Wednesday, August 6

Al Baqarah : 65 – 66

Pelanggaran Di Hari Sabtu

Dr. Amir Faishol Fath

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ (65) فَجَعَلْنَاهَا نَكَالًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهَا وَمَا خَلْفَهَا وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ (66)

Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina”. Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

Rahasia Urutan Ayat

          Pada ayat sebelumnya menjelaskan pribadi kaum Yahudi yang selalu melanggar ajaran Allah swt. Mereka bukan saja menolak tetapi juga membunuh para Nabi yang Allah swt. utus kepada mereka. Kalaupun tidak membunuh, mereka malah membuat ajaran tandingan, seperti yang diperbuat Samiry dengan menciptakan patung sapi Sapi lalu dijadikan sesembahan. Padahal waktu itu Nabi Musa dan nabi Harun alaihimassalam masih ada bersama mereka. Jadi kesimpulannya adalah bahwa kaum yahudi adalah kaum yang tidak punya peradaban, kecuali hanya melanggar dan melanggar ajaran wahyu yang telah Allah swt. turunkan. Lebih jauh mereka berana mengubah-ubah ajaran wahyu. Kalau saja kepada Allah swt. mereka berani apalagi kepada manusia. Berdasarkan fakta sejarah maka jelas jika dikatakan bahwa kaum Yahudi adalah udentik dengan keburukan.

Dan kalau boleh pinjam istilah yang Allah swt. sebutkan untuk anak Nabi Nuh alaihissalam yang sudah keterlaluan berbuat buruk sampai-sampai Allah swt. mengatakan “ innahuu amalun ghari shaalih”. Artinya sesungguhnya (anakmu wahai Nuh) adalah perbuatan yang buruk. Jadi anak Nabi Nuh alaihissalam telah dianggap oleh Allah swt. sebagai perbuatn buruk itu sendiri. Mengapa? Karena saking menyatunya dengan keburukan itu, sehingga tidak ada sama sekali yang nampak darinya kecuali keburukan. Itu pribadi, adapaun yang berupa kelompok adalah kaum Yahudi. mereka adalah keburukan. Semua yang mereka perbuatn adalah keburukan. Sepnajang sejarah perbuatan kaum Yahudi tadak ada baiknya kecaulia kerusakan di muka bumi. Karenanya Allah swt. mengingatkan kaum Yahudi yang hidup doi zaman nabi agar jangan mengulangi kembali kerusakan yang telah diperbuat para pendahulu mereka.

Di antara bentuk pelanggaran yang Allah swt. ingatkan adalah pelanggaran yang mereka perbuat di hari Sabtu. Bahwa di hari Sabtu seharusnya mereka tidak boleh mencari nafkah dengan cara apapun. Lalu tiba-tiba mereka mensiasati aturan tersebut dengan cara yang mereka karang sendiri. Boleh jadi di mata mereka cara licik itu biasa-biasa saja, bahkan mereka menganggapnya itu kalaupun dosa, merupakan dosa kecil. Tetapi bagi Allah swt. itu adalah pelanggaran yang besar. Karena itu mererka langsung diadzab oleh Allah swt. dengan adzab yang memalukan. Dan inilah yang diceritakan secara singkat dalam ayat ini. Singkat ceritanya, seperti sebuah isyarat yang disisipkan untuk menjadi bukti dan contoh bahewa kaum Yahudi adalah kaum yang memang berani melanggar ajaran Allah swt. Tetapi jika dijelaskan ceritanya cukup panjang. Namun isyarat ini sangat penting untuk dibahas karena didalamnya benayk mengandung pelajaran, agar orang-orang yang beriman tidak terjebak dalam lubang yang sama. Bahwa ajaran Allah swt. sesederhana apapaun dio mata manusia jangan dibaikan. Karena itu atruan yang paten dan serius. Sungguh siapapun yang dengan sengaja meremehkan ajaran Allah swt. ia pasti akan berhadapan denganNya, tidak saja di dunia tetapi juga di akhirat.

