berdsarkan ini jelas mengapa pada ayat di atas Allah swt. menjelaskan urgensi ilmu sebagai landasan dipilhnya manusia sebagai khalifah.
Allah Mengajarkan Nama-nama
Allah berfirman : Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” Inilah alasan mengapa Allah swt. memilih manusia sebagai khalifah. Yaitu karena manusia mempunyia kelebihan dari pada malaikat dan jin. Ilmu itu berupa nama-nama yang tidak diketahui oleh malaikat. Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa maksud nama-nama tersebut dalah kemampuannya menyebutkan nama segala wujud yang Allah ciptakan : ini laut, ini sungai, ini pohon dan lain sebagainya. Kemampuan ini ditampakkan dihadapan malaikat. Dan memang benar Nabi Adam sebagai manusia pertama telah berhasil mendemonstrasikan hafalan dan ilmunya mengenai nama-nama benda tersebut dihadapan malaikat.
Namun dalam pemahaman saya –setelah sekian lama melakukan penelitian dan perenungan memgenai ayat tersebut- ada maksud lain dari nama-nama yang telah dijelaskan dalam tafsir-tafsir klasik. Saya berpendapat bahwa maksud nama-nama tersebut adalah kemampuan memnciptakan nama-nama. Sebab dari sini kelak ilmu pengetahuan manusia berkembang. Perhatikan dialog ketika pertama kali Nabi Adam bertemu dengan Hawwa sebagai istrinya di surga. Nabi Adam bertanya : siapa kamu? Hawwa menjawab : Aku seorang wanita. Lalu Nabi Adam bertanya : dari mana asal penciptaanmu? Hawwa menjawab : dari kamu. Lalu berdsarkan jawaban ini Nabi Adam memberi nama : Jadi namamu Hawwa. Hawwa bertanya : mengapa? Nabi Adam menjawab : sebab kamu diciptakan dari makhluk yang hidup (hay). Maka namamu Hawwa. Perhatiakn dialog ini menjelaskan kemampuan Nabi Adam berkreasi meciptakan nama-nama. Dan tentu ini berdasarkan ilmu yangAllah ajarkan kepadanya. Inilah makna ayat : “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama”.
Dari kemampuan memberikan nama-nama ini ilmu pengetahuan manusia berkembang. Dan benar dalam setiap pencapaian ilmu pengetahuan dan tehnology manusia selalu membuat nama-nama. Dulu ada mobil, motor, pesawat terbang, komputer, telephon, televisi dan lain sebagainya . Kini setelah muncul produk-produk baru dalam dunia tehnologu kiya menemukan nama-nama baru seperti: LCD, laptop, handphone, I phone, tablet, note book dan lain sebagainya. Belum lagi nama dalam setiap komponen tehnologi tersebut. Dalam komputer mesalnya kita akan menemukan nama-nama partikel seperti: motherboard, USB, VGA, mouse dan lain sebagainya. Perhatikan bagaimana kemampuan membuat nama-nama ini telah membantu peradaban manusia menjadi berkembang dan maju dengan pesatnya. Kemampuan inilah yang tidak dimiliki oleh makhluk lain. Maka benar jika kemudian mengakui kelebihan yang diberikan Allah swt, kepada manusia, di mana dengan kelebihan tersebut manusia pantas menjadi khalifah.
Malaikatpun Mengakui
Allah berfriman : Malaikat menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dari ayat ini kita paham beberapa hal penting : (a) bahwa malaikat mengakui kelebihan manusia atas dirinya yang karena keleibihan itu malaikat dipilih sebagai khalifah. Tapi bentuk pengakuan malaikat bukan kepada kehebatan manusia, tetapi kepada Allah swt. yang telah mengajarkan ilmu kepada manusia. Karena itu malaikat berkata : “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami”.
(b) Malaikat mengakui bahwa ia tidak tahu yang ghaib kecuali apa yang telah Allah beritahukan kepadanya. Inilah makna ayat : “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami”. Dari sini jelas bahwa malaikat tidak tahu kapan hari Kiamat sebab itu termasuk yang dirahasiakan oleh Allah swt. Malaikat pun tidak tahu semua tempat di alam ini. Dalam sautu riwayat Rasulullah saw. pernah bertanya kepada malaikat mengenai tempat yang paling buruk di muka bumi. Malaikat menjawab tidak tahu. Lalu malaikat bertanya kepada Allah swt. mengenai hal tersebut. Allah menjawab : pasar dan pusat perbelanjaan. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa sauatu hari malaikat mendengar bacaan tasbih di bumi. Tapi tidak tahu siapa itu yang membacakannya juga tidak tahu di mana tempatnya. Lalu malaikat bertanya kepada Allah swt. Allah menjawab : Dia hambaku Yunus dalam perut ikan.
(c) Malaikat menyadari bahwa ilmu yang dimilikinya sangat terbatas. Dan masoh banyak lagi yang tidak ia ketahui. Semua semua ilmu yang ia dapatkan hanyalah dari Allah swt. Dan kalau Allah swt. tidak mengajarkan ilmu kepadanya maka ia tidak tahu apa-apa. Inilah makan ayat : “tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kam”. Ini diakui oleh malaikat setelah Nambi menunjukkan ilmu yang telah diajarkan kepadanya.
(d) Malaikat mengakui bahwa sumber segala ilmu dan segala kebenaran adalah Allah swt. Simklah pengakuan malaikat pada penutupan ayat ini : “sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. Allah mahaq mengetahui karena semua wujud –baik yang tersembunyi atau kelihatan- nampak bagiNya. Allah Maha Bijaksan, karena semua yang Allah perbuat mengnadung hikmah.
Ilmu Adalah Fondasi Kepemimpinan
Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?” Dalam ayat ini ada beberapa penegasan :
(1) Bahwa Nabi Adam benar-benar mendemonstrasikan ilmu yang telah Allah ajarkan kepadanya, sebagai bukti bahwa ia memang benar-benar layak sebagai khalifah. Inilah makna ayat : “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu”. Di sini p-elajarn bahwa seorang calon pemimpin sebelum dinobatkan sebagi pemimpin hendaklah benar-benar diuji terlebih dahulu kemampuannya, terutama yang paling pokok adalah keilmuannya. Sebab dari keluasan ilmu amanah akan terlaksana dengan baik.
(b) Bahwa Allah swt. maha luas ilmuNya. Tidak ada yang tersembunyi baginya. Semua nampak bagi Allah swt. yang tidak terlihat oleh mata maupun yang terlihat. Bukan hanya yang terdapat di bumi tetapi juga yang terdapat di langit. Semua terlihat oelha Allah swt. Karenanya dalam surah Ar Rahman : 33 Allah swt. menegaskan silahkan bersembunyi di langit atau di bumi, engkau tidak akan bisa bersembunyi, karena semua tergantung kekuatan Allah swt. Inilah makna ayat : “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan?”. Kareena itu mengakui keluasan ilmu Allah adalah bagian dari pembuktian iman. Dan semakin kuat keimanan seseorang terhadap hakikat ini, akan semakin berhati-hati seoarng hamba dari perbuatan dosa. Wallahu a’lam bishshawab.