Saturday, August 9

At Tiin (Buah Tin)

amirfath.com, Tadabur Surah At Tiin (95), Des 2020 – Pada permulaan ayat Allah SWT bersumpah dengan buah Tin dan zaitun, karenanya surat ini diberi nama dengan At Tiin. Allah bersumpah dengan dua buah tersebut karena mengandung kebaikan, keberkahan dan manfaat yang banyak.

Kaitan surat ini dengan surat sebelumnya nampak bahwa pada surat sebelumnya (Asy Syarh) Allah menyebutkan kondisi paling sempurnanya manusia baik penciptaan maupun akhlaknya, dialah: Rasululllah saw., sementara dalam surat at Tiin ini Allah menegaskan bahwa manusia telah diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, tetapi karena telah menentang Rasulullah saw., mereka kelak dimasukkan ke dalam neraka jahannam, sebaliknya mereka yang beriman dan beramal shaleh mereka mendapatkan surga yang kekal.

Surat makkiyah yang satu ini mengandung tiga pokok bahasan yang berkaitan dengan manusia dan akidahnya; Pertama, keterangan bahwa manusia Allah ciptakan dalam bentuk yang paling baik (dari ayat 1-4). Kedua, turunnya derajat manusia sampai ketingkat yang serendah-rendahnya karena kekafirannya kepada Allah dan RasulNya saw., dan ingkarnya terhadap hari kebangkitan meskipun dalil-dalilnya sangat jelas (ayat 6). Adapun mereka yang beriman dan beramal shaleh mereka mendapatkan surga yang kenikmatannya tidak pernah habis (ayat 7). Ketiga, tegaknya prinsip keadilan yang mutlak; pahala bagi orang yang beriman dan siksaan bagi orang kafir (ayat7-8).

Allah bersumpah dengan empat hal (1-3)

          Pertama, Allah bersumpah dengan buah Tin yang sering di makan manusia, di dalamnya mengandung obat, karena kelembutannya, mudah dikunyah dan dicerna, tidak memberatkan perut. Di antara khasiatnya: meringankan kadar reak di kerongkongan, membersihkan ginjal, membersihkan kandung kemih dari pasir, mempermudah kerja jantung dan lain sebagainya. Dalam sebuah hadits dari Abu Dzar ra. disebutkan bahwa buah Tin menghilangkan penyakit wasir, dan menyembuhkan rasa nyeri pada sendi-sendi telapak kaki, terutama pada jempol kaki, yang sering disebut dengan penyakit para raja (an-niqris).  

            Kedua, Allah bersumpah dengan buah Zaitun yang diperas menjadi minyak dan obat. Tetapi sering kali dimakan sebagai sayuran oleh sebagian penduduk negri. Dalam An Nur 24:35, Allah menyebutkan pohon buah Zaitun penuh berkah: “yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, pohon Zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat”. Artinya bahwa pohon itu tumbuh di puncak bukit, mendapat sinar matahari dengan sempurna, baik pada waktu terbit maupun terbenam sehingga pohonnya subur dan menghasilkan minyak yang baik. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra.: minumlah minyaknya (Zaitun) dan usapkanlah ke badanmu, karena ia datang dari pohon yang berkah. 

            Ketiga, Allah bersumpah dengan Thur Sina, tempat Allah menyampaikan wahyunya langsung kepada nabi Musa as: wakallamallhu musaa taklimaa. Di sini nabi Musa menerima sepuluh perintah, yang sampai sekarang masih terus diabadikan dalam Taurat (Perjanjian Lama).

Keempat Allah bersumpah dengan negri yang aman (baca: Mekkah al Mukarromah), tempat tegaknya Ka’bah, tempat lahirnya seorang utusan yang terakhir Muhammad saw. Disebut Al Amin karena negeri tersebut aman dan memberikan rasa aman, Allah berfirman: wa man dakhalahu kaana aaminan (QS. Ali Imran 3:97) “siapa yang memasukinya ia akan merasa aman”.

            Bila diamati lebih mendalam nampak dari sumpah-sumpah tersebut tiga tempat yang sangat Allah mulyakan: (a) Palestina yang dilambangkan dengan Buah Tin dan Zaitun karena di sana tempat tumbuhnya, di mana nabi Isa berada di Al Quds, (b) Gunung Tursina, tempat nabi Musa menerima sepuluh perintah, (c) Makkah, tempat Rasulullah saw. memulai tugas kerasulannya. Ketiga kota ini telah disebutkan dalam kitab Taurat. 

Manusia, sebaik baik penciptaan (4)

            Allah telah bersumpah dengan empat hal (ayat 1-4) untuk menetapkan bahwa Dia telah menciptakan manusia dalam kondisi yang paling baik dan bentuk yang paling indah, tegak berdiri, anggota tubuh yang pas, susunan yang sempurna. Dibedakan dari makhluk lainnya dengan ilmu, akal, kemampuan berbicara, mengatur dan bertindak bijak. Dengan semua itu ia pantas menjadi khalifah di muka bumi sebagaimana yang diinginkan Allah swt.

