At Takaatsur (bermegah-megah)
amirfath.com, Tadabur Surah At Takaatsur (102), Des 2020 – Pada ayat pertama Allah berfirman al haakumuttakastur, karenanya surat ini diberi nama at Takaastur artinya bermegah-megahan dengan harta, anak dan teman.
Korelasi dengan surat sebelumnya: Dalam surat sebelumnya (al Qari’ah) di beritakan tentang sebagian kejadian di hari kiamat dan balasan bagi orang yang beriman dan orang kafir. Kemudian pada surat ini dijelaskan sebagian sebab mengapa manusia berhak mendapatkan neraka, yaitu karena mereka mengutamakan dunia daripada akhirat.
Pokok-pokok kandungan surat: (a) menjelaskan kesibukan manusia dalam mengejar kemegahan dunia, sehingga mereka lalai akan datangnya kematian. (b) peringatan bahwa semua amal di dunia akan dipertanyakan. (c) ancaman bahwa mereka pasti akan melihat neraka jahim.
Tabi’at manusia bermegah-megah dengan dunia (1-2)
Allah swt. mengancam orang-orang yang bermegah-megahan dengan dunia, berbangga-bangga dengan harta, kedudukan, pendukung dan keturunan. Sebab dunia ini akan Allah hancurkan. Dunia bukan tempat yang kekal. Semua kekayaan yang dicapai manusia di dunia akan berakhir dengan kematian. Manusia memang sering tertipu dengan dunia. Ia akan terus berlomba dan berlomba tanpa garis finish. Sebab dunia memang selalu bersolek dan mempercantik diri. Sehingga manusia mudah tertipu karenanya.
Kapankah manusia akan berhenti dari perlombaan yang tidak pernah berakhir ini? Allah menjawab hattaa zurtumul maqaabir (sampai kau masuk ke liang kubur). Dalam sebuah hadits Rasulullah saw, bersabda: Seandainya seseorang memohon emas kepada Allah sepenuh lembah ini, lalu dipenuhi permintaannya, niscaya ia akan minta lagi. Jika kemudian dipenuhi permintaannya yang kedua, niscaya ia akan minta yang ketiga kalinya. Dan ia tidak akan pernah berhenti mengejar dunia sampai ia berkalang tanah. Perhatikan bagaimana manusia sangat mencintai dunia. Sehingga membuatnya lalai dengan akhirat. Padahal tujuan hidup yang sebenarnya adalah bagaimana mempersiapkan diri untuk akhirat.
Tidak sedikit dari manusia yang saling membunuh, dan berbuat dzalim hanya karena terdorong oleh keinginan bermegah-megahan dengan dunia. Bukan hanya itu, perlombaan mengejar dunia telah membuat manusia sangat berani menentang hukum-hukum Allah. Halal-haram yang Allah tentukan tidak diperhatikan. Segala cara mereka halalkan, yang penting dunia bisa mereka raih.
Akibat yang harus diterima (3-6)
Allah lalu berfirman: kalaa saufa ta’lamuun (sekali-kali tidak, kau akan mengetahui akibat perbuatanmu). Kalimat ini merupakan ancaman yang sangat menakutkan bagi mereka yang mengutamakan dunia atas akhirat. Sebab dengan mengutamakan dunia, kehidupan manusia akan sengsara. Kedzaliman akan terus berlangsung tanpa titik akhir. Yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan terus semakin tercekam. Budaya saling membantu akan hilang dari dataran kehidupan manusia.
Sementara Allah swt. menginginkan agar manusia damai dan saling tolong menolong. Karena saking bahayanya pola hidup bermegah-megahan dengan dunia ini, Allah mempertegas lagi ancamannya: tsumma kallaa saufa ta’lamuun. Supaya manusia segera menyadari makna ini. Supaya manusia tidak terus menerus tertipu oelh dunia. Di dalam Al Qur’an Allah selalu menggambarkan bahwa dunia adalah kenikmatan yang menipu. Benar, bahwa dunia selalu menipu. Sebab ketika kemegahan tersebut dicapai, setelah sekian tahun mengumpulkannya ternyata kebahagiaan yang diharapkan tidak ditemukan di sana. Bahkan malah berbagai permasalahan datang silih berganti.
Allah kemudian mempertegas lagi: kalla lau ta’lamu ilmal yaqin, (sunggu jika kau mengetahui akibat perbutanmu itu dengan yakin) niscaya kau tidak akan menyibukkan dirimu dengan dunia. Bagi Allah sangat cukup dengan menurunkan peringatan yang berulang-ulang ini sebagai ancaman. Maka manusia yang berakal akan segera terpukul dengan ancaman tersebut. Bahkan dengan peringatan seperti ini ia akan lebih terpukul dari pada menurunkan adzabNya secara langsung. Karenanya Allah menggunakan gaya ungkap yang sedemikian rupa, supaya manusia benar-benar menggunakan akalnya secara benar.
