Monday, July 21

Al Baqarah : 75 – 77

Jangan Terlalu Berharap Terhadap Kaum Yahudi

Dr. Amir Faishol Fath

أَفَتَطْمَعُونَ أَنْ يُؤْمِنُوا لَكُمْ وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِنْ بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (75) وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ قَالُوا أَتُحَدِّثُونَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاجُّوكُمْ بِهِ عِنْدَ رَبِّكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (76) أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ (77)

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: “Kamipun telah beriman,” tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: “Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu tidak menggunakan akalmu?” Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?

Rahasia Urutan Ayat

          Ayat sebelumnya menceritakan kerasnya hati kaum Yahudi. Bahwa hati mereka tidak saja sekeras batu, bahkan lebih keras lagi. Sebab dari hati mereka tidak mungkin diharapkan kebaikan sama sekali. Bandingkan dengan batu. Bahwa masih banyak batu yang memberikan manfaat. Bisa menjadi bahan bangunan dan bisa membelah dirinya untuk memancarkan mata air. Sebaliknya hati kaum Yahudi jauh lebih keras lagi. Mereka sepanjang sejarah tidak pernah mendatangkan kebaikan bagi kemanusiaan. Semua warisan sejarah yang mereka tinggalkan hanyallah kemaksiatan, dosa-dosa dan kekejaman. Dan telah terbukti bahwa mereka selalu membunuh nabi-nabi yang diutus kepada mereka.

          Lalu dalam ayat ini Allah swt. mengejarkan NabiNya bagaimana cara bersikap terhadap kaum Yahudi. Di sini Allah swt. memebrikan hiburan agar jangan terlalu berharap akan keimanan mereka kepadanya. Maksudnya jangan sedih jika mereka tidak mau masuk Islam. Sebab hati mereka sudah sangat keras dan sulit dimasuki kebenaran. Yang penting tugas pokoknya sudah dilaksanakan yaitu menyempaikan kebenaran Islam kepada mereka. Adapun mereka mau beriman atau tidak, itu terserah mereka. Sebab Allah tahu isis hati mereka. Dari sini ada bekal penting bagi seorang dai bahwa dalam menyampaikan dakwah jangan terlalu berharap bahwa semua orang harus menerima risalah yang disampiakannya. Sebab tidak semua manusia hatinya sama. Ada yang lembut dan siap menerima pesan yang disampaikan dan ada pula yang keras di mana ia menolaknya dengan kasar. Karena itu seorang dai harus selalu paham dengan benar bahwa tugas pokoknya menyampaikan secara maksimal. Bukan memaksa semua harus ikut dirinya. Maka jika mereka menerima bersyukurlah, sebaliknya jika mereka menolaknya bersabarlah dan teruskanlah berdakwah jangan sampai kapok sedikitpun.

          Dalam gambaran ini juga ada hikmah yang ingin Allah swt. sampaikan mengenai kaum Yahudi, sebab Nabi dan umatnya kelak akan selalu berhadapan dengan masalah yang mereka perbuat baik selama di Madinah maupun sampai sekaran dan kahir zaman. Benar, kaum yahudi itu telah membuat capek semua Nabi-nabi Allah. Pun juga telah membuat masalah besar selama bersama Nabi saw. di kota Madinah. Dan mereka terus membuat maslah sampai sekarang mengenai masjidil Aqsha dan Palestina. Dan ini belum selesai, dalam ayat ini ada isyarat bahwa mereka akan terus membuat masalah terutama terhadap umat Islam sampai akhir zaman. Berdasarkan ini maka setiap umat Islam harus benar-benar paham jika hari-hari ini menyaksikan mereka tidak pernah berhenti membunuh sudara-saudara kita di Palestina. Itu karena tabiat mereka yang memang kejam dan tidak bisa diajak untuk beriman kepada Allah swt. dan rasulNya.

