Al ‘Ashr (Masa)
amirfath.com, Tadabur Surah Al ‘Ashr (103), Des 2020 – Surat ini diberi nama al ‘Ashr karena Allah membuka dengan sumpah wal ashr. Dalam kata al ‘Ashr, tercakup makna semua keajaiban, kesenangan dan kesulitan, sehat dan sakit, harga diri dan kehinaan yang terbagi dalam tahun, bulan, hari, jam, menit dan detik. Itulah masa atau waktu dalam kehidupan manusia.
Korelasi dengan surat sebelumnya: Ketika Allah menjelaskan bahwa bermegah-megahan dengan dunia telah menghancurkan harga diri manusia dan membuatnya tercela, dalam surat ini Allah menjelaskan apa saja yang seharusnya manusia lakukan agar menjadi mulia dan mencapai derajat yang tinggi: (a) Beriman dan beramal shaleh (b) saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran.
Pokok kandungan surat: Pertama, surat ini menjelaskan fondasi Islam yang terbesar dan undang-undang hidup manusia . Kedua, Allah bersumpah dengan waktu karena keajaiban-keajaibannya yang menunjukkan kekuasaanNya di mana manusia pasti rugi jika tidak memanfa’atkannya dengan iman, amal shaleh, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.
Rahasia Waktu (1-2).
Allah bersumpah dengan waktu (al ‘Ashr) yang dengannya manusia hidup. Waktu adalah jatah yang Allah berikan kepada manusia untuk digunakan sebaik-baiknya dalam mempersiapkan diri menuju alam Akhirat. Siapa yang gagal mempersiapkan diri ia akan akan gagal selama-lamanya di Akhirat. Tidak ada persiapan yang lebih berharga dari pada amal shaleh.
Bila di dunia seseorang untuk menempuh perjalanan yang sangat jauh selalu mempersiapkan diri dengan materi dan makanan, di akhirat tidak demikian, melainkan persiapan utama adalah amal shaleh. Mengapa? Sebab alam akhirat berbeda dengan alam dunia. Di Akhirat manusia akan hidup selamanya. Maka bekal yang diperlukan bukan bekal materi. Semua yang bersifat materi akan Allah hancurkan di dunia. Kecuali materi yang sudah ditransfer menjadi amal shaleh, ia akan kekal selamanya, bersama pelakunya di surga.
Karenanya waktu adalah kekayaan yang paling berharga bagi manusia. Imam Ibn Qayyim Al Jawziyah mengatakan, bahwa setiap Allah bersumpah dengan sesuatu, itu menunjukkan keagungan sesuatu tersebut. Dalam surat-surat yang lain Allah telah bersumpah dengan At Tiin, Az Zaituun, Al Lail, As Sama, dan sebagainya, semuanya itu untuk menggambarkan keagungan ciptaan tersebut. Agung dalam arti bahwa di dalamnya banyak ibrah dan hikmah yang bisa membuat iman seorang hamba semakin kokoh. Begitu juga dalam ketika Allah bersumpah dengan Al Ashr, di dalamnya ada usia manusia yang sangat berharga, sebagai jatah untuk membekali diri dengan amal-amal shaleh, di mana dengannya manusia akan selamat di dunia dan akhirat.
Sebagian ulama mengatakan bahwa maksud al ‘Ashr disini adalah shalat asar karena kemulyaan dan keutamaannya, dan ini menunjukkan bahwa umur dunia tersisa tinggal antara asar dan maghrib. Maka hendaknya manusia menyibukkan diri dengan perdagangan yang tidak merugikan, yaitu dengan amal shaleh sebanyak-banyaknya. Sebab waktu yang tersisa sangat sempit, mungkin ia pun tidak mengetahui apa yang telah tertinggal dari amalnya selama ini. Dan yang dimaksud dengan al insaan disini adalah semua manusia (lil jinsi) karenanya semua manusia di manapun dan kapanpun akan tetap tergolong rugi jika tidak beriman, beramal shaleh dan saling menasihati dalam kebenaran serta kesabaran.
Ciri-ciri Manusia Yang Beruntung (3)
Setelah menegaskan bahwa semua manusia benar-benar dalam kerugian, Allah mengecualikan bahwa orang-orang yang beruntung adalah mempunyai ciri-ciri berikut: (a) iman yang hidup dalam jiwanya. Dengannya ia menyadari identitas kehambaannya kepada Allah. Iman yang membuat jiwa bergetar ketika mendengar sebutan nama Allah. Setiap kali ia menyaksikan bukti-bukti keagungan Allah, imannya bertambah kuat. Iman yang membuat jiwanya tenang, tidak pernah gelisah karena ia selalu merasa bersama Allah swt.