Perhatikan, tiga kali Allah mengulang-ngulang kalimat ancaman tersebut untuk menguatkan dan memastikan ketetapan azab kubur dan azab akhirat. Apa yang Allah janjikan tentang kebangkitan dan sesudahnya adalah pasti akan terjadi, maka jika kamu masih tetap bergelimang dalam kemegahan dunia yang melalaikan kamu akan akhirat, kamu akan menyesal dan akan mendapatkan azab yang sangat pedih.
Kepastian adzab Allah di akhirat (6-8)
Lebih dahsyat lagi dari ancaman di atas, Allah segera memastikan bahwa neraka jahim tempat mereka kembali akan segera ditampakkan: latarwunnal jahiim (Kamu benar-benar akan melihat neraka jahiim). Lalu diperkuat lagi: tsumma latarawunnahaa ainal yaqiin (kemudian kamu akan benar-benar melihatnya dengan mata kepala sendiri). Di sini seorang yang benar-benar beriman dan menggunakan akalanya secara proporsional akan segera terhentak dengan penegasan ini, dan merasa takut, serta segera bergegas meninggalkan perlombaan bermegah-megahan dengan dunia.
Lalu Allah memberitahukan: bahwa harta yang mereka banggakan sebenarnya bukan milik mereka, melainkan milik Allah swt. Bahwa manusia kelak akan dimintai pertangggungjawaban atas segala kekayaan yang mereka dapatkan. Dari mana harta tersebut diperoleh dan dalam hal apa saja harta itu dipergunakan. Bila ia memperolehnya dengan jalan halal lalu menggunakannya secara benar, sesuai dengan ajaran Allah dan RasulNya, maka ia akan mendapatkan balasan yang setimpal. Sebaliknya jika ia memperolehnya dengan cara haram, dan menggunakannya secara haram, maka ia akan pula mendapatkan siksaan yang setimpal. Tidak ada yang dizalimi, semua akan mendapatkan bagiannya secara sempurna. Wallahu a’lam bishshawab.
حقيقة الدنيا
Hakikat Dunia
عن أنس بن مالك قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يتبع الميت ثلاثة، فيرجع اثنان ويبقى معه واحد: يتبعه أهله وماله وعمله، فيرجع أهله وماله ويبقى عمله.(رواه البخاري ومسلم والترمذي والنسائى)
Rasulullah saw. bersabda: Mengikuti seorang mayyit tiga hal, duanya kembali satunya tetap bersama si mayyit: yaitu keluarganya, hartanya dan amalnya. Keluarga dan hartanya kembali sementara amalnya tetap bersamanya.
وعنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يهرم ابن آدم ويبقى معه اثنان : الحرص والأمل. (رواه أحمد والبخاري ومسلم)
Rasulullah saw. bersabda: Semua anak Adam akan menjadi tua, tinggal dua hal yang selalu segar: kesungguhan (mengumpulkan dunia) dan cita-cita.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يقول العبد: مالي مالي، وإنما له من ماله ثلاث: ما أكل فأفنى أو لبس فأبلى أو تصدق فأمضى، وما سوى ذلك فذاهب وتاركه للناس. (رواه مسلم)
Rasulullah saw. bersabda: Berkata seorang hamba: hartaku-hartaku, padahal yang ia miliki hanya tiga: (a) yang ia makan dan ia telah habis (b) yang ia pakai dan ia telah rusak (c) yang ia sadakahkan dan ia telah pergi. Selebihnya pergi meninggalkannya untuk orang lain.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: نعمتان مغبزن فيهما كثير من الناس : الصحة والفراغ (البخاري).
Rasulullah saw. bersabda: Dua nikmat yang seringkali banyak orang lalaikan: Keshatan dan kekosongan.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لاتزول قدما العبد يوم القيامة حتى يسأل عن أربع : عن عمره فيما أفناه ، زعن شبابه فيم أبلاه ، وعن ماله من أين اكتسبه وفيم أنفقه ، وعن علمه ماذا عمل به. ( الترمذي)
Rasulullah saw. bersabda: Tidak tergelincir kaki seseorang (di atas shrath) pada hari Kiamat, sampai ditanyakan empat hal: tentang umurnya kemana saja ia gunakan, masa mudanya kepada apa saja ia jalankan, hartanya dari mana diperoleh dan dalam apa saja digunakan dan ilmunya apa yang telah ia perbuat dengannya.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من أصبح منكم آمنا في سربه ، معافي في جسده ، عنده قوت يومه ، فكأنما حيزت له الدنيا بحذافيرها ( البخاري)
Rasulullah saw. bersabda: Siapa yang bangun pada waktu pagi dalam kedaan aman, badannya sehat dan mempunyia apa yang akan di makan pada hari itu, maka ia sama dengan orang yang diberikan kepadanya dunia dan seisinya.