Al Baqarah : 78 – 79
Dua Golongan Kaum Yahudi
Dr. Amir Faishol Fath
وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ (78) فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ (79)
Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.
Rahasia Urutan Ayat
Ayat sebelumnya menggambarkan betapa kaum Yahudi sudah tertutup hatinya. Maka mereka sulit menerima kebenaran Islam. Sebab mereka bukan tidak tahu, bahkan mereka benar-benar tahu kebenaran risalah yang dibawa rasulullah saw. Tetapi mereka pura-pura tidak tahu, lebih dari itu mereka sengaja berusaha menghilangkan kebenaran tersebut. Mereka dengan tanpa takut kepada Allah swt. mengubah teks kitab suci Tawrat yang didalamnya terdapat keterangan mengenai sifat-sifat Rasulullah saw. Mereka menganggap bahwa Tawrat itu kitab biasa, sehingga mereka senak nafsunya melakukan penghilangan terhadap ayat-ayat tertentu yang berkaitan dengan kebenaran Islam. Itu semua mereka lakukan karena mereka tidak ingin ada kebenaran selain dari mereka. Mereka ingin menunjukkan bahwa yang benar hanya dari mereka dan selain itu salah. Sedemikian rupa sehingga mereka meposisikan diri selevel dengan Allah, sehingga mereka berani mengubah ayat-ayat Allah swt. Sungguh itu perbuatan dosa paling besar, tetapi oleh mereka dianggap enteng, karena kesombongan dalam diri mereka.
Lalu pada ayat ini Allah swt. menggambarkan dua golongan kaum Yahudi. Bahwa tidak semua kaum Yahudi satu level dalam mendustakan Islam. Di anatar mereka ada yang memang awam, tidak mengerti apa-apa, tidak bisa membaca dan menulis bahkan mereka hanya ikut-ikutan saja apa kata pemimpinnya. Mereka oleh Allah disebut “ummyun”. Tetapi selain mereka ada golongan yang sangat tahu kebenaran, dan berusaha menyembunyikan keberan tersebut. Dari saking tahunya mereka akan kebenaran islam sampai-sampai Allah swt. menggambarkan seperti mereka mengenal anak-anak mereka sendiri. Allah swt. berfriman dalam surah Al Baqarah, 146 : “Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui”. Perhatikan ayat ini, betapa Allah swt. sangat jelas menunjukkan bahwa kaum yahudi benar-benar mengetahui kebenaran Islam. Tetapi mereka dengan sengaja menolaknya karena mereka gengsi. Mereka terlanjur merasa tinggi, sehingga takut turun derajat jika beriman kepada Rasulullah saw. Inilah suatu kesombongan yang nyata.
Para “Ummyun” Yang Buta Huruf
Allah swt. berfirman : “Dan diantara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga”. Dalam ayat ini kita menemukan kata ummy, satu akar kata dengan “al um” yang artinya ibu. Dikatakan ummy karena mereka seperti baru lahir dari ibu mereka yang tidak mempunyai wawasan sama sekali, tidak bisa membaca dan menulis dengan kata lain disebut “buta huruf”. Itulah mengapa masyarakat Arab menggunakan istiilah “ummy” ini karena pada dasarnya anak yang baru lahir dari rahim ibunya tidak mengenal huruf pun tidak punya pengetahuan apa-apa. Untuk menjelsakan maksud ayat ini ada beberapa makna sebagai berikut:
Pertama, Maksud “kata ummiyun” adalah mereka yang tidak bisa membaca sama sekali. Sehingga mereka tidak kenal isi kitab Taurat, Mareka ikut saja apa kata tokoh mereka. Bila tokoh mereka tidak beriman kepada Rasulullah saw. mereka ikut tidak beriman. Bila tokoh mereka memusuhi umat Islam, mereka juga ikut memusuhi. Padahal mereka tidak tidak tahu alasan mengapa Rasulullah danm umatnya dimusuhi. Mereka hanya mendapatkan gambaran negatif tentang Rasulullah saw. dan umatnya. Seperti yang kita saksikan akhir-akhir ini di mana begitu banyak propaganda negatif mengenai Islam dan orang Islam. Dan balck campaign seperti sudha berlangsung sejak dulu. Islam dan ulatnya memang selalu digambarkan seakan mengancam dan menakutkan. Sampai-sampai mereka menulis sebuah judulnya “Seandainya Dunia Tanpa Islam”. Dalam buku ini digambarkan bahwa seandainya tidak ada Islam, niscara dunia ini akan damai, tidak ada peperangan dan lain sebagainya. Jadi sejatinya buku tersebut hanya untuk membangun image bahwa Islam adalah ancaman. Maka umat Islam adalah manusia-manusia yang kejam dan bengis. Tidak berpri-kemanusiaan. Padahal hakekatnya mereka sendiri yang membuat permusuhan dan pertumpahan darah di muka bumi.
