Al Baqarah : 67 – 73
Kisah Peristiwa Sapi
Dr. Amir Faishol Fath
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا بَقَرَةً ۖ قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۖ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ [٢:٦٧] قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَٰلِكَ ۖ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ [٢:٦٨] قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا لَوْنُهَا ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَّوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ [٢:٦٩] قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِن شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ [٢:٧٠] قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا ذَلُولٌ تُثِيرُ الْأَرْضَ وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لَّا شِيَةَ فِيهَا ۚ قَالُوا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ ۚ فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَ [٢:٧١] وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا ۖ وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَّا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ [٢:٧٢] فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا ۚ كَذَٰلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَىٰ وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ [٢:٧٣]
Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina”. Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil”.
Mereka menjawab: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu”. Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu”.
Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya”. Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya”.
Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)”.
Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya”. Mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya”. Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.
Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan.
Lalu Kami berfirman: “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dam memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.
Rahasia Urutan Ayat
Ayat sebelumnya menjelaskan tentang pelanggaran di hari sabtu yang diperbuat kaum Yahudi. Peristiwa di mana mereka menganggap larangan Allah sebagai hal yang sepele. Yaitu larangan bahwa mereka tidak boleh memancing ikan di hari Sabtu. Selain hari tersebut mereka boleh melakukannya. Karena itu memang matapencaharian yang selalu mereka lakukan. Benar secara dhahir larangan tersebut nampak sepele. Tetapi itu perintah Allah. Tabiat mereka memang selalu tidak mengindahkan apa yang datang dari Allah swt. dan RasulNya. Mereka maunya hidup seenak nafsu mereka. Akhirnya mereka melanggar. Mereka mensiasati syariat Allah swt. Dan mereka menganggap itu bukan pelanggaran serius. Sehingga mereka tidak mau menerima nasihat dari siapapun di antara mereka. Tapi Allah swt. menganggap itu kesalahan besar. Akibatnya mereka diadzab masakh. Seketika wajah dan jati diri mereka diubah menjadi kera.
Lalu dalam ayat ini, Allah swt. menceritakan kisah yang lain lagi mengenai kekerasan hati mereka dalam menyikapi ajaran Allah swt. Yaitu kisah sapi. Dan karena kisah ini surah ini diberi nama “Sapi”. Kisah di mana ada seorang dari mereka terbunuh tanpa diketahui siapa pembunuhnya. Lalu mereka datang kepada Nabi Musa alaihissalam, agar minta petunjuk kepada Allah swt. siapa pembunuhnya. Allah swt. memerintahkan agar menyembelih sapi. Di sini lagi-lagi mereka mengejek Nabi Musa, karena menganggap bahwa perintah tersebut tidak masuk akal. Seakan tidak ada hubungan antara menyembelih sapi dan usaha mengungkap sang pembunuh? Juga seakan mereka menganggap bahwa sungguh terlalu mudah jika untuk menemukan sang pembunuh hanya dengan menyembelih sapi. Karena itu dalam kisah sapi ini tergambar behwa mereka mempersulit diri dengan cara meminta tambahan persyaratan mengenai sapi tersebut, supaya prosesenya lebih dramatis dan istimewa.
Apa Itu Peristiwa Sapi
Imam Abu Hatim dan ulama tafsir lainnya meriwayatakan bahwa di zaman Nabi Musa alaihissalam, ada seorang dari kalangan Bani Israil yang kaya raya. Tetapi ia tidak punya keturunan. Para kerabatnya sangat menginginkan agar segera kebagian hartanya. Di antara mereka ada saudara sepupunya yang paling bernafsu untuk menguasai hartanya. Maka pada suatu malam saudara sepupu tersebut melakukan pembunuhan terhadapnya. Lalu jasad sang mayit dilempar didepan rumah seseorang di kampung lain untuk menghilangkan jejak. Esok harinya penduduk kampung heboh, atas ditemukannya jasad tersebut. Lalu datanglah kerabat si mayyit, dengan melempar tuduhan kepada penduduk kampung itu. Dan yang paling lantang meneriakkan tuduhan itu adalah si pembunuh.