          Benar, mereka nampaknya dimudahkan oleh Allah swt. dalam urusan dunia. Dan Allah swt. selalu mengingatkan mereka akan nikmat-nikmat tersebut. Tetapi mereka malah membalas semua nikmat itu dengan maksiat. Tetapi ada sebagai seorang muslim jangan segera buruk sangka kepada Allah swt. lalu mengatakan : kalau begitu lebih enak jadi orang kafir, di mana mereka dimudahlan semua urusannya, sementara kita yang patuh malah selalu dalam kesulitan dan kesengsaraan. Buruk sangka seperti ini bisa saja terjadi pada seorang muslim yang lemah imannya. Padahal apa yang sedang dialami kaum Yahudi dan orang-orang kafir lainya adalah kondisi yang lebih membahayakan. Mereka sebenarnya sedang menjalani proses “istidraj” dari Allah swt. Istidraj artinya masa waktu penagguhan di mana mereka memang sengaja dimudahkan segala urusannya untuk supaya mereka segera lengkap dosanya. Lalu setelah itu Allah swt. menjebloskan mereka kedalam siksaan yang sangat pedih setimpal dengan dosa yang tekah mereka perbuat.

Hiburan Bagi Rasulullah saw.

          Allah swt. berfriman kepada Rasulullah saw. : “Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui?”. Kata mereka dalam ayat maksudnya adalah kaum yahudi. Maksud ayat ini seakan Allah mengatakan kepada Rasulullah saw. : “Wahai Muhammad, apakah kamu masih berharap banyak terhadap kaum Yahudi itu agar mereka beriman kepada risalah Islam yang kamu bawa. Sungguh mereka tidak mau beriman. Lihatlah sebagian dari mereka terutama tokoh-tokoh agama yang mereka patuhi, sungguhpun mereka telah mendengar firman Allah swt. Tetapi karena mereka tidak mau beriman, maka ayat-ayat tersebut mereka ubah dan diselewengkan dari makan aslinya.

          Dalam penggunaan kata “at thama’” ada beberapa hakikat penting untuk kita pahami : (a) Tersirat pesan agar Rasulullah saw. jangan bersedih atas tidak berimannya kaum Yahudi terhadap dakwah yang ia sampaikan. Sebab kewajibannya bukan memaksa tetapi menyempaikan. Dan tugas ini sudah Rasulullah saw. laksanakan dengan baik. (b) tergambar kesungguhan Rasulullah saw. untuk mengislamkan semua manusia di muka bumi, apapun agama mereka, Yahudi, Nasrani dan lain sebagainya. Ini nampak dari penggunaan kata “ath thama’”. Allah swt. menggunakan kosa kata ini untuk menunjukkan betapa Rasulullah benar-benar sangat menginginkan agar semua penduduk bumi patuh kepada Allah swt. Sang Pencipta. Ini Rasulullah saw. lakukan karena ia telah merasakan manisnya tugas dakwah ini. (c) Kata “ath thama’” artinya mengejar sesuatu yang bukan pada haknya sekalipun sesuatu itu sangat ia sukai. Kalau dalam urusan harta kata “ath thama’” diartikan rakus. Di sini nampak seakan Nabi saw. rakus dalam berdkawah. Sekalipun secara dhahir sikap rakus ini cendrung negatif tetapi Nabi saw. malakukannya untuk tujuan positif. Namun Allah swt. menggunakan istilah ini untuk memberikan batasan kepada kepada Rasulullah saw. bahwa mengenai kaum Yahudi itu di luar wilayah hak dakwahnya. Seakan Allah swt. mengatakan : Wahai Muhammad, kalaupun kamu memang sangat berharap agar semua manusia di muka bumi ini beriman kepadaKu, tapi untuk kaum Yahudi tidak usah kamu terlalu berharap. Karena mereka memang sudah terlalu keras hatinya. (d) Terkesan Allah swt. menghibur Rasulullah saw. agar tidak bersedih karena orang-orang Yahudi itu tidak beriman. Dan ini bukan berarti gagal. Sebab tidak berimannya orang Yahudi karena karakter hati mereka yang sangat tertutup dan sulit dimasuki iman. 

          Lalu pada ayat berikutnya yang berbunyi : “padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui” ada dua catatan penting : Pertama, Allah swt. menggunakan pernyataan “segolongan dari mereka” (fariqun minhum), bukan pernyataan general “semuanya”, ini menunjukkan telitinya pernyataan tersebut. Sebab boleh jadi sebagian dari kaum Yahudi itu ada yang tersadar setelah melihat kebenaran lalu mereka beriman kepada Allah dan RasulNya. Kedua, Nampak dari ayat ini dosa kaum yahudi yang berlipat ganda : Mereka telah mendengarkan firman Allah, memahmi kandungannya, mereka tahu sifat-sifat Rasulullah saw. seperti yang digambarkan dalam kitab Taurat, pun mereka tahu akibat dosa-dosa dan maksiat yang mereka lakukan, itupun mereka masih mengubah dan menyelewengkan keaslian ayat-ayat Allah tersebut. Sungguh terlalu berani mereka kepada Allah swt.

