Thursday, July 24

Al Fiil (Gajah)

amirfath.com, Tadabur Surah Al Fiil (105), Des 2020 