Al Baqarah : 74
Perumpamaan Hati Kaum Yahudi Lebih Keras dari Batu
Dr. Amir Faishol Fath
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (74)
Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras sekeras batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.
Rahasia Urutan Ayat
Ayat-ayat sebelumnya menggambarkan betapa sangat banyak bukti-bukti nyata yang menunjukkan keagungan Allah swt. dan kemahaperksaanNya di hadapan Bani Israil. Bukti-bukti tersebut ditunjukkan melalui mu’jizat Nabi Musa alaihissalam. Seperti terbelahnya laut Merah, dan mereka bisa melewati belahan tersebut sehingga selamat dari ancaman kaum Firiun. Diangkatnya gunung di atas kepala mereka, dan mereka melihatnya dengan nyata, dijadikannya kera semua dari mereka yang melanggar di hari Sabtu, dan dihidupkannya kembali seorang yang terbunuh untuk memberitahukan siapa pembunuhnya, seperti yang diceritakan dalam peristiwa sapi. Ini semua sudah sangat cukup –bahkan lebih dari cukup- untuk membuat seseorang beriman kepada Allah swt. dan RasulNya. Namun ternyata kaum Yahudi itu tetap tidak mau beriman. Berbagai sikap justru menunjukkan bahwa mereka semakin jauh dari risalah yang dibawa Nabi Musa alaihissalam. Apa sebabnya?
Jawaban atas pertanyaan ini ada pada ayat-ayat berikutnya seperti yang kita kutip di atas. Yaitu bahwa hati mereka memang sangat keras, sekeras batu. Bahkan lebih keras lagi. Sehingga tidak ada nasihat apapaun yang bisa masuk ke dalamnya. Kok akan nasihat, berbagaii mukijzat yang sangat mencengankan saja tidak bisa menyentuh hati mereka sedikitpun. Itu benar-benar membuktikan bahwa dari hati mereka tidak bisa diharapkan sama sekali kebaikan. Sebab sekeras-keras batu masih mungkin ada manfaatnya: bisa memancarkan mata air, bisa digunakan untuk bangunan dan lain sebagainya. Dari sini jelas bahwa semua yang Allah ciptakan sekeras apapun masih bisa diambil manfaatnya. Kecuali hati yang keras, maka tidak bisa diharapkan darinya kebikan apapun.
Inilah gambaran hati kaum Yahudi. Mereka memang tidak punya hati. Kalaupun mereka punya, hati mereka sangat keras. Tidak akan pernah menerima nasihat apapun. Karena itu mereka suka melanggar janji. Dan bahkan tidak punya prikemanusiaan sama sekali. Bayangkan mereka membunuh siapa saja. Sampaipun anak-anak kecil yang tidak berdosa mereka bunuh secara membabi buta. Orang-orang tua, kaum wanita yang tidak berdaya, semua mereka bunuh. Kok akan mereka, para nabi saja yang diutus kepada mereka, sepanjang sejarah banyak yang sudah mereka bunuh. Dan di kota Madinah kaum Yahudi telah berusaha untuk membunh Rasulullah saw. berkali-kali, tetapi dengan kehendak Allah swt. usaha mereka selalu gagal. Ini membuktikan makna ayat di atas bahwa hati mereka benar-benar sangat keras, lebih keras dari pada batu.
Mengapa Hati Yang Disebut?
Allah swt. berfirman : “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras”, di sini Allah swt. menyebutkan “hati” (al qalbu) jamaknya (al quluub), bukan jiwa (an nafs) sebab yang paling berpengaruh terhadap prilaku adalah hati. Bila hati tenang dan tentram, maka nampak dari wajah seseorang keceriaan dan senyum yang sumeringah. Sebaliknya bila hati kalut dan penuh luka, maka yang nampak dari wajahnya adalah kesedihan dan kegalauan. Dan tidak sedikit orang yang mengalami sakit secara jasamni karena dampak dari sakit hati. Bahkan lebih parah lagi, banyak juga orang yang bunuh diri karena kegalauan yang sangat mencekam dalam hati.
