Wednesday, August 13

Al Syarh (Melapangkan)

amirfath.com, Tadabur Surah Al Syarh (94), Des 2020 – Surat ini diberi nama al Syarh atau al Insyirah karena dimulai dengan kabar tentang dibelahnya dada Rasulullah SAW untuk memberikan cahaya petunjuk, iman dan hikmah .

Kaitan surat ini dengan surat sebelumnya (ad Dhuha) sangat kuat: baik dari segi kalimatnya secara global maupun dari segi temanya, karena keduanya berbicara tentang beberapa kenikmatan yang diberikan Allah kepada RasulNya dan juga memerintahkannya untuk beramal dan bersyukur. Dan ketika Allah berfirman dalam surat sebelumnya alam yajidka yatiiman fa aawaa maka Allah menambahkan pada surat ini dengan firmanNya alam nasyrah laka shadrak.

Adapun pokok-pokok kandungan surat ini sebagai berikut: (a). menyebutkan tiga kenikmatan yang Allah berikan kepada Rasulullah saw. berupa; membelah dadanya membersihkannya dari segala dosa dan kotoran, mengisinya dengan iman dan hikmah dan mengangkat kedudukan, tempat dan kemampuannya di dunia dan akhirat. Semua itu semata-mata persiapan untuk menghadapi serangan orang-orang kafir Makkah, Thaif dan lainnya. (b). Allah menjanjikan Rasulullah saw. untuk mempermudah segala kesulitan, mengeluarkan dari kesusahan dan memberikan kabar bahwa kemenangan akan datang. (c). memerintahkannya untuk selalu beribadah dan menyisihkan waktu untuk itu setelah ia menyampaikan risalah dakwah dan jihad, sebagai rasa syukur pada Allah atas apa yang telah diberikan. (d). Allah memerintahkan untuk menyerahkan diri kepada Allah dan mencintai apa yang diridhoiNya.

Persiapan Sebelum Menerima Kenabian (1-4)

          Menjadi seorang nabi dan rasul, bukanlah suatu tugas yang mudah. Bahkan tugas yang sangat berat, ia akan menghadapi berbagai macam cobaan dan kesulitan dalam memperjuangkan risalah tauhid dihadapan para kafir Quraisy. Karenanya sebelum menerima tugas itu Allah memberikan beberapa mukaddimah kenikmatan sebagai tasliyah (penghibur hati) bagi Rasulullah SAW; Pertama, melapangkan dada Rasulullah saw. agar ia mampu memegang amanah risalahNya. Maksud melapangkan dada adalah meneranginya dan menjadikannya luas, seperti dalam firmanNya “dan siapa yang ingin Allah memberikan hidayah kepadanya hendaknya ia melapangkan dadanya untuk Islam”(QS. Al An’aam 6/125). Abu Hayyan berkata: menurut jumhur ulama, syarhu shadri adalah meneranginya dengan hikmah dan melapangkannya untuk menerima apa yang diwahyukan kepadanya.

            Dalam hadist shahih, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda: ketika aku di rumah antara tidur dan sadar, aku mendengar seseorang berkata: “satu orang diantara dua orang laki-laki datang dengan tempat air dari emas didalamnya air zam-zam maka ia membelah dadaku dari sini sampai sini. Qatadah bertanya: sampai mana? Beliau menjawab: sampai bawah perutku, maka ia mengeluarkan hatiku dan dicuci dengan air zam-zam kemudian dikembalikan lagi ketempatnya, kemudian diberikan iman dan hikmah”. Dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa kejadian ini di padang sahara ketika Rasulullah berumur sepuluh tahun satu bulan (HR Imam Ahmad dari Ubay bin Ka’ab).

            Kedua, Allah menjauhkan Rasulullah dari perbuatan dosa dan maksiyat yang memberatkan dirinya, baik sebelum kenabian maupun sesudahnya. Allah menjaganya, ia tidak pernah menyembah berhala dan patung dan tidak pernah terdetik sedikitpun dalam hatinya kekufuran sebelum kenabian. Hal ini menunjukkan kesempurnaan akal dan ruhnya, dan beliau dijaga (ma’shum) dari segala perbuatan dosa.

            Ketiga, Allah mengangkat penyebutannya, keadaannya, kedudukannya di dunia dan akhirat. Allah mentaklif orang-orang beriman untuk selalu mengucapkan asyhadu anlailaaha illallah wa asyhadu anna muhammadaarrasulullah baik ketika adzan, tasyahhud, khuthbah dan dalam munasabah ibadah lainnya. Allah pun memerintahkan untuk membacakan shalawat atasnya (QS. Al Ahzab 33/56), mentaati perintahnya (QS. Al Hasyar 59/7) dan menjadikan ketaatan padanya sebagai ketaatan kepada Allah SWT (QS. An Nisa 4/80). Rasulullah SAW bersabda: datang kepadaku Jibril dan berkata: bahwa Tuhanku dan TuhanMu berkata:” bagaimana Aku mengangkat penyebutanmu? Ia menjawab: Allah lebih mengetahui. Allah berfirman:” jika Aku disebut, kamu disebut bersamaKu”.