Dan dari cara penggambaran buruk seperti ini tentang Islam, otomatis mereka yang buta huruf, dan tidak punya wawasan tentang agam-agama, mudah terpengaruh. Akibatnya mereka ikut-ikutan memusuhi Islam dan umat Islam. Jadi sebetulnya para ummyun itu belum tentu dalam diri mereka tersimpan permusuhan terhadap Islam. Boleh jadi mereka sebenarnya baik-baik saja. Mereka memusuhi umat Islam hanya karena termakan oleh opini. Sementara mereka tidak bisa membaca sendiri karena buta huruf.
Kedua, “Ummuyun” adalah mereka yang tidak tahu mengenai perubahan yang terdapat dalam kitab suci mereka. Seperti penghilangan teks-teks yang menjelaskan sifat-sifat Rasulullah saw. yang diperbuat oleh tokoh-tokoh mereka. Dan karena itu mereka tidak beriman kepada rasulullah saw. Dan boleh jadi seandainya mereka tahu teks yang sebenarnya, mereka akan bnerbalik lalu mereka menerima Islam dengan kesadaran yang dalam. Inilah makna ayat “ mereka tidak mengetahui Al Kitab (Taurat)”. Maksudnya mereka tidak mempunyai maklumat yang lengkap mengenai isi Al Kitab (Taurat) sehingga mereka salah paham tentang kerasulan Rasulullah saw. .
Ketiga, Mereka adalah orang-orang yang tidak kenal hakikat agama mereka kecuali hanya beberapa selogan yang mereka karang sendiri. Seperti ungkapan bahwa mereka adalah bangsa pilihan Allah “sya’bullah al mukhtaar”, bahwa para nabi adalah harus dari keturunan mereka dan sebagainya. Semua ini adalah selogan dusta yang mereka yakini. Akibatnya dari persepsi yang salah ini muncul prilaku mereka yang menyimpang. Sehingga mereka menganggap rendah terhadap bangsa lain. Lebih parah lagi, merela beranggapan bahwa bangsa lain bukan manusia dan halal darahnya. Inilah barangkali yang kemudian membuat mereka bertindak semena-mena dan melakukan pembunuh tanpa batas terhadap rakyat Paletina yang tidak berdosa.
Keempat, Mereka adalah orang-orang yang hanya mendapatkan informasi sedikit tentang isi al kitab Taurat yang mereka yakini. Dan yang paling banyak mereka ketahui hanya bagian-bagian dongeng yang tidak ada dasarnya. Kata “amaany” dalama ayat adalah jamak dari kata “umniyatun” yang artinya apa saja yang sukai orang agar terjadi, tetapi terwujudnya kejadian tersebut bisa dikatakan mustahil. Dalam bahasa kita disebut dengan angan-angan. Karenanya orang Arab menggunakan istilan “tamanny” bagi mereka yang berangan-angan dengan khayalan. Sebab angan-angan tersebut tidak mungkin tercapai. Ketika seorang penyair menggunakan kata “layta” dalam kritik sastra itu disebut “lit tamanny” (sekedar angan-angan). Contoh dalam Al Quran ketika Allah swt. menggambarkan orang-orang kafir di alam akhirat, Allah swt. menggunakan kata “layta”, karena orang-orang kafir tersebut berangan-angan jadi debu, seperti binatang-binatang yang dibinasakan menjadi debu. Allah swt. merekam apa yang akan mereka katakana kelak sebagai berikut : “yaa laytani kuntu turabaa” (alangkah enaknya jika aku jadi debu). Ini sungguh hanya angan-anagan belaka. Karena mereka bukan binatang. Binatang tidak akan dihisab. Maka wajar kalau dijadikan debu oleh Allah. Sebaliknya manusia pasti dihisab, maka pernyataan mereka hanya angan-angan. Mereka katakana itu karena mereka ingin menghindari adzab Allah swt. Tidak mungkin angan-angan mereka tersebut terjadi. Mereka pasti diazdab karena kekafiran yang mereka perbuat. Dan mereka akan hidup selamanya dalam neraka dan tidak akan pernah menjadi debu.