(b) amal shaleh. Tidak semua kebaikan disebut amal shaleh. Hanya kebaikan yang didasarkan iman disebut amal shaleh. Karenanya dalam Al Qur’an Allah selalu menggandeng antara iman dan amal shaleh. Karena setiap iman yang jujur pasti melahirkan amal shaleh. Dan amal sahaleh tidak akan lahir kecuali dari keimanan yang jujur. Amal shaleh ini sangat luas, ia tidak hanya berupa ibadah ritual saja, ia bisa berupa pengabdian kepada kedua orang tua, membantu si lemah, miskin dan menderita, berdakwah dan berjihad di jalan Allah, menyingkirkan duri dari jalanan, berwajah ceria di depan saudaranya dan lain sebagainya.
(c) saling menasehati dalam kebenaran (al haq). Di dahulukan al haq, karena ia sebagai prinsip yang harus dipertahankan. Perjuangan syetan dari masa ke masa adalah untuk menghancurkan kebenaran supaya menjadi tidak benar. Sebab ketika kebenaran menjadi tidak jelas, orang-orang pasti sesat. Di sini pentingnya ilmu, sebab untuk menjawab kebatilan dibutuhkan ilmu yang mumpuni mengenai kebenaran yang Allah ajarkan. Karenanya para ulama berjuang habis-habisan untuk mewariskan ilmu yang benar, supaya kita tetap bertahan dalam kebenaran. Bila perjuangan menuntut ilmu semakin melemah, bisa dipastikan seiring dengan itu kebiasaan kaum jahiliyah akan kembali berulang dalam hidup manusia. Oleh karena itu perjuangan mempertahankan al haq adalah kewajiaban yang tidak bisa ditawar-tawar kapanpun dan dimanapun berada.
(c) setelah saling menasihati dalam kebenaran harus diikuti dengan saling manasehati dalam kesabaran. Sebab perjuangan menegakkan kebenaran sangat membutuhkan kesabaran. Mengapa? Sebab ujian dan tantangan dalam menegakkan kebenaran sangat berat. Seorang pejuang kebenaran ia dituntut sabar dalam tiga hal: Pertama, sabar mentaati Allah, sebagai bekal utama untuk mampertahankan identitas kehambaannya kepada Allah. Kedua, sabar menjauhi kemaksiatan, sebagai benteng agar iman yang telah terhunjam tidak tergerogoti oleh dosa. Ketiga sabar dalam menjalani ujian Allah, karena tabiat iman pasti sejalan dengan ujian. Semakin tinggi iman seseorang semakin berat ujiannya. Karenanya Rasulullah saw. bersabda bahwa manusia yang paling berat menerima ujian adalah para nabi. Wallahu a’lam bishshawab.
عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: بادروا بالأعمال سبعا، هل تنتظرون إلا فقرا منسيا، أو غنيا مطغيا، أو مرضا مفسدا، أو هرما مفندا، أو موتا مجهزا أو الدجا فشر غائب ينتظر ،أو الساعة فالساعة أدهى وأمر. (رواه الترمذي)
Rasulullah saw bersabda: segeralah kamu untuk beramal sebelum datangnya tujuh hal: apakah yang kamu nantikan kecuali kemiskinan yang dapat melupakan, kekayaan yang dapat menimbulkan kesombongan, sakit yang dapat mengendorkan, tua renta yang dapat melemahkan, mati yang dapat menyudahkan segalanya atau menunggun datangnya dajjal padahal ia adalah sejelek-jeleknya yang ditunggu, atau menunggu datangnya hari kiamatpadahal hari kiamat adalah Sesutu yang snagt berat dan snagt menakutkan.
عن أبي صفوان عبد الله بن بسر الأسلمي رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : خير الناس من طال عمره وحسن عمله. (رواه الترمذي)
Rasulullah saw bersabda: sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من يرد الله به خيرا يصب منه. (رواه البخاري)
Rasulullah saw bersabda: barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang baik maka ditimpakan musibah (ujian) kepadanya.
عن أبي يحي رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله له خير وليس ذلك لأحد إلا المؤمن، إن أصابته سراء شكر فكان خيرا له، وإن أصابته ضراء صبر فكان خيرا له.(رواه مسلم)
Rasulullah saw bersabda: memang menakjubkan keadaan mukmin karena segala urusannya sangat baik baginya dan itu tidak terjadi kecuali bagi seseorang yang beriman dimana bila ia mendapatkan kesenangan ia bersyukur maka yang demikian sangat baik baginya, dan bila ia mendapatkan kesusahan ia bersabar maka yang demikian itu sangat baik baginya.
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لن يشبع المؤمن من خير حتى يكون منتهاه الجنة. (رواه الترمذي)
Rasulullah saw bersabda: seorang mukmin tidak akan kenyang untuk berbuat baik sampai akhir tujuannya adalah surga.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله عليه وسلم : من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له طريقا إلى الجنة.(رواه مسلم)
Rasulullah saw bersabda:barang siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan ia jalan masuk surga.