Al Baqarah : 61
Ketamakan dan Dosa-dosa Besar Kaum Yahudi
Dr Amir Faishol Fath
وَإِذْ قُلْتُمْ يَا مُوسَى لَنْ نَصْبِرَ عَلَى طَعَامٍ وَاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِتُ الْأَرْضُ مِنْ بَقْلِهَا وَقِثَّائِهَا وَفُومِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا قَالَ أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْرٌ اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُمْ مَا سَأَلْتُمْ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (61)
Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.
Rahasia Urutan Ayat
Ayat ini masih lanjutan mengenai nikmat-nikmat yang telah Allah berikan kepada Kaum Yahudi. Bahwa Kaum Yahudi masih bsersikap negatif terhadap nikmat-nikmat tersebut. Sekalipun mereka telah diberi makanan yang terbaik, berupa al mann (makanan yang rasanya manis dan lezat) dan as salwa (berupa daging burung yang segar), dan kedua makanan ini tidak hanya klezat tetapi juga merupakan gabungan yang penuh gizi. Namun Kaum Yahudi tidak menghargai pemebrian ini. Mereka malah meminta makanan yang jauh lebih rendah kualitasnya. Apa yang penting untuk kita catata di sini adalah : (a) Bahwa Kaum Yahudi telah buta hatinya, mereka tidak melihat bagaimana dahsyatnya mukjizat makanan ini yang datang langsung dari langit. Itu pun mereka tidak menghargainya dan tidak merasa bangga dengannya. (b) Mereka tidak melihat keistimewaan makanan ini, sehingga mereka mudah merasa bosan dengannya dan malah mencari makanan yang berselera rendahan. (c) Mereka tidak melihat perlakukan yang sangat istimewa ini terhadap mereka, sehingga mereka tidak merasakan penghargaan ini dan lebih jauh mereka tidak mau berterima kasih kepada Allah swt. yang telah memberikan nikmat tersebut dengan cara yang sangta manakjubkan di depan mata mereka. (d) Mereka tidak melihat bahwa turunnya makanan ini adalah mukjizat, atau dengan kata lain itu belum cukup di mata mereka untuk dianggap sebagai mukjizat, sehingga mereka tidak kagum dengan kebesaran Allah swt. Dan bahkan mereka menganggap bahwa itu adalah peristiwa biasa-biasa saja. Sehingga mereka menolak makanan tersebut dan mencari makanan yang lain.
Bukti Ketamakan Kaum Yahudi
Allah swt. berfriman : Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. Dari ayat ini ada beberapa bukti bahwa kaum Yahudi sangat tamak dan tidak menghargai nikmat Allah swt. Lebih dari itu mereka malah membalas nikmat-nikmat tersebut dengan dosa.
Adapaun bukti dari ketamakan mereka adalah bahwa mereka tidak merasa puas dengan makanan yang sangat tinggi kualitasnya dan makanan tersebut langsung diturunkan dari langit. Mereka malah minta agar mendapatkan makanan yang berkualitas rendah dan hasil dari apa yang mereka tanam sendiri. Allah swt. merekam kejadian ini dalam firmanNya : Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Dari redaksi ini kita pahama beberapa makna : (a) bahwa mereka menginginkan makanan yang bermacam-macam bukan hanya satu macam makanan. (b) bahwa macam-makanan yang mereka minta adalah makanan yang biasa dimakan oleh para budak, dan kaum Yahudi memang selama di biawah kerajaan Fir’un telah diperlakukan sebagai budak. Ini menunjukkan bahwa kauam Yahudi masih sangat menyukai hidup seperti para budak dan bermental sebagai budak.