Deklarasi Kemunafikan Kaum Yahudi

          Lalu Allah swt. menjelaskan bahwa di antara kaum Yahudi itu ada yang berwajah dua, bila mereka bertemua dengan orang-orang beriman mereka mengaku beriman, padahal dalam hati mereka tersembunyi kekafiran. Allah swt. berfirman : Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: “Kamipun telah beriman,” tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: “Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu mengerti?” Memang tidak semua orang yahudi munafik, sebab ada yang terang-terangan memerangi orang beriman, sebagaimana juga ada selain kaum yahudi ada juga yang munafik. Dan Ayat ini menjelaskan sebagian dari kaum Yahudi yang munafik: mereka pura-pura beriman tetapi mereka sebenarnya masih kafir, dan ini mereka lakukan demi tujuan-tujuan duniawi tertentu yang mereka rahasiakan. Mari kita ikuti bagaimana Allah swt. menggambarkan pribadi mereka :

          Pertama, Mereka mengaku beriman sebatas lisan : Allah swt. berfirman : “Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: “Kamipun telah beriman,” padahal hakikat mereka belum beriman. Kata: aamanna” berbeda dengan kata : innaa ma’akum”. Perhatikan ayat-ayat tentang kauam munafikun di bagian awal surah Al Baqarah. Di sana Allah swt. merekam pernyataan mereka yang kontradiktif: dihadapan orang-orang beriman, mereka mengatakan : “aamannaa”, sementara di hadapan kawan-kawan dan syetan-syetan mereka, segera muncul pengakuan : “innaa ma’akum”. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa pernyataan yang pertama menunjukkan pengekuan mereka yang sekadar basa-basi. Sementara pengakuan mereka yang kedua adalah kesungguhan mereka mengakui bahwa mereka masih kafir bersama mereka. Itu namoak dari penggunaan huruf tawkid (huruf penegasan).

Benar, mereka munafik. Mereka menyangka bahwa iman itu hanya basa-basi dengan lisan. Tidak, tidak demikian iman. Iman harus menghunjam dalam dada, dan dibuktikan dengan perbuatan. Bukan iman namanya yang sekedar menjadi penghias bibir. Dari sini nampak bahwa mereka sebenarnya belum paham hakikat iman. Seandainya mereka paham apa itu iman, nisacaya mereka tidak akan melakukan sikap munafik seperti ini. Pun juga dari nampak bahwa mereka belum yakin bahwa Allah swt. mengetahui isi hati mereka. Sebab seandainya mereka yakin hakikat ini, mereka tidak akan berbuat demikian. Sungguh mereka telah tertipu oleh kebodohan mereka sendiri.

          Kedua, Mereka berusaha menyembunyiakn kebenaran. Maksudnya dalam kitab Taurat yang mereka pegang sudah terdapat penjelasan mengenai sifat-sifat Rasulullah saw. Dan karena itu mereka berbondong-bondong hijrah ke Madinah. Sebab mereka tahu bahwa Nabi terakhir akan berbasis di kota Madinah. Pun juga mereka sering menceritakan tanda-tanda munculnya kenabian kepada penduduk kota Madinah. Karena itu masyarakat kota Madinah lebih siap menerima kehadiran Rasulullah saw. dari pada penduduk kota Makkah. Jadi  di saat kaum kafir Makkah membantai kaum muslimin, masyarakat kota Madinah sedang menunggu kedatangan sang Nabi tersebut. Bahkan kaum Yahudi dari mulut ke mulut telah bercerita kepada penduduk kota Madinah mengenai sifat-sifat Rasulullah saw. sebagai nabi terakhir, berdasarkan apa yang mereka dapatkan dari Allah swt. dalam kitab suci mereka. Lalu para tokoh agama mereka segera melarang tindakan ini, karena mereka akan menghilangkan penjelasan tersebut dari kitab suci yang mereka pegang. Allah swt. merekam kejadian ini dalam firmanNya :  “tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: “Apakah kamu menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu” Ini mereka perbuat suapaya kebenaran yang telah Allah turunkan bisa mereka selewengkan. Jadi, sebenranya mereka semua tahu sifat-sifat Rasulullah saw. tetapi oleh mereka sengaja disembunyikan, karena mereka tidak mau beriman, dan bahkan mereka berniat memusuhinya sepanjang zaman.