Kisah Peristiwa Hari Sabtu

          Alllah swt. berfirman : “Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu”. Mengapa hari Sabtu? Ada apa di hari Sabtu? Ceritanya adalah bahwa Allah swt. menciptakan langit dan bumi selama enam hari. Dan kalau kita perhatikan dalam istilah bahasa Arabnya, semua nama-nama hari ada hubungannya dengan angka. Seperti Ahad, hari pertama, diambil dari kata wahid artinya satu. Hari Senin, dari kata istnain, artinya dua. Hari Selasa, dari kata tslatsatun artinya tiga, Rabu, dari kata arba’atun, artinya empat, Kamis dari kata khamsatun artinya lima. Adapun hari Jumat adalah hari ke enam, tidak diambil dari angka. Tetapi diambil dari kata jama’a artinya berkumpul. Karena di hari itu berkumpul semua nikmat Allah swt.: nikmat selesainya segala penciptaan, Dan nabi Adam sebagai pemimpin di muka bumi juga selesai penciptaannya di hari Jumat. Karenanyahari Jumat adalah hari berkumpuylnya hamba-hamba Allajh swt. untuk mendengarkan Khutbah dan menegakkan shalat Jumat. Itulah mengapa hari Jumat disebut juga sebagai hari raya bagi umat Islam. Lalu pada hari ke tujuh, semua wujud sudah sudah stabil, tidak ada akfitas penciptaan lagi. Itulah mengapa hari itu disebut hari Sabtu. As Sabt artinya al inqitha’ ‘anil amal (berhentinya semua keperjaan). Dari sini kita paham mengapa syariat untuk kaum Yahudi adalah bahwa setiap hari Sabtu mereka tidak boleh bekerja mencari nafkah dengan cara apapun. Hari Sabtu khusus ibadah dan semua aktifitas mencari nafkah dihentikan.

          Apa yang kemudian penting dibahas di sini adalah sebuah peristiwa besar yang pernah terjadi di hari Sabtu. Ceritanya begini: disebutkan bahwa sekelompok kaum yahudi ada yang tempat tinggalnya di tepi laut. Dan mata pencaharian mereka yang paling pokok adalah mencari ikan. Cobaannya adalah bahwa di hari-hari biasa ikannya agak sulit ditangkap, karena harus terjun ke tengah laut, berhadapan dengan gelombang yang ganas. Sementara setiap hari Sabtu ikan-ikan itu menepi ke pantai dan mudah ditangkap. Sayangnya hari Sabtu adalah harui istirahat. Tidak boleh melakukan kegiatan bisnis apapun dengan cara apapun. Karena kondisi ini mereka mencari ide bagaimana mensiasati aturan ini. Ide bagaimana supaya tetap menjalankan ibadah tetapi di saat yang sama mendapatkan ikan. Maka muncullah pikiran membuat tambak.Lalu mereka setuju dengan pendapat ini.

          Salah seorang dari mereka ada yang tidak setuju. Ia mengatakan ini tetap tidak boleh. Dan siapapun yang menyetujui serta mendukung pendapat ini harus menaggung resikonya. Namun mereka tidak mau mendengarkan nasihat ini. Mereka tetap melaksanakan ide yang mereka inginkan. Akibatnya Allah swt. murka kepada mereka. Dan karenanya Allah swt. mengazdab mereka dengan mashakh (mengubah sifat dan bentyuk mereka menjadi makhluk lain). Allah swt. bercerita tentang kejadian ini dalam surah Al Araf : 163-164 : Allah swt. berfirmna : “Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa”.

          Benar, setekah itu Allah swt. mengadzab mereka. Adapun seorang yang tadinya memberikan nasihat dan teguran, diselamatkan oleh Allah swt. Allah swt. benar-benar mengubah jasad mereka menjadi kera. Dan biasanya seorang yang dimasakh ia hanya bisa bertahan tiga hari. Setelah itu mati. Allah swt. berfirman tentang kejadian ini dalam surah yang sama pada ayat berikutnya 165-166 : Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina.

