Saturday, July 19

Al Humazah (Mengumpat)

amirfath.com, Tadabur Surah Al Humazah (104), Des 2020 – Surat ini diberi nama al Humazah karena diawali dengan ayat: wailul likulli humazatillumazah. Al humazah artinya orang yang mengumpat, menggunjing atau menuduh orang lain dengan ucapan, perbuatan atau isyarat, sedangkan allumazah artinya orang yang mencela orang lain dengan isyarat seperti kerdipan alis atau mata. Ibnu Abbas mengatakan bahwa alhumazah adalah penggunjing dan allumazah adalah pencela.

Korelasi dengan surat sebelumnya: Setelah Allah menyebutkan pada surat sebelumnya bahwa semua manusia dalam kerugian, lalau pada surat ini Allah menyebutkan salah satu contoh dari manusia yang rugi yaitu manusia humazah dan lumazah. Dan secara ringkas surat ini menegaskan tiga hal: Pertama, tentang siksa pedih bagi manusia humazah dan lumazah (pengumpat dan pencela). Kedua, mengenai manusia yang senang mengumpulklan harta, seakan ia kekal didalamnya. Ketiga, tentang jalan terakhir dari manusia yang mempunyai kedua sifat tersebut yaitu neraka jahannam.

Ancaman Bagi Humazah dan Lumazah

Allah mengancam dengan siksaan yang pedih bagi penggunjing dan pengumpat: Wailullikuli humazatil lumazah. Istilah alhumazah secara maknawi lebih dekat kepada pengghibah (penggunjing). Yaitu orang yang suka membicarakan keburukan orang lain ketika orang itu tidak ada. Adapun allumazah adalah orang mengumpat orang lain secara langsung dihadapannya.

Kedua sikap tersebut sangat Allah benci, karena ketika seseorang mencela orang lain, ia telah menganggap rendah terhadap orang lain. Ketika ia merendahkan orang lain berarti ia telah merendahkan mahluk yang sangat Allah muliakan. Dan ketika ia mencela ciptaan Allah berarti ia mencela Allah. Sungguh tidak ada kelebihan dan kekurangan yang dimiliki seseorang kecuali dari Allah swt. Mari kita lihat apa yang mereka cela? Apakah mereka dicela karena cacat, miskin, atau mendapatkan harta yang dianggap menandinginya? Bukankah semau itu dari Allah? Bukankah harta yang dimiliki sang pencela juga dari Allah? Lalu mengapa ia mencela orang lain? Di sini letak persoalan, mengapa Allah sangat murka kepada para pencela.

Biasanya seseorang mencela karena didorong oleh sifat dengki, atau hasud. Ia tidak mau disaingi kekayaannya atau kedudukannya. Ketika menyebutkan nikmat yang didapat orang lain, seketika mukanya cemberut. Ia ingin agar dirinya saja yang dianggap berhasil. Ia tidak mau mengakui keberhasilan orang lain. Komentarnya tentang orang lain selalu nigatif, supaya nampak bahwa hanya dirinya yang paling gagah dan terhormat.

Dua Sebab Utama

Allah kemudian menyebutkan dua sebab utama munculnya humazah dan lumazah (penggunjing dan pengumpat): Pertama, ia senang mengumpulkan harta, dan suka menghitung-hitungnya. Semakin banyak harta semakin menganggap dirinya berhasil. Ketika ia merasa tinggi dengan hartanya ia bersikap sombong. Ingat bahwa kesombongan adalah penyakit utama iblis. Allah berfirman: (Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir (QS. Al Baqarah 2/34). Sikap sombong adalah sumber segala sikap tercela. Terutama mencela dan menjelek-jelekkan orang lain. Dari sini nampak bahwa sikap mencela orang lain adalah menefestasi dari sikap sombong. Suatu sikap yang menjadi ciri utama iblis. Itulah sebabnya mengapa Allah benar-benar mengancam dengan siksaan yang pedih terhadap para pencela.

Kedua, ia mengira bahwa hartanya akan menjamin kekelan hidupnya. Artinya ia yakin bahwa semakin banyak harta ia akan semakin kekal. Umurnya akan semakin panjang. Karena ia merasa segala kebutuhannya akan terpenuhi. Padahal jatah usia manusia  tidak ada hubungannya dengan banyak tidaknya harta. Banyak orang kaya, hartanya melimpah, tiba-tiba mati. Sebaliknya banyak orang-orang miskin yang hidup sehat dengan usia panjang. Jadi adalah logika yang salah ketika seseorang menjadikan harta sebagai ukuran panjangnya usia. Dari logika yang salah ini, kemudian mucul cara bersikap yang salah. Maksudnya ketika ia mengira bahwa hartanya akan membuat hidupnya kekal, ia lalu bersikap tidak senonoh: mencela, menghardik dan bertindak semena-mena terhadap orang lain. Terutama kepada orang-orang miskin, seperti para pembantu yang bekerja di rumah-rumah mereka. Ingat, bahwa tindakan ini berarti telah merendahkan apa yang Allah takdirkan kepada orang miskin tersebut. Merendahkan takdir Allah adalah berarti merendahkan Allah. Benar, jika Allah murka kepada para pencela dan penggunjing di mana asal muasal penyekit tersebut adalah karena sombong dengan harta yang ia miliki.