Dua Macam manusia (5-6)

          Pertama, Paling rendahnya manusia (asfala saafiliin). Mereka lupa dan lalai dengan semua karunia dan keistimewaan yang telah diberikan kepadanya. Bahkan ia tunduk kepada hawa nafsunya. Pada hari kebangkitan nanti mereka mendapatkan tempat yang paling hina, Allah berfirman “kemudian Kami kembalikan ia ke serendah-rendahnya tempat” yaitu neraka Jahannam. Di dunia mereka mendapatkan kerendahan derajat bergelimang kemaksiatan, penuh dosa-dosa ulaaika kal anaam balhum adhallu waulaaika humul ghaafiluun (mereka seperti binatang bahkan lebih rendah lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai), lalu di akhirat mereka mendapatkan neraka tempat yang paling rendah dan hina.

          Kedua, Paling tingginya manusia (lahum ajrun ghairu mamnuun). Yaitu orang-orang yang beriman kepada Allah, rasul-rasulNya dan hari kiamat. Keimanan itu ditambah dengan amal-amal shaleh, maka mereka selamat dari neraka bahkan mereka mendapatkan surga tempat kebahagiaan tak terhingga.

Keadilan Mutlak Di hari Kiamat (7-8)

          Allah mencela orang-orang kafir karena mereka telah mendustakan hari pembalasan. Maksudnya sekan Allah berfirman: alasan apalagi yang membuat kamu mendustakan hari kiamat? Sedangkan Rasulullah telah memperingatimu sebelumnya. Akibatnya Allah memberikan kepadamu tempat yang paling rendah, Allah kuasa atas permulaan, Dia pun lebih kuasa atas pengembalian.

            Kemudian Allah menguatkan pernyataannya itu dengan firmanNya: alaisallahu biahkamil hakimiin bukankah Dia sangat adil dalam memberikan hukuman. Suatu ancaman bagi orang-orang kafir yang mengingkari hari kiamat meskipun sebenarnya mereka mengakui bahwa Allah Sang Pencipta. wallahu ‘alam bishshowab.

Majlis Tafsir Al Hikmah     

                                                                        Dr. Amir Faishol Fath MA.

(باب المبادرة بالأعمال البر)

(Bersegera dalam amal kebajikan)

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: بادروا بالأعمال الصالحة فستكون فتن كقطع الليل المظلم يصبح الرجل مؤمنا ويمسي كافرا ويمسي مؤمنا ويصبح كافرا يبيع دينه بعرض من الدنيا. (رواه مسلم)

Rasulullah saw bersabda: bersegeralah kamu melakukan amal-amal shaleh, akan terjadi suatu fitnah yang menyerupai malam gelap gulita dimana ada seseorang pada waktu pagi beriman tapi pada waktu sore ia kafir, pada waktu sore ia beriman tapi pada waktu pagi ia kafir, ia rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan dunia

عن عقبة بن الحارث رضي الله عنه قال : صليت وراء الني صلى الله عليه وسلم بالمدينة العصر فسلم ثم قام مسرعا فتخطى رقاب الناس إلى بعض حجر نسائه ففزع الناس من سرعته، فخرج عليهم فرأى أنهم قد عجبوا من سرعته فقال: ذكرت شيئا من تبر عندنا فكرهت أن يحبسني فأمرت بقسمته. (رواه مسلم)

‘Uqbah bin harist ra berkata: saya shalat ashar dibelakang Rasulullah saw  di Madinah kemudian setelah salam beliau terus cepat-cepat bangkit melangkahi leher (barisan) para sahabat menuju kamar salah satu istrinya. Para sahabat terkejut dengan ketergesaannya, kemudian beliau keluar dan melihat para shahabat terkejut  atas ketergesaannya itu, maka ia berkata: ” aku ingat sepotong emas dan aku tidak ingin terganggu karenanya maka aku menyuruh untuk membagi-bagikannya.

عن أبي يعلى شداد بن أوس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: الكيس من دان نفسه وعمل لما بعد الموت، والعاجز من أتبع نفسه هواها وتمنى على الله. (رواه الترمذي)

Rasulullah saw bersabda: orang yang cerdas adalah orang yang selalu menjaga dirinya dan beramal untuk berbekal nanti sesudah mati. Dan orang yang kerdil adalah orang yang hanya menuruti hawa nafsunya tapi mengharap berbagai harapan pada Allah.

عن أبي موسى الأشعري قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إذا مرض العبد أو سافر، كتب الله تعالى له من الأجر مثلما كان يعمل صحيحا مقيما. (رواه البخاري وأحمد وابن حبان)

Rasulullah saw bersabda: jika seorang hamba sakit atau sedang bepergian, Allah menuliskan baginya pahala seperti ketika ia beramal shaleh ketika sehat dan mukim(tidak bepergian).

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله أي الصدقة أعظم أجرا؟ قال : أن تصدق وأنت صحيح شحيح تخشى الفقر وتأمل الغنى، ولا تمهل حتى إذى بلغت الحلقوم قلت: لفلان كذا ولفلان كذا وقد كان لفلان كذا. (متفق عليه)

Abu Hurairah ra berkata: datang seorang laki-laki kepada Rasulullah saw dan bertanya: wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya? Beliau menjawab: kamu bersedekah sedangkan kamu masih sehat, suka harta, takut miskin dan masih ingin kaya. Dan janganlah kamu menunda-nunda sehingga bila nyawa sudah ditenggorokan maka kamu berkata: untuk fulan sekian dan fulan sekian, padahal harta itu sudah hak si fulan (hak ahli waris).

About Post Author