Dengan kata lain, hati adalah raja dalam tubuh. Dialah yang mengendalikan semua anggota tubuh. Karena itu letak niat dalam hati. Sebab dari situlah semua gerak anggota tubuh dikendalikan. Hati yang penuh dengan iman maka seluruh tubuh akan mencerminkan prilaku keimanan. Sebaliknya hati yang penuh dengan niat jahat dan kebusukan, maka akan lahir darinya prilaku yang kasar dan kejam. Dalam surah Az Zumar:23, Allah swt. menggambarkan hakikat ini dengan sangat jelas bahwa hati yang penuh dengan iman akan bergetar ketika dibacakan ayat-ayat suci Al Quran, dan merasa tenang ketika berdzikir kepadaNya simaklah Allah swt. berfirman :
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَاباً مُّتَشَابِهاً مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَىا ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَآءُ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun”.
Sudah pasti jika semua anggota tubuh bergetar karena Al Quran, itu sebenarnya muncul dari getaran hati yang lembut sehingga mudah tersentuh oleh ayat-ayat Al Quran yang demikian dahsyat menyelusup ke dalamnya. Berdasarkan ini jelas bahwa ketika prilaku seseorang sangat kasar dan sulit gemetar ketika dibacakan kepadanya ayat-ayat Al Quran, itu karena hatinya keras. Demikianlah kerasnya hati kaum Yahudi sehingga tidak ada ucapan para nabi yang mereka dengarkan. Pun tidak ada risialah Allah yang mereka patuhi. Apalagi perkataan manusia biasa. Maka benar jika Allah swt. dalam ayat ini menjelaskan mengenai kerasnya hati mereka, karena dari hatilah semua perubahan terjadi. Berdasarkan ini pula, bahwa seorang yang berdkawah di jalan Allah swt. tidak cukup hanya berbekal sentuhan logis dalam menjelaskan risalh Allah swt. tetapi juga harus berbekal sentuhan hati. Maka apa yang datang dari hati pasti akan masuk ke hati. Ingat bahwa ketika hati seseorang tersentuh maka ia akan mudah terpengaruh. Dan dari keterpengaruhan tersebut akan lahir perubahan prilaku.
Bahaya Hati Yang Keras
Lalu Allah swt. memberikan perumpamaan bahwa hati yang keras boleh jadi sekeras batu bahkan lebih keras lagi. Allah swt. berfirman : “sekeras batu bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah.”. Dalam perumpamaan ini Allah swt. menggunakan batu sebagai perumpamaan. Karena batu adalah simbol ciptaan Allah yang keras. Tetapi kerasnya batu bukan berarti tidak ada manfaatnya. Melainkan ia dengan sifatnya yang keras masih bisa menjalankan fungsinya sebagai batu. Contoh misalnya, sebuah bangunan sangat membutuhkan batu sebagai fondasinya. Dan seandainya tidak ada benda sekeras batu, maka bangunan itu tidak akan tegak.
Dalam ayat ini disebutkan beberapa sisi kebaikan batu sebagai benda yang keras : (a) Allah swt. berfirman : “diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya”. Maksudnya bahwa tidak mustahil dari batu-batu itu terpancar air sungai yang mengalir ke berbagai plosok negeri untuk memberikan penghidupan bagi tumbuh-tubuhan dan binatang-binatang (b) Allah swt. berfriman : “dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya”, artinya ada juga batu yang membelah dirinya untuk memancarkan mata air yang bening dan bisa diminum oleh banyak manusia. Seperti yang dilakukan Nabi Musa dengan mukijzatnya bisa membuat batu memancarkan air minum bagi kaumnya. Apa bedanya antara yang pertama dan kedua? Yang pertama menggunakan istilah “yatafajjaru minhul anhaar” (mengalir darinya sungai-sungai) sementara yang kedua menggunakan istilah “ yasysyaqqaqu fayakhruju mihul maa’ (batu itu membelah dirinya lalu keluarlah mata air). Jadi makna yang pertama adalah airnya yang mendatangi orang-orang sekampung melalui sungai-sungai, sementara yang kedua adalah orangnya mendatngi mata air tersebut seperti sumu dan lain sebagainya. (d) Allah swt. berfirman : “dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah” Ini bukti bahwa batu-batu itu juga bergetar takut kepada Allah swt. Inilah makna ayat :
سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ [٥٧:١]
Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Di sini seakan Allah swt. mengatakan bahwa sekeras-kerasnya batu, masih ada manfaatnya dan patuh kepada Allah swt. ia juga bergetar sehingga jatuh dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah karena takut kepadaNya. Padahal batu itu tidak punya hati untuk memahmi ayat-ayat Allah swt. Maka sungguh memalukan jika manusia yang punya hati malah tidak patuh kepadaNya.