Dengarkan Imam Ali berkata: maata khuzzanul maal wahum ahya’, wal ulama’ baquun maa baquyad dahru (telah mati para pengumpul harta, sekalipun mereka masih hidup, sebaliknya orang-orang yang punya ilmu akan terus hidup sepanjang masa). Dalam syair yang sangat terkenal disebutkan: Ad dunya aqallu minal qalili wa asyiquhaa adzallu minadz dzalili (harta dunia –apapaun banyakknya- ia sebenarnya paling sedikit dari yang paling sedikit. Dan orang-orang yang mengagungkannya adalah paling hina dari yang paling hina).   

Pedihnya Neraka Huthamah

Allah telah menyipkan neraka Huthamah bagi para Humazah dan Lumazah. Desebut al huthamah (menghancurkan) karena ia akan menghancur leburkan para penghuninya. Perhatikan Allah berfirman: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah”. Kemudian Allah menyebutkan beberapa sifat neraka huthamah: (a) apinya menggelegak naik sampai kehati, hati adalah paling sensitifnya organ manusia jika dikena api. Bila api neraka sampai ke hati maka ia akan terasa sangat nyeri. Disebutkan hati secara khusus disini, karena di dalamnya tersimpan akidah-akidah yang menyimpang, niat-niat yang buruk dan penyakit-penyakit hati seperti: sombong, dengki, hasud dan lain sebagainya. (b) api itu disekap dengan tutup yang sangat rapat, tanpa fentilasi sama sekali sehingga panasnya benar-benar terpusat pada satu arah. (c) para penghuninya diikat pada tiang panjang api neraka dalam keadaan pengap dan tertutup tanpa udara. Wallahu a’lam bishsshwab.

Tafsir Al Hikmah

Dr. Amir Faishol Fath

عن أبي موسى رضي الله عنه قال: قلت يا رسول الله أي المسلمين أفضل ؟ قال : من سلم المسلمون من لسانه ويده (متفق عليه).

Abu musa ra. berkata: wahai Rasulullah siapakah yang paling utama diantara kaum muslimin ? beliau menjawab: orang yang selamat diantara orang-orang Islam dari lidah dan tangannya.

عن سهل بن سعد قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من يضمن لي ما بين لحييه وما بين رجليه أضمن له الجنة. (متفق عليه)

Rasulullar saw. bersabda: siapa yang berani menjamin kepadaku atas selamatnya apa yang ada diantara dua tulang dagunya dan apa yang ada diantara dua pahanya maka aku berani memberikan jaminan surga kepadanya.

عن أبي هريرة أن رسو ل الله صلى الله عليه وسلم قال: أتدرون ما الغيبة؟ قالوا: الله ورسوله أعلم ، قال: ذكرك أخاك بما يكره ، قيل : أفرأيت إن كان في أخي ما أقول؟ قال: إن كان فيه ما تقول فقداغتبته، وإن لم يكن فيه ما تقول فقد بهته. (رواه مسلم)

Rasulullah saw. bersabda: “tahukah kalian apakah menggunjing itu?” Para sahabat berkata: “Allah dan RasulNya lebih mengetahui”, beliau bersabda: “yaitu kamu menceritakan keadaan saudaramu yang tidak menyenangkannya”. Ada yang bertanya: “bagaimana jika saya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada saudaraku itu?” Rasulullah saw. menjawab: “jika kamu menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada saudaramu berarti kamu menggunjingnya, dan jika kamu menceritakan yang sebenarnya tidak terjadi pada saudaramu maka berarti kamu benar-benar membohonginya”.

عن عائشة رضي الله عنها قالت: قلت للنبي صلى الله عليه وسلم حسبك من صفية كذا وكذا، قال بعض الرواة : تعنى قصيرة ، فقال: لقد قلت كلمة لو مزجت بماء البحر لمزجته، قالت: وحكيت له إنسانا، فقال: ما أحب أني حكيت إنسانا وإن لي كذا كذا .(روا أبو داود والترمذي)

Aisya ra berkata: saya berkata kepda Rasulullah : puaskah kamu dengan sofiah yang begini dan begitu? (menurut sebagian perowi: sofiah yang pendek), Rasulullah bersabda: “kamu telah mengatakan suatu perkataan yang seandainya dicampur dengan air laut niscaya dapat mempengaruhinya”. Aisyah berkata: saya pernah menceritakan keadaan sesorang kepada beliau, kemudian beliau bersabda: aku tidak suka menceritakan keadaan seseorang meski aku diberikan upah sekian banyak.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم.(رواه مسلم).

Rasulullah saw bersabda: seseorang itu cukup dianggap jahat bila ia menghina saudaranya sesama muslim.

عن ابن مسعود رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: لا يدخل الجنة من في قلبه مثقال ذرة من كبر، فقال رجل: إن الرجل يحب أن يكون ثوبه حسنا ونعله حسنة، فقال: إن الله جميل يحب الجمال، الكبر بطر الحق وغمط الناس.(رواه مسلم).

Rasulullah saw bersabda: tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada sifat sombong walau hanya sebesar atom, kemudian ada yang berkata: seseorang suka memakai pakaian indah dan sepatu bagus. Beliau berkata: sesungguhnya Allah itu indah senang pada keindahan. Sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia.

About Post Author