Salah seorang di antara mereka yang cerdas berkata: Mengapa kalian saling menuduh, sementara di antara kita ada Nabi Musa?! Maka mereka segera menemui Nabi Musa alaihissalam lalu menceritkan apa yang terjadi. Nabi Musa mendapatkan wahyu agar menyembelih sapi. Tetapi kaum Yahudi itu tidak segera melaksanakan perintah tersebut. Bahkan mereka malah menambah-nambah persyaratan yang membuat mereka semakin sulit. Sampai akhirnya sapi tersebut ditemukan di tangan seseorang yang tidak mau menjualnya (kerena itu satu-satunya sapi yang ia miliki) kecuali ditebus dengan emas sepenuh kulit sapi tersebut. Dan hampir-hampir meraka tidak sanggup melaksanakannya. Setelah mereka tebus, sapi tersebut disembelih. Lalu sebagian dari dagingnya (dalam suatu riwayat pahanya) diambil, lalu dipukulkan kepada sang mayyit. Seketika mayyit itu hidup lagi, dan menceritakan bahwa pembuhnya adalah saudara sepupunya. Setelah itu berbaring lagi lalu mati.
Cara Allah Menggambarkan Bandelnya Kaum yahudi
Pertama-tama Allah swt. menceritakan mengenai perintah menyembelih sapi. Allah swt. berfirman : Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina”. Ini untuk menguji sejauh mana kesiapan kaum Yahudi dalam mentaati Allah swt. dan rasulNya. Karena itu Allah swt. tidak memberitahukan untuk apa sapi ini disembelih. Pun juga belum diberitahukan apa hubungan sapi ini dengan usaha mencari temu sang pembunuh. Dan ternyata benar, jiwa kaum Yahudi tidak siap menerima perintah seperti ini. Padahal seharusnya kalau mereka benar-benar beriman, mereka langsung patuh : sami’na wa atha’na. Sekalipun belum tahu sebab mengapa harus menyembelih sapi. Mengapa? Sebab perintah ini dari Allah swt. dan dari RasulNya. Namun malah mereka menuduh Nabi Musa alaihissalam telah mepermainkan mereka. Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Tetapi tuduhan ini segera dijawab oleh nabi Musa alaihssalam, dengan mengatakan bahwa ejekan itu perbuatan orang bodoh. Dan tidak mungkin seorang Nabi melakukan perbuatan sekeji ini. Allah berfirman, Nabi Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahi (bodoh)”.
Lalu Allah swt. menceritakan bahwa kaum Yahudi itu memang tidak punya iman. Pertama mereka tidak langsung patuh melasanakan perintah tersebut. Bahkan mereka masih mempertanyakan seperti apa sapi yang dimaksud. Padahal tadinya perintah itu umum, artinya seandainya mereka menyembelih sapi apa saja, sudah cukup. Kedua mereka menyuruh Nabi Musa dengan redaksi : mintalah kepada Tuhanmu” bukan dengan redaksi “mintalah kepada Tuhan kita”. Ini menunjukkan behwa Tuhannya Nabi Musa bukan tuhan yang mereka sembah. Simaklah Allah berfirman, Mereka menjawab: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu”.
Karena mereka minta tambahan persyaratan maka Allah swt. memerrintahkan Nabi Musa agar menjelaskan persyaratan tambahan tersebut. Lalu Allah swt. menyuruh Nabi Musa agar segera menutup dialog itu dengan penegasan agar perintah tersebut segera dilaksanakan. Dan agar mereka menghindari pertanyaan-pertnyaan yang kelak akan membuat mereka semakin sulit. Allah swt. berfriman, Nabi Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah mengatakan bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu”. Perhatikan penutupan ayat ini, sungguh sangat jelas bahwa Allah swt. telah memudahkan sapi tersebut, dan mereka tidak usah bertanya lagi. Karena yang paling penting adalah sapi apa saja. Tidak ada persyaratan apapun. Tetapi malah mereka tidak berhenti di sini. Mereka semakin mempersulit diri dengan meminta persyarata lain lagi. Simaklah Allah swt. berfirman, “mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya”.