Lalu apa hubungannya dengan dongeng? Dongeng adalah kumpulan cerita yang terjadi dan tidak akan ada kenyataanya. Karenanya pada ayat di atas Allah swt. menggunakan kata :”amaany” untuk makna dongeng. Selain kata “amaany” Allah swt. juga menggunakan kata “asaathir” yang artinya juga dongeng. Dalam bayangan kaum Yahudi yang tergolong ummiyuun itu, Al Quran tergambar seakan kumpulan dongeng-dongeng belaka. Tidak ada yang penting untuk dijadikan panduan. Dan memang hanya ini yang mereka dapatkan dari tokoh-tokoh mereka. Inilah makna firman Allah: “kecuali dongengan bohong belaka”.
Kelima, Mereka adalah orang-orang yang menduga-duga berdsarkan prilaku tokoh-tokoh mereka, atau berdasarkan sikap mayoritas kalangan mereka. Jadi sebenarnya mereka tidak punya sikap yang kokoh dalam menolak kerasulan Rasulullah saw. Karena apa yang mereka perbuat hanya berdasarkan praduga. Inilah makna firman Allah swt. pada ayat berikutnya : “…mereka hanya menduga-duga”. Benar, mereka menduga-duga karena mereka tidak punya pegangan yang pasti benar yaitu wahyu.
Dari penjelasan di atas kita paham bahwa ummyun adalah kaum yang tidak tahu apa-apa mengenai kitab suci yang mereka yakini. Mereka tiba-tiba mendapatkan kitab suci tersebut sedemikian rupa dari tokoh-tokoh mereka. Lalu mereka membenarkannya apa adanya berdasarkan praduga. Maka muncullah pemahaman seperti yang direkayasa oleh tokoh-tokoh tersebut. Dan dari proses seperti inilah agama-agama karangan manusia lahir. Jadi dengan ini Allah swt. ingin menjelsakan bahwa di natara orang Yahudi itu ada segolongan yang membawa kitab Taurat, tetapi mereka tidak tahu bahwa di dalamnya sudah ada perubahan dan penyimpangan yang direkayasa oleh tokoh-tokoh mereka. Mereka itu disebut oleh Allah swt. sebagai golongan “ummyuun”. Dalam Al Quran mereka diumpamakan seperti keledai yang membawa Al Kitab, bahkan mereka lebih rendah lagi, karena keledai memang tidak punya akal, sementara mereka punya akal. Allah swt. berfirman :
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ [٦٢:٥]
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.
Tokoh-tokoh Agama Yang Menyesatkan
Lalu Allah swt. menyebutkan golongan yang kedua yaitu tokoh-tokoh Yahudi yang mengetahui isi Al Kitab, dan mengetahui bahwa di dalamnya ada penjelsan mengenai sifat-sofat Rasulullah saw. tetapi mereka dengan sengaja menyembunyiakn kesaksian tersebut, bahkan mereka menghilangkannya dari teks yang asli. Allah swt. berfirman : “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan”.
Perhatikan bagiamana Allah swt. menggambarkan golongan ini. Bandingkan dengan gaya penjelasan sebelumnya mengenai golongan ummiyun. Sungguh berbeda jauh. Di sana Allah swt. tidak menggunakan ancaman. Sementara di sini Allah swt. menyebutkan ancaman berkali-kali. Seperti pengulangan kata “wailun” sampai tiga kali, yang artinya celaka, itu untuk menjamin bahwa keburukan mereka sudah keterlaluan. Dan mereka harus diadzab. Karena mereka tidak saja bebrbuat maksiat kepada Allah tetapi mereka sudah meletakkan diri mereka selevel dengan Allah swt. sehingga mereka merasa berhak mengubah firmanNya seenak nafsu mereka.
Kata “wailun” dalam Al Quran digunakan untuk beberapa makna: (a) untuk makna celaka dan adzab yang harus ditimpakan kepada para pendosa. (b) untuk makna penyesalan karena mereka lalai akan siksaan Allah swt. seperti dalam surah Al Anbiya’, 97:
يَا وَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِّنْ هَٰذَا بَلْ كُنَّا ظَالِمِينَ [٢١:٩٧]
(Mereka berkata): “Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim”.
