Al Baqarah : 57 – 60
Nikmat-nikmat Lainnya Yang Allah Ingatkan Kpada Kaum Yahudi (Bag. 3)
Dr Amir Faishol Fath
وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَمَا ظَلَمُونَا وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (57) وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ (58) فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلًا غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (59) وَإِذِ اسْتَسْقى مُوسى لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصاكَ الْحَجَرَ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتا عَشْرَةَ عَيْناً قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُناسٍ مَشْرَبَهُمْ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ (60)
Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu “manna” dan “salwa”. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik”. Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik. Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan. (QS. 2:57-60)
Rahasia Urutan Ayat
Ayat sebelumnya masih menyebutkan beberapa nikmat yang pernah Allah swt. berikan kepada Bani Israil (baca: kaum Yahudi). Tetapi mereka membalasnya dengan kemusyrikan. Mereka malah menyembah patung sapi. Ajaran Nabi Musa as. Mereka tolak. Dan baru saja Allah swt. menceritakan bagaimana mereka minta kepada Nabi Musa as. agar bisa melihat Allah swt. di depan mata mereka. Dan ini meraka jadikan syarat untuk beriman. Maka dengan permintaan yang salah besar ini langsung Allah swt. mengadzab mereka dengan petir. Dan seketika mereka mati. Lalu Allah swt. menghidupkan mereka kembali, agar mereka bersyukur. Tetapi mereka tetap tidak bersyukur, padahal mereka benar-benar menyaksikan bagaimana mereka hidup lagi sesudah mati.
Lalu pada ayat berikutnya Allah swt. menyebutkan nikmat-nikmat yang lain lagi, suapaya mereka tersadar. Namun ternyata mereka tetap juga tidak menyadari betapa agungnya nikmat-nikmat tersebut. Mereka tetap membalas dengan kekafiran. Bahkan mereka memusuhi orang-orang yang telah beriman kepada Allah swt. dan RasulNya. Benar kata Allah swt. bahwa hati mereka telah mati. Allah swt. berfirman : Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (2: 74) Mari kita simak apa saja nikmat-nikmat lebih lanjut yang telah diberikan kepada mereka.
Beberapa Nikmat Lainnya
Pertama, Allah swt. memberikan kepada mereka naungan berupa awan. Di saat mereka sedang dalam kebingungan, di tengah hamparan padang pasir antara Negeri Syam dan Mesir, di sebuah tempat namanya “At Tieh”. Mereka benar-benar di bawah terik yang sangat panas. Pada saat itu Allah swt. megirimkan awan agar menaungi mereka dari sengatan matahari yang ganas. Allah swt. berfirman : “Dan Kami naungi kamu dengan awan”. Di sini Allah swt. seakan mengatakan : ingatlah ketika kalian di tengah padang pasir di bawah terik yang ganas, dan tidak ada satu helaipun daun tempat kalian berteduh, lalu Aku lindungi kalian dengan awan. Masihkah kalian tidak mau bersyukur?
Kedua, Allah swt. memberikan kepada mereka makanan khusus dan sangat istimewa berupa “almann” dan “As Salwa”. Al Mann adalah semacam manisan yang rasanya seperti madu, turun dari langit, lalu mereka menadahnya, untuk mereka makan. Dengannya mereka mendapatkan energi. Asy Syikh Asy Sya’rawi menceritakan dalam tafsirnya bahwa sampai sekarang makanan “al mann” ini masih ada di salah satu wilayah di Iraq. Ia turun seperti turunnya embun dan menempel di daun-daun. Biasanya turun antara waktu fajar sampai terbit matahari. Pada saat itu orang-orang berdatangan membawa hamparan plastik untuk menadah. Lalu pohon-pohon itu digoncang, sehingga “almann” itu berjatuhan ke plastik yang mereka hampar. Adapun “as salwa” berupa burung-burung yang gemuk, tidak ketahuan dari mana datangnya, tiba-tiba berkumpul di situ, siap ditangkap dan disembelih. Dagingnya empuk dan lezat. Allah swt. berfiman : “dan Kami turunkan kepadamu “manna” dan “salwa”. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu”.
Dengan nikmat ini pun mereka juga tidak bersyukur. Malah mereka berpandangan negative terhadap nikmat makanan tersebut. Mereka mengatakan : ingin makanan hasil dari apa yang mereka tanam sendiri. Bukan yang dari langit, karena mereka takut jangan-jangan nanti itu tidak turun lagi. Karenanya Allah swt. menegaskan pada ayat berikutnya : “dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”.
Ketiga, Allah swt. memberikan kesempatan kepada mereka untuk masuk Baitul Maqdis, setelah mereka dalam kebingungan di tengan padang pasir selama empat puluh tahun. Itupun mereka tinggal masuk, tanpa melalui peperangan. Kecuali hanya masuk dengan memohon ampun. Allah swt. berfirman : “Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: “Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak dimana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: “Bebaskanlah kami dari dosa”, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu, dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik”.