Di sini mereka lagi-lagi meminta warna, padahal Allah swt. tidak minta warna khusus bagi sapi yang harus disembelih. Namun karena itu memang permintaan mereka maka Allah swt. mewahyukan kepada Nabi Musa agar menambahkan persyaratan lain lagi berupa warna, sebagai hukuman atas perbuatan mereka yang mempersulit diri. Allah swt. berfirman, Nabi Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya”. Dengan ini sebenarnya sudah cukup jelas. Seharusnya mereka langsung mencari sapi tersebut. Namun ternyata mereka belum merasa cukup dengan semua penjelasan tersebut. Dengarkan Allah swt. berfirman, Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu)”. Perhatikan bagimana kerasnya hati mereka. Sapi yang sudah jelas ciri-cirinya malah dianggap samar. Ini sungguh pertanyaan yang sia-sia dan tidak bermakna sama sekali. Dan ini mereka perbuat tidak lain hanya untuk menunjukkan bahwa mereka tidak percaya dengan penjelasan Allah saw. dan RasulNya.
Maka atas dasar permintaan tersebut, Allah swt. menambah persyaratan lain lagi. Supaya mereka semakin sulit untuk mendapatkannya. Allahb swt. berfirman, Nabi Musa berkata: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya”. Lalu atas penjelasn ini, mereka baru mengakui bahwa ini baru jelas. Padahal sebelumnya lebih mudah dan lebih jelas, mereka malah baru mengakui bahwa setelah diberi sekian persyaratan baru jelas. Allah swt. berfirman, “Mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya”. Lalu Allah swt. menggambarkan bahwa mereka hampir-hampir tidak mendapatkan sapi tersebut. Allah swt. berfirman : “Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu”.
Rahasia Diakhirkannya Penjelasan Sebab Penyembelihan Sapi
Setelah cerita mengenai perintah penyembilhan sapi yang cukup alot, Allah swt. lalu menjelaskan sebab perintah itu. Bahwa sebabnya adalah peristiwa pembunuhan yang tidak diketahui siapa pembunuhnya. Alah swt. berfirman : “Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan”. Di sini ditegaskan oleh Allah swt. bahwa dengan penyembelihan sapi nanti akan disingkap siapa pembunh yang sebenarnya.
Lalu setelah itu Allah swt. menjelaskan caranya, bagaimana supaya sapi yang disembelih itu bisa bermanfaat untuk mengetahui sang pembunuh. Yaitu dengan cara mengambil sebagian daging dari sapi tersebut lalu dipukulkan kepada jasad si mayyit. Allah berfirman : “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!” Dan benar, seketika mayyit itu hidup lagi, lalu memberitahukan identitas pembuhnya, yaitu saudara sepupunya yang paling bernafsu untuk menguasai hartanya. Allah swt. berfriman : “Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dam memperlihatkan padamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti”.
Mengapa penjelasan ini diakhirkan, padahal seharusnya diawalkan: (a) Untuk membuat penasaran, sehingga seorang pembaca terus terpanggil untuk membaca, sampai cerita itu selesai. (b) Untuk menguji kejujuran iman, karena tabiat iman, biasanya langsung patuh sekalipun tanpa mengetahui sebabnya. Lebih-lebih perintah itu dari Allah swt. dan rasulNya yang pasti benar. Itulah rahasia mengapa Allah swt. dalam banyak ayat selalu memulai dengan panggilan “ya ayyuhal dziina aamanu” (wahai orang-orang yang beriman) itu tidak lain agar setiap perintah yang datang dari Allah langsung dilaksankan, sekalipun tidak tahu sebabnya. Ambil saja shlalat misalnya, jika kita tidak tahu mengapa kita harus ruku’ dan sujud, lakukan saja, karena memang demikian perintahNya. (c) Allah swt. tidak ingin dalam kita mentaatiNya berdasarkan sebab-sebab. Sebab kepatuhan yang demikian tidak berdasarkan iman, melainkan berdasarkan sebab-sebab. Maka amal salih apapun yang dibangun di atas sebab-sebab (bukan karena kepatuhan kepada Allah swt.) itu ditolak oleh Allah swt. Seperti seorang berpuasa karena ingin sehat misalnya, maka puasanya ditolak. Sekalipun memang salahsatu mamfaat puasa adalah kesehatan. Tetapi jangan sampai ia berpuasa karena ingin sehat. Melainkan lakasankan puasa tersebut karena ketaatan jkepada Allah swt. kalau seseorang ingin sehat sebaiknya olahraga saja. Biarkan puasanya sebagai ibadah untuk Allah swt. dan ikhlah karenaNya, sehat atau tidak. Wallahu a’lam.