(b) “Al Wail adalah nama lembah di neraka jahannam yang sangat dalam, di mana kelak para penghuninya dijatuhkan dilamnya dan baru akan tiba disaranya setlah empat puluh tahun. Jelasnya dalah bahwa kata wail adalah ancaman dari Allah begi mereka yang berani melawan Allah dengan melakukan dosa besar. Apalagi dosa mengubah ayat-ayat Allah swt. sungguh mereka akan mendapatkan siksa yang berliapat ganda kepediahnnya. Jadi semua bentuk siksaan yang paling pedih atas mereka disebut wail.
Lalu, maksdud kata “yaktubuuna biaydiihim” (mereka menulis dengan tangan mereka sendiri), adalah untuk menggambarkan betapa mereka benar-benar melakukan pengubahan terhadap ayat-ayat Allah swt. dengan sengaja. Mereka tidak sekedar memberikan perintah, agar ayat-ayat tersebut diubah. Pun juga mereka tidak sekedar mendekte, tetapi mereka benar-benar melakukannya dengan tangan mereka sendiri. Untuk memastikan bahwa pengubahan tersebut sudah terjadi. Perhatikan bagaimana mereka memang bersungguh-sungguh untuk menghilangkan bukti-bukti kerasulan Rasulullah saw. dan kebenaran Islam dari Al Kitab. Maka maslahnya bukan maslah kecil, tetapi bagi mereka ini adalah target besar yang harus dituntaskan dan dipastikan ketuntasannya. Setelah dipastikan, mereka lalu mendeklarasikan bahwa itu semua dari Allah swt. agar apa yang mereka ubah mendapatkan pengakuan. Padahal itu semua adalah kedustaan yang nyata.
Apa tujuan yang ingin mereka capai? Jawabannya adalah untuk : “untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu”. Dalam ayat dikatakan “liyasytaruu tsamanan qalilaa”, padahal kata “tsaman” maknanya harga. Seharusnya “liyastarru sil’atan” (membeli barang). Di sini ada makna penting bahwa mereka menjual ayat-ayat Allah, dengan harga yang murah yaitu dunia. Maksudnya mereka ingin mendapatkan keuntungan duniawi dengan mengubah ayat-ayat Allah swt. Dan ketahuilah bahwa semua keuntungan duniawi sebanyak apapaun tetap sedikit. Contohnya mereka ingin mendapatkan kekuasaan di muka bumi. Maksudnya bahwa merekalah yang sebenarnya kaum yang paling benar dan berhak mewariskan kepemimpinan. Sebab dengan adanya jastifikasi wahyu mereka merasa akan lebih mudah dalam mencapai kepemimpinan tersebut. Karenanya mereka mengatakan bahwa itu dari Allah swt. sebab dengan pengakuan tersebut mereka yakin akan mendapatakan penerimaan dari orang lain dengan cepat tanpa melalui perselisihan. Wallahu a‘lam bishshawab.
Setelah itu kita mendapatkan pengulangan ancaman yang sangat kata “wailun”. Perhatikan ayat di atas dibuka dengan firmannya :
فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ
Setelah itu Allah swt. menegsakan kembali dengan berfirman :
فَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ
Lalu Allah swt. menegaskan lagi dengan firmanNya :
وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُونَ
Ini untuk menegaskan bahwa mereka akan mengalami kecelakaan dan adzab yang sangat pedih berlipat-lipat: Kecelakan pada saat mereka mengubah ayat-ayat Allah dengan tangan mereka. Lau kecelakaan pada saat mereka memastikan bahwa pengubahan tersebut sudah terjadi dan akan terus dipertahankan. Dan ini makna fiil madhi yang artinya lampau untuk menunjukkan bahwa perubahan tersebut sudah paten dan tidak akan dikembalikan lagi kesalnya. Adapun fiil mudhare’ yang menunjukkan kondisi sekarang dan yang akan datang, itu untuk menggambarkkan bahwa mereka akan terus mengawal pengubahan tersebut sampaia kapanpun dengan segala cara. Lalu mereka akan mengalami kecelakaan pada saat mereka mendapatkan keuntungan dari pengubahan tersebut. Inilah makna “yaksibuun”. Bahwa mereka sekalipun beruntung dengan kejahatan tesrebut, mereka tetap tidak akan pernah aman. Melainkan mereka akan terus terancam dan pasti akan mendapatkan adzab yang sangat pedih selamanya, jika tidak di dunia pasti di akhirat.
Di sini jelas bahwa kaum Yahudi tidak satu level dalam mendustkan ajaran Islam. Pun juga tidak satu level dalam menerima hukuman dari Allah swt. kelak di hari Kiamat.