Di sini jelas sekali bahwa Allah swt. telah memebrikan jalan keluar bagi merka dari kesulitan yang mereka hadapi, dengan dengan syarat yang sangat ringan, yaitu : msuklah dengan bersujud, dan meminta ampun kepadaNya. Namun ternyata mereka masuk ke negeri itu dengan telentang, meninggalkan sujud dan mereka mengubah ucapan yang Allah ajar yaitu : haththa ‘annaa dzunuubana” yang artinya gugurkanlah dosa-dosa kami, diganti oleh mereka dengan kata “hinthah” yang artinya gandum. Di sini nampak baha mereka bukan tidak mampu patuh, tetapi memang mereka ingin dengan sengaja tidak patuh kepada Allah swt. Karena inilah Allah swt. menyebutkan mereka telah bebruat dzalim terhadap diri mereka sendiri. Simaklah Allah swt. berfirman pada ayat berikutnya : “Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik”.
Keempat, Alah swt. memberikan kepada mereka air di saat semua mata air kering. Dan mereka tercekam kehausan di tengah padang pasir. Lalu mereka minta kepada Nabi Musa agar memohon kepada Allah supaya diturunkan air. Lalu Nabi Musa berdoa, dan Allah swt. mengabulkannya. Allah swt. memerintahkan Nabi Musa agar memukul batu dengan tongkatnya. Maka memancarlah air dari betu tersebut denga dua belas mata air sesuai dengan jumlah suku yang ada. Lalu masing-masing suku mengambil air pada sumber air yang telah ditentukan. Sebuah mukjizat yang luar biasa, bayangkan batu yang keras, di mana secara akal tidak mungkin memancarkan air, tiba-tiba dengan pukulan tangkat Nabi Musa memancar air sesjumlah suku yang ada, agar tidak berebut dan terhindar dari pertumpahan darah. Allah swt. berfirman : “Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan”.
Perhatikan bagaimana penderitaan mereka dengan hilangnya persediaan air minum. Ini menunjukkan bahwa mereka telah berada di puncak kekeringan. Sebab biasanya mereka masih punya persediaan air untuk menyiram tanaman. Lalu secara bertahap itu menjadi semkain habis sehingga tidak cukup kecuali hanya untuk diminum sendiri dan memberikan minum binatang piaraan mereka. Lalu setelah itu bumi kian menegring sehingga mereka tidak mendapatkan setetes airpun untuk diminum sendiri. Perhatikan betapa mereka benar-benar dalam kondisi sangat parah, tercekam rasa haus. Pada saat seperti ini, Allah swt. mengabulkan doa sang Nabi, sehingga dengan mukjizat dari Allah, terpancar air dari batu yang secara akal tidak mungkin ada air di situ. Semua mereka melihat bahwa itu pertolongan Allah swt. Pun mereka menyaksikan bahwa itu bukti kenabian. Tetapi mereka tetap membalas nikamt-nikmat tersebut dengan kekafiran.
Kekafiran Yang Dikunci Mati
Sungguh dari penjelasan di atas nampak bahwa kaum Yahudi itu sudah terkunci hatainya. Mengapa : (a) Allah swt. telah memberikan kepada mereka nikmat-nikmat, yang semua itu adalah apa yang mereka minta. Tetapi setelah dipenuhi oleh Allah swt. mereka malah membalas dengan kekafiran. Lebih dari itu mereka melihat langsung nikmat-nikmat tersebut dengan mata kepala mereka, tetapi itupun tidak membuat mereka tersentuh lalu beriman. Malainkan malah mereka semkain berani melakukan kemusyrikan. Mereka malah menyembah patung sapi yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri.
(b) Allah swt. tidak memberikan tugas kepada mereka kecuali apa yang mereka mampu. Perhatikan Allah swt. tidak menyuruh mereka agar berperang merebut Palestina, melainkan hanya memerintahkan mereka masuk ke negeri Palestina dengan memohon ampun, tanpa melalui pertempuran. Eh, malah mereka tidak mau memohon ampun, justru ucapan minta ampun yang Allah swt. ajarkan, diubah oleh mereka menjadi kata lain yang artinya gandum. Selain itu perintah Allah kepada mereka adalah agar masuk ke Baitul Maqdis dengan bersujud, dan mereka mampu melakukan sujud ini. Tatapi mereka malah masuk dengan telentang. Ini semua menunjukkan bahwa mereka memenag tidak mau patuh. Seandainya pelanggaran itu mereka perbuat dengan alasan bahwa mereka tidak mampu itu masih bisa diterima. Tetapi ternyata memang kekafiran itu telah terkunci dalam hati mereka.
(c) Allah swt. masih terus memenja mereka dengan nikmat-nikmat, padahal mereka terus membalas dengan kekafiran. Mengapa? Mereka mengira itu karena mereka adalah bangsa pilihan. Padahal tidak, itu adalah : (1) Bukti kesabaran Allah dan RasulNya menunggu sampai kapan mereka mau bertaubat, supaya kelak ketika Allah swt. mengadzab mereka dengan siksaan yang pedih mereka tidak punya alasan. (2) Bukti kasih sayang Allah, yang memberikan kesempatan kepada hamba-hambaNya bertaubat. Padahal Allah mampu untuk seketika mengzdab mereka dengan dosa-dosanya seperti dulu Allah pernah mengadzab kaum Aad dan Tsamud. Wallahu a’lam bishshwab.