Akibat Ingkar Terhadap Nikmat
Apa akibat dari permintaan mereka ini? Allah swt. menceritakan ucapan Nabi Musa kepada mreka: Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah”. Dari ayat ini kita mendapat penjelasan bahwa kaum Yahudi mengalami akibat-akibat sebagai berikut :
(1) Allah swt. menganggap bahwa apa yang mereka minta adalah sesuatu yang berkualitas rendahan dibandingan apa yang telah Allah berikan. Dan bagi Allah itu adalah tindakan menghinakan diri. Pertama, perhatikan kata “istabdaluu bi” yang menunjukkan makna bahwa mereka meninggalkan yang satu dan mengambil yang lain. Ini artinya bahwa mereka telah meninggalkan apa yang baik dan mengambil apa yang kurang baik. Maksudnya bahwa al mann dan as salwa sebenarnya jauh lebih baik bagi mereka dan sangat sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Di sini seakan dikatakan kepada mereka : Apakah kamu akan menukar maknanan yang baik ini yang datang langsung dari Allah dengan perintahNya “kun” dengan makanan yang kamu tanam sendiri yang serba tidak terjamin kualitasnya. Kedua, bahwa makanan yang mereka minta itu tidak lebih baik dibanding dengan makanan yang langsung dari langit dengan perintah “kun” (terjadilah) maka terjadi. Sebab buah-buahan dan sayur mayur itu adalah hasil dari proses natural yang bergantung kepada sebab musabab yang serba tidak sempurna dan penuh kekuarangan. Ketiga, bahwa rizki yang didapat dari proses sebab musabab di dunia adalah fitnah, sementara rizki yang didapat langsung dari Allah adalah kahir. Mengapa? Sebab segala proses sebab musabab duniawi hamper tidak terlepas dari halal-haram. Itulah rahasia zakat, sebagai pembersihan terhadap yang kurang halal. Adapun yang langsung dari Allah bisa dipastikan kebersihan dan kehalalanNya.
(2) Mereka diperintahkan agar pergi bercocok tanam sendiri. Nabi Musa as. berkata kepada mereka: “Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Dalam tekas aslinya dikatakan “ihbiyhuu mishran”, di sini para ahli tafsir menjelaskan mengenai kata “mishran” dengan menggunkan tanwin. Apakah maksudnya megeri mesir atau ada makna lain. Dalam Al Quran, Allah swt. menyebutkan kata “mishr” tanpa menggunakan tanwin di beberapa tempat : Dalam surah Yunus 87 : “tabawwa’ liqawmikuma bimishra buyuutan”. Dalam surah Az Zukhruf : 51 : “alysa lii mulku Mishra”. Dalam surah Yusuf : 21: “alladzii isytraahu min Mishra”. Juga surah yang sama : 99 : “udkhuluu Mishra insyaa Allah aaminiin”. Semua kata Mishra dalam ayat-ayat tersebut maksudnya adalah negeri Mesir yang dilintasi sungai Nil. Karenanya tanpa menggunakan tanwin, sebab itu ismul alam. Adapun kata “mishran” yang menggunakan tanwin seperti pada ayat di atas maksudnya adalah setiap wilayah perkampungan yang di dalamnya terdapat lembah-lembah pertanian, yang ditumbuhi pohonan dan sayur mayur.