Kapan Hati Menjadi Keras?
Hati sebagaimana tempat bersarangnya iman dan keyakinan juga boleh jadi menjadi tempat bersarangnya kegersangan dan kekafiran. Rasulullah saw. bersanda :
” ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب “
Ketahuilah bahwa dalam tubuh ada sekerat daging. Bila daging tersebut baik maka semua tubuh akan menjadi baik. Dan bila daguing tersebut buruk maka semua tubuh akan menjadi buruk. Ketahuilah bahwa sekerat daging itu adalah hati.
Maka ketika hati selalu bersama Allah, ia menjadi lembut dan penuh dengan kebaikan. Dari kebaikan itu datanglah kasih sayang. Dari kasih sayang muncullah akhlak mulia. Sebaliknya bila hati lupa dzikir kepada Allah swt. maka ia menjadi gersang.Lalu setelah itu ia mengeras secara perlahan. Selanjutnya ia akan sibuk dengan dosa-dosa. Lama ke lamaan ia terlepas dari Allah swt. dan yang ada dilamnya hanya benda-benda dan materi. Akibatnya ia tidak tertarik sama sekali kepada segala yang ghaib, seperti pahala, indahnya ibadah kepada Allah dan lain sebagainya. Sebab ia telah terseting unuk semata benda-benda. Dari sinilah ia terus mengeras seperti tabiat benda yang keras dan kasar.
Lebih lanjut ia akan mudah berbuat dzalim, tidak saja kepada dirinya sendiri tetapi juga kepada orang lain. Karena ktika iman sudah tercerabut dari hati, maka secara ebrasamaan akan tercerabut juga iman yang telah mengalir dalam mata, sehingga ia suka memandang yang haram, pun tercerabut juga iman yang telah mengalir dalam tangan, sehingga ia suka mengmbil yang haram, juga tercerabut iman yang ada dalam kaki, sehingga menjadi berat melangkah ke masjid, dan malah ringan melangkah ke tempat judi dan tempat-tempat maksiat lainnya. Sebab ia sudah sangat jauh dari keimanan, dan sangat dekat kepada yang nampak-nampak (baca: materialisme). Dan ingatlah bahwa ketika semua bentuk materilisme telah menguasai hati seseorang, ia otomtis akan keras hatinya. Inilah yang sebenarnya dialami oleh kaum Yahudi. Mereka benar-benar terkungkung dalam kubangan bena-benda, sehingga tidak mau percaya kepada yang ghaib. Itulah sebabnya mengapa mereka ketika di ajak oleh Nabi Musa agar menyembah Allah mereka malah mengatakan :
وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَىٰ لَن نُّؤْمِنَ لَكَ حَتَّىٰ نَرَى اللَّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْكُمُ الصَّاعِقَةُ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ [٢:٥٥]
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya”.
Nahkan mereka malah menuat patung tuhan berupa sabi, lalu mereka sembah. Inilah yang diceritakan dalam kisah Samiri. Allah swt. berfirman :
وَلَقَدْ جَاءَكُم مُّوسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ [٢:٩٢]
Sesungguhnya Musa telah datang kepadamu membawa bukti-bukti kebenaran (mukjizat), kemudian kamu jadikan anak sapi (sebagai sembahan) sesudah (kepergian)nya, dan sebenarnya kamu adalah orang-orang yang zalim.