Tidak ada kesulitan kecuali Allah memberikan kemudahan (4-5)

          Segala sesuatu berjalan sesuai dengan sunnah yang Allah tetapkan, diantaranya Allah mendatangkan kemudahan setelah kesusahan dan kesulitan. Ketika orang-orang musyrik yang menghina Rasulullah saw. kerena kefakirannya, Allah berfirman: fa inna ma’al ‘usri yusra sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, didalam kesempitan ada jalan keluar. Untuk menguatkan janjiNya Allah mengulang lagi pada ayat berikutnya inna ma’al ‘usri yusra, sebagai kabar gembira dan tasliyah bagi Rasulullah saw., bahwa Allah akan menggantikan kefakiran dengan kecukupan, pun akan mengantarkan dari lemah menjadi kuat dan berwibawa (‘izzah).

Kata yusra dalam bentuk nakirah menunjukkan kemudahan secara umum mencakup segala hal dan semua orang-orang yang beriman di sepanjang masa, pun mencakup kemudahan di dunia dan akhirat, cepat atau lambat. Allah memberikan rahmat kepada hambanya dengan dua kemudahan dalam setiap satu kesulitan. Hal ini mendorong kita untuk selalu berkerja keras dalam segala hal dan kuat berjuang dalam menegakkan kebenaran.

Mengisi waktu kosong dengan beramal shaleh (7-8)

          Pada ayat berikutnya Allah memerintahkan Rasulullah saw. agar selalu melakukan hal yang baik sebagai utusanNya dan sebagai rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikan berupa kemudahan dan kemenangan. Pertama, Allah berfirman fa idza faraghta fanshab jika kamu mendapatkan waktu kosong setelah bertugas menyampaikan dakwah, jihad atau mencari nafkah, segeralah isi dengan beribadah, berdo’a dan mememohon ampunanNya. Hal ini menunjukkan keharusan kontinuitas (dawam) dalam beramal shaleh dan ketaatan. Sebab Allah sangat benci kepada seseorang yang membuang waktunya dalam hal yang tidak ada gunanya.

Kedua, Allah berfirman wa ila rabbika farghab artinya bertawakkalahhanya kepadaNya, cintailah Dia di atas segala cinta, utamakan kewajiban kepadaNya di atas segala kewajiban, tundukkanlah kehamabaanmu hanya kepadaNya. Kerjakan segala ibadah dengan hanya mengharapkan ridhaNya. Jauhilah segala keingin dipuji orang lain karena itu semua akan menghilangkan nilai amalmu. wallahu ‘alam bishshowab

Majlis Tafsir Al Hikmah     

                                                                        Dr. Amir Faishol Fath MA.

(باب المجاهدة)

(Bersungguh-sungguh)

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس : الصحة والفراغ. (رواه البخاري)

Rasulullah SAW bersabda: dua nikmat yang kebanyakan dari manusia tertipu (dirugikan) olehnya : sehat dan waktu kosong.

عن عائشة رضي الله عنها أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يقوم الليل حتى تتفطر قدماه، فقلت له: لم تصنع هذا يا رسول الله! وقد غفر الله لك ما تقدم من ذنبك وما تأخر؟! قال أفلا أحب أن أكون عبدا شكورا؟! (متفق عليه)

 Dari Aisyah ra. bahwasanya Rasulullah SAW bangun malam (shalat) sampai kedu kakinya pecah-pecah, aku bertanya: kenapa kau lakukan itu wahai Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu yang yang akan datang. Nabi menjawab: bukankan aku senang menjadi hamba yang bersyukur?.

عن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: يتبع الميت ثلاثة : أهله وماله وعمله، فيرجع اثنان ويبقى واحد ، يرجع أهله وماله ويبقى عمله. (متفق عليه)

Rasulullah SAW bersabda: tiga hal yang mengikuti orang mati (mayyit): keluarga, harta dan amalnya. Yang dua kembali yaitu keluarga dan hartanya adapun yang satu lagi tinggal bersamanya yaitu : amalnya.

(باب الأمر بالصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم)

(Perintah Membaca Shalawat kepada Nabi SAW)

عن ابن عمرو ابن العاص رضي الله عنهما أنه سمع رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من صلى علي صلاة ، صلى عليه بها عشرا. (رواه مسلم)

Rasulullah SAW bersabda: siapa yang membaca shalawat untukku satu kali, Allah akan menurunkan rahmat kepadanya sepuluh kali.

عن علي رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: البخيل من ذكرت عنه فلم يصل علي. ( رواه الترمذي، وقال: حديث حسن صحيح)

Rasulullah SAW bersabda : orang yang bakhil (kikir) adalah orang yang ketika disebut namaku lalu ia tidak membaca shalawat kepadaku.

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : لا تجعلوا قبري عيدا، وصلوا علي فإن صلاتكم تبلغني حيث كنتم. (رواه أبو داود)

Rasulullah SAW bersabda: janganlah kau jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, dan bershalawatlah untukku karena shalawat yang kamu baca akan sampai kepadaku dimana saja kamu berada.

About Post Author