(3) Mereka ditimpa kehinaan dan kenistaan. Allah swt. berfriman : “wadhuribat ‘alaihumudzdzillatu wal maskanatu”. Kata hina disebutkan dengan istilah “adz dzillatu” dan kata nista disebut dengan istilah “al masakanatu”. Kedfua kondisi dicapkan atau disetempelkan kepada kaum Yahudi secara kuat dan terus menerus hingga mereka sulit melepaskannya kecuali dengan pertolongan dari kekuatan lain. Inilah makna kata “dhuribat” dalam ayat di atas. Dan akan semakin jelas jika kita membaca ayat lain dalam surah Ali Imran : 112, : “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan”. Di sini jelas bahwa mereka tidak akan bisa keluar dari kehinaan dan kenistaan kecuali mereka berpegang teguh kepada tali Allah, seperti dulu ketika mereka di Madinah, di zaman Rasulullah saw. mereka masih berpegang teguh dengan tali perjanjian bersama Rasulullah saw. dan orang-orang beriman, maka mereka terlindungi oleh perjanjian tersebut. Atau berpegang kepada tali perjanjian dengan manusia, seperti sekarang mereka berlindung di bawah perjanjian dengan Amerika. Maka selama mereka komitmen dalam perjanjian mereka ama, tetapi jika mengkhianati sekatika mereka kan hina dan nista. Jadi sampai kapanpun kaum Yahudi akan terus menerus dalam ketergtantungan terhadap kekuatan lain. Sedikit mereka dilepas langsung seperti ban mobil yang dikempesin anginnya, seketika ia menjadi hina dan tidak berdaya apa-apa. Sampaipun mereka hari ini mempunyai Negara, itu bukan Negara yang sebenarnya, sebab keberadaan Negara tersebut tidak memenuhi syarat untuk memberikan rasa aman dan stabil. Mereka terus menerus membutuhkan dukungan kekuatan dari luar, sebab Negara tersebut adalah Negara yang bersandar kepada kekuatan lain. Bila kekuatan dari luar itu lemah dan roboh, atau meninggalkannya, maka Negara Yahudi itu otomatis akan lumpuh dan runtuh.
(4) Mereka mendapat kemurkaan dari Allah swt. Allah swt. berfriman : “serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah”. Dalam hal ini Allah swt. menggunakan bahasa “ wa baa’uu bi ghadabin minallah” yang artinya mereka kembali lagi menyandang gelar dimurkai. Jadi seakan kemurkaan Allah sudah melakat menjadi jati diri mereka. Itu tidak lain karena mereka terlalu sering berbuat dosa. Dan dosa yang mereka perbuat bukan dosa biasa, melainkan dosa-dosa besar. Dan dari saking biasanya mereka berbuat dosa, sehingga mereka tidak merasa berdosa dengan perbuatan tersebut. Bahkan mereka dengan sengaja bermain-main dengan dosa, merekayasa dosa dan menyebarkannya, bahkan mereka bangga jika seluruh kemanusaiaan di semua belahan bumi menjadi pora-poranda karena dosa-dosa yang mereka sebarkan. Mengapa? Karena mereka sudah terbiasa melakukan dosa yang lebih dari itu semua, seperti memebuhuh Nabi-nabi Allah swt.
Dosa-dosa Besar Yang Mereka Perbuat
Dalam penutup ayat Allah swt. berfriman : “Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas”. Dari ayat ini jelas bahwa mereka diadzab oleh Allah dengan segala bentuk kehinaan dan kemurkaan, adalah karena mereka telah melakukan dosa-dosa besar. Di antara dosa-dosa besar tersebut adalah sebagai berikut :
Pertama, mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah. Maksudnya : (a) mereka selalu mengingkari nikmat-nikmat Allah, seperti nikmat diselmatakannya dari ancaman Fir’un, dibelahnya laut Merah sehingga mereka bisa menyebarnginya dengan selamat lalu dengan laut tersebut kaum Fir’un ditenggelamkan. Diberikannya mata air yang memncar dari batu, diberikannya makanan langsung dari langit berupa al mann dan as salwa dan lain sebagainya. Semua nikmat-nikmat tersebut sngat luar biasa, dan berupa mukjizat, tetapi mereka kagum dengannya dan bahkan tidak mensyukurinya. Allah swt. yang telah memberikan nikmat-nikmat tersebut tidak mereka agungkan. Dan mereka tidak pernah berterima kasih kepada Allah dan RasulNya atas nikmat-nikmat tersebut. Bahkan mereka membalas semua itu dengan maksiat dan dosa-dosa. (b) mereka tidak patuh kepada ajaran yang Allah swt. turunkan. Bukan hanya mbahkan mereka berani mngubah-ayat-ayat Allah swt. dalam surah Al Maidah : 13, Allah swt. berfirman : Dan diantara orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani”, ada yang telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka Kami timbulkan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang mereka kerjakan. (c) mereka tidak beriman kepada Allah swt. dan RasulNya, karenanya mereka dianggap kafir oleh Allah swt. Maka sungguh tidak benar orang-orang libral yang menganggap orang yahudi masih di jalan yang benar. Tidak mereka telah dianggap kafir oleh Allah swt. Dalam surah Al Bayyinah :6, Allah swt. berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk”.