Dalam ayat berikut Allah swt. menggabrkan lebih jelas lagi bagaimana patung-patung materialisme telah mendarahdaging dalam hati kaum Yahudi. Allah swt. berfirman :
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاسْمَعُوا ۖ قَالُوا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ ۚ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُم بِهِ إِيمَانُكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ [٢:٩٣]
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab: “Kami mendengar tetapi tidak mentaati”. Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: “Amat jahat perbuatan yang telah diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat).
Akibat Kerasnya Hati
Bila hati menjadi keras, otomatis seseorang keluar dari kemanusiaanya dan menjadi binatang yang berwajah manusia. Dalam kondisi ini semua potensi akal sehat menjadi mati (tidak berfungsi sama sekali). Maka di saat yang sama mata dan pendengaran menjadi kosong dari makna kemanusiaan. Benar ia bisa melihat dan mendengar, tetapi dari penglihatan dan pendengarannya itu tidak ada yang bisa diambil manfaatnya. Melainkan malah ia mebuat kerusakan di muka bumi. Dan karena didalmnya bepadu antara potensi kemanusiaan dan potensi kebinatangan maka kerusakan yang ia perbuat jauh lebih ganas dari apa yang diperbuat biantang.
Benar, melebihi binatang karena ternyata sepanjang sejarah belum pernah ada binatang yang mampu melakukan kerusakan yang selevel kerusakan tersebut. Ambil saja singa, kita tahu bahwa sejahat-jahat singa belum pernah ada yang memakan mangsanya sampai seribu mangsa dalam sehari. Tetapi manusia bila menjadi bejat ia bisa membunuh sesama manusia sampai ribuan nyawa dalam sehari seperti yang terjadi di Mesir, Siria, Iraq dan Palestina. Contoh lain lagi kucing misalnya. Seburuk-buruk seekor kucing ia hanya mampu mencuri sekerat daging. Tetapi manusia bila bejat maka ia bisa berbuat apa saja, sampai mencuri uang kebih tujuh triliunpun bisa. Inilah makna ayat di atas : “lebih keras dari batu” dan ini lebih diperjelas dalam surah Al A”raf 179 Allah swt. berfirman :
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ [٧:١٧٩]
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.
Agar Hati Menjadi Lembut
Tabiat hati, harus lembut, sebagaimana batu tabiatnya harus keras supaya bisa melakukan fungsinya. Bila hati keras, maka ia telah keluar dari tabiatnya. Dan bila hati kelaur dari tabuatnya, maka yang akan terjadi keruskakan. Lain halnya batu, ia memang harus keras untuk bisa menjalankan fungsinya. Oleh sebab itu maka supaya hati selelau lembut Allah swt. memberikan pesan pada penutup ayat, dengan berfirman : “Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan”. Ini maksudnya sebagai berikut : (a) Ingatlah selalu bahwa Allah swt. mengetahui semua perbuatan kalian. Maka lakukanlah apa saja yang sukai dan jauhilah apa yang Allah benci, sebab hanya dengan ini hatimu akan menjadi lembut. Ingat bahwa Dialah Allah yang telah menciptakan hati. Dan Dialah yang maha mengetahui tabiat hati. Maka hanya dengan cara ini hati bisa bekerja sesuai dengan tabiatnya yang hakiki. (b) Yakinlah bahwa suatu saat kita akan dihisab oleh Allah swt. dan tidak mungkin kita membohongiNya, karena Allah telah mengetahui sekecil apapun yang kita kerjakan. Maka lakukanlah apa yang anda paling suka untuk dibawa ke akhirat kelak dan dipertanggungjawabkan di depan Allah swt. Dan tinggalkanlah segera apa yang anda tidak suka untuk dibawa ke akhirat. Sebab hanya dengan cara ini hati anda menjadi lembut dan penuh berkah. Wallahu a’lam bishshawab.
.