          Ketiga, mereka mempunyai tujuan buruk yaitu ingin mengalahkan orang Islam di hadapan Allah swt. kelak di hari Kiamat. Allah swt. berfriman: “supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu tidak menggunakan akalmu?” Dalam ayat ini nampak bahwa Allah swt. telah menyingkap niat busuk mereka sekaligus kebodohan mereka. Niat busuk mereka adalah untuk mengalah orang Islam dihadapan Allah swt. nanti dalam persidangan hari Kiamat. Jadi mereka yakin bahwa dengan menyembunyikan kebenaran itu, mereka bisa menunjukkan bukti kepada Allah swt. bahwa orang-orang Islam salah jalan. Dan bahwa nabi terakhir yang orang Islam yakini juga salah. Padahal semua kebusukan ini telah diketahui oleh Allah swt. Itulah mengapa Allah swt. menyebutkan bahwa mereka tidak menggunakan akalnya “afalaa ta’qiluun”? Suatu kesaksian dari Allah swt. bahwa mereka sebenarnya bodoh karena telah melakukan tindakan yang konyol. Ingin menipu Allah dan orang-orang beriman, malah semua tipu daya itu justru telah menipu diri mereka sendiri.

Jangan Coba-coba Menipu Allah

          Jadi orang-orang Yahudi itu memang tidak pernah berhenti membuat kerusakan di muka bumi. Dan mereka akan terus mengulang perbuatan buruknya ini sepanjang sejarah. Mereka telah dan akan terus menempuh segala cara agar tujuan yang mereka inginkan tercapai. Sampaipun harus mengubah ajaran Allah swt. mereka lakukan. Bayanngkan kebejatan akhlak mereka. Kepada Allah saja mereka berani apalagi kepada manusia. Dan yang lebih buruk lagi, marekan tidak yakin bahwa Allah swt. mengetahui apa saja yang mereka perbuat. Itulah sebabnya mengapa dalam berbuat dosa sebesar apapun mereka tidak piker-pikir. Seakan tidak takut sama sekali apa akibatnya. Inilah makna firman Allah swt. pada ayat berikutnya :  “Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?”

          Dari ayat ada dua pemahaman: (a) Boleh jadi mereka tidak yakin bahwa Allah swt. mengetahui apa saja yang mereka perbuat, sehingga mereka berani berbuat apa saja yang mereka inginkan. (b) Boleh jadi mereka tahu bahwa Allah swt. tahu akan semua kemaksiatan yang mereka perbuat, pun juga mereka tahu apa akibat yang akan mereka terima. Tetapi karena hati mereka sudah terlalu keras, bahkan lebih keras dari pada batu, maka mereka tidak takut lagi berbuat dosa apa saja.

          Juga dari ayat ini muncul pertanyaan: Mengapa yang disebut pertama kali “maa yusirruun” (apa yang mereka rahasiakan), padahal lebih mudah mengetahui yang nampak. Kalau dipikir-pikir dengan keterbatasan akal kita, sebaiknya didahulukan “maa yu’linuun” (apa yang diperbuat dengan terang-terangan)? Di sini ada dau maksud penting : (a) Untuk memastikan keluasan ilmu Allah swt. bahwa kalau yang dirahasaiakan saja nampak bagiNya, apalagi yang dilakukan terang-terangan. (b) untuk menunujukkan bahwa bagi Allah sama saja: antara yang disembunyikan dan yang terang-terngan. Semuanya nampak dengan jelas bagi Allah swt. tidak ada perbedaanya. Inilah beda antara Allah swt. dan manusia. Manusia hanya bisa mengetahui yang nampak. Adapun apa yang tersembunyi dalam hati tidak bisa didetkesi oleh kasat mata manusia. (c) Maksud kata “assir” adalah yang tersembunyi dalam hati. Dan tidak ada seorangpun yang tahu isi hati kecuali Allah swt. Maka ketika Allah swt. menyebutkan kata “assir” lebih dahulu, itu untuk menunjukkan bahwa hanya Dialah yang tahu hakikat yang paling rahasia tersebut. Dan dengan redaksi ini seakan Allah menunjukkan bahwa inilah keluasan ilmuNya yang tidak akan pernah ditandingi oleh manusia. Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author