Kedua, mereka selalu membuh para nabi. Di tegaskan dalam redaksi ini bahwa perbuatan mereka itu “bighair haq” padahal semua pembunuhan terhadap para nabi adalah tidak benar, ini untuk menunjukkan betapa besarnya dosa yang telah mereka perbuat. Para nabi adalah utusan Allah swt. yang melanjutkan risalah para Rasul sebelumnya. Jadi mereka adalah contoh pribadi yang melaksanakan risalah tetapi mereka tidak membawa risalah baru, dan hanya melanjutkan risalah yang dibawa rasul sebeluymnya. Adapun Rasul adalh utusan Allah swt. yang membawa risalah baru. Kedaunya sama-sama terhaga dari dosa. Kaum yahudi tetap menolak para rasul dan nabi. Dan Allah swt. telah begitu banyak mengutus nabi-nabiNya ke tengah-tengah mereka. Tetapi mereka tidak suka dengan kehadiran nabi-nabi tersebut. Sebab dengan hadirnya nab-nabi segala kebusukan yang mereka sembunyikan menjadi terungkap. Segala tipu daya yang rancang menjadi terhambat. Pun segala penyimpangan dan perombakan terhadap teks-teks ayat akan nampak dipermukaan. Mereka tidak ingin menjadi baik dengan datangnya nabi-nabi tersebut. Marema malah ingin tertap bertahan dalam kebobrokan prilaku dan kebusukannya. Itulah sebabnya mengapa-nabi itu dibunuh oleh mereka. Setiap datang nabi langsung mereka bunuh. Dan hakikat ini tidak hanya ceritakan dalam ayat ini, tetapi juga diceritakan di tempat-tempat lain dalam Al Quran. Di antaranya : Dalam surah Ali Imran : 112 : Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.
Ketiga, mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas. Allah swt. berfirman : “Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas”. Maksudnya mereka ters dikuasi oleh ketemakan tanpa batas, akibatnya mereka menjadi kaum rela menghinkan dirinya di depan materi. Mereka rela berbuat kekejian hanya demi harta. Mereka dipenuhi rasa denggki dan hasud yang mendalam, sehingga mereka mau berbuat apa saja, samapai ke tingkat menuhankan uang dan harta. Karenanya mereka tidak pernah puas dengan apa yang mereka dapat. Dan kerakusan ini terus mengasai mereka. Sehingga mereka trombang-ambing dalam kebingungan. Dan karenanya mereka tidak akan pernah meneukan tempat yang stabil di manapun mereka berada. Itulah akibat dari kedurhakaan yang mereka perbuat, dan akhirnya mereka terus menerus dalam kondisi melampaui batas. Maksdunya mereka terus berbuat dosa dan maksiat tanpa batas akhir. Semua hidup mereka dalah dosa. Dan semua program mereka adalah penghancuran terhadap kemanusiaan. Dan tidak akan pernah datang dari mereka kecuali perngrusakan di muka bumi. Berdasarkan ini nampak bahwa mereka adalah satu-satunya kaum yang tidak bisa diharapkan dari mereka kebaikan. Itulah sebabnya mengapa mereka sepanjang sejarah tidak pernah sempat mebangun peradaban, sebab pekerjaan mereka hanya membunuh para nabi dan mengingkari serta menyembunyikan kebenaran.