Ajaran Allah swt. Semuanya Serius

          Penjelasan di atas menunjukkan bahwa setiap ajaran Allah swt. adalah serius. Dan harus dijalankqan dengan penuh kesungguhan. Saman saja, baik itu berurusan dengan dunia apalagi berurusan dengaqn akhirat. Peristiwa hari Sabtu telah memberikan pelajaran betapa urusan dunia dan urusan agama bagi Allah sama saja. Semuanya harus dijalankan dengan penuh kesungguhan. Jangan karena urusan dunia lalu tidak mau ikut aturan Allah. Tidak, tidak demikian seorang muslim. Islam diturunkan bukan hanya untuk mengatur urusan ritual, tetapi juga untuk mengatur urusan keduniaan.

Perhatikan Allah swt. murka kepada kaum Yahudi karena mereka tidak patuh dalam aturan yang berkaitan dengan urusan dunia. Banyak orang Islam tidak memahami hakikat ini. Sehingga mereka hanya mengambil Islam secara ritual saja. Dalam cara shalat, cara puasa, cara haji, mereka ikut Islam, Tetapi dalam urusan bisnis mereka banyak yang tidak hati-hati sehingga tidak takut menggunakan cara riba, seperti orang-orang kafir lakukan. Padahal mereka tahu itu haram dan dosa besar. Dalam urusan Negara juga demikian. Banyak para pemimpin muslim, tidak mau bersungguh-sungguh menjalankan aturan Allah swt. maka tidak mustahil jika Allah swt. murka. Bertahun-tahun umat Islam berdoa minta bantuan kepada Allah swt. tetapi malah yang turun bukan pertolongan, tetapi peringatan demi peringatan. Itu tidak lain karena umat Islam belum siap dibantu. Sebab Islam yang mereka jalankan baru sebatas ritual saja. Sementara Islam sebagai aturan dalam seluruh aspek kehidupan tidak mereka ikuti. Sungguh masih banyak wanita muslimah yang menutup aurat hanya ketika menegakkan shalat saja. Sementara dalam keseharian mereka dengan sengaja mempertontonkan auratnya.

Contoh lain lagi, bahwa Allah swt. tidak suka kepada sang hamba yang hanya serius menjalankan urusan ritualnya, sementara urusan dunianya tidak mau ikut Allah swt. lihatlah dalam surah Jum’at, 9-10, Allah swt. berfirman : “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. Dalam kedua ayat ini jelas ada dua urusan sama-sama diperintahkan, satunya urusan ibadah ritual dan satunya urusan dunia. Tetapi keduanya sama-sama ajaran Allah swt. Pertama, Allah tidak suka anda sebagai hamba berdagang pada saat shalat Jumat ditegakkan. Karena itu para ulama fikih mengambil kesimpulan hokum bahwa itu haram melakukan perniagaan pada saat shalat Jumat ditegakkan. Kedua, Allah juga tidak suka setelah anda menegakkan shalat Jumat, masih berlama-lama di masjid meninggalkan perniagaan anda. Maka pada saat tiba waktu shalat segera tinggalkan perniagaan anda “idza nudiya lishshalati fas’aw ilaa dzkrillah wa dzrul bai’” dan setelah shalat ditegakkan segera kembalilah ke lapangan perniagaan anda “ faidzaa qudhiyatish shalaati fan tasyiruu fil ardhi wabtaghuu min fadhlillaahi”.

Pelajaran Di Balik Hukuman

          Allah swt. berfirman : “Maka Kami jadikan yang demikian itu peringatan bagi orang-orang dimasa itu, dan bagi mereka yang datang kemudian, serta menjadi pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa”. Dalam ayat ini jelas bahwa Allah swt. memberikan hukuman setelah sebelumnya terbukti ada kesalahan. Dan sebuah perbuatan dikatakan salah setelah sebelumnya diturunkan syar’at. Itulah rahasia diutusnya nab0nabi dan rasul, yaitu untuk menyambapikan syarat Allah swt. Sebab dalam kaidah hukuman dikatakan : “Tidak ada hukuman tanpa adanya kesalahan. Dan tidak ada kesalahan tanpa adanya teks aturan”. Kaidah ini benar, dan Allah swt. berfirman :

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا [١٧:١٥]

dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul

Jadi sebenarnya Allah swt. tidak mensyariatkan hukuman, melainkan mensyariatkan aturan. Adapun hukuman itu tujuannya untuk mendorong agar mereka ikut aturan sekaligus untuk mencegah agar mereka tidak melanggar. Maka sebuah hukuman tidak akan dijalankan selama tidak ada pelanggran. Inilah makna “nakaalan” dalam ayat di atas, yaitu bahwa hukuman diadakan sebagai pencegahan dari berbuat salah. Maka jika sebuah pelaggaran telah benar-benar terjadi, disitulah hukuman harus ditegakkan. Supaya yang melanggar tidak mengiulangi lagi, pun supaya yang belum melanggar berhati-hati jangan sampai melakukan pelanggaran.

          Dalam ayat ini, ada tiga target yang ingin dicapai dari diturunkannya sebuah hukuman : Pertama, “nakaalan limaa baina yadayhaa”. Maksudnya sebagai adzab bagi kaum Yahudi yang hidup di masa itu. Supaya mereka merasakan akibat dosa yang telah mereka perbuat. Bahwa Allah swt. tidak pernah main-main dalam syriatnya. Dalam surah Al Mulk : 18, Allah swt. menggambarkan betapa pedihnya adzab yang telah Allah turunkan kepada umat-umat terdahulu yang telah melanggar ajaranNya. Ini untuk menunjukkan bahwa Allah swt. tidak pernah main-main dalam hukumanNya. Allah swt. berfirman :  

وَلَقَدْ كَذَّبَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيرِ [٦٧:١٨]

Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku

          Kedua, “wa maa khalfahaa” maksudnya hukuman itu sebagai peringatan bagi klaum Yahudi yang hidup di zaman sesudahnya, yaitu pada zaman Rasulullah saw. Hingga sekarang, sampai hari Kiamat. Peringatan agar mereka tidak mengulangi lagi kesalahan pendahulunya yang telah diadzab oleh Allah swt. Berdasarkan ini nampak bahwa peristiwa di hari Sabtu itu telah diwariskan kisahnya secara turun-temurun, yakni orang tuanya menceritakan kepada anaknya, lalau anaknya menceritakan kepada anaknya dan setrusnya, sampai kepada Yahudi di zaman Rasulullah saw. dan bahkan sampai sekarang. Jadi peristiwa di hari Sabtu itu kaum Yahudi benar-benar tahu, seperti mereka mengetahui anaknya sendiri, dan secara terus menerus itu disampaikan dalam pertemuan mereka, supaya mereka belajar dari masa lalunya. Tetapi mereka ternyata tetap tidak mau mengambil pelajaran.

          Ketiga, “wa maw”idhatan lil muttaqiin” maksudnya sebagai nasihat bagi hamba-hamba Allah yang beriman kepada Rasulullah saw. dan bertakwa kepadaNya. Nasihat supaya mereka tidak ikut-ikutan kaum Yahudi dalam menyikapi risalah Allah swt. bahwa setiap sayriat yang datang dari Allah swt. adalah benar dan harus diikuti secara sungguh-sungguh, apapun kaitannya, baik itu berkaitan dengan urusan dunia apalagiurusan agama. Semua ajaran Allah swt. adalah pedoman hidup. Islam yang diajarkan Allah swt. adalah untuk mengatur semua aspek kehidupan manusia. Dari urusan cara masuk kamar mandi sampai urusan Negara. Maka salah orang yang mengatakan bahwa Islam hanya untuk urusan ritual di dalam masjid. Rasulullah saw. telah mencontohkan bahwa beliau tidak hanya menjadi imam shalat di masjid, tetapi beliau juga memimpin pasukan dan bahkan memimpin Negara. Beliau mengirim surat kepada raja-raja Ramawi dan Persia bukan atas nama semata sebagai nabi dan peribadi, melainkan juga atas nama sebagai pemimpin. Karena itu Raja Ramawi dan Persia, memperhitungkan kehaduiran surat tersebut. Inilah pelajaran yang sangat mahal, bahwa umat ini tidak akan berdaya kecuali harus mengambil ajaran Allah secara utuh dan menjalankannya secara maksimal, baik itu ajaran yang berkaitan dengan keduniaan apalagi berkaitan dengan keagamaan. Wallahu a’lam bishshawab.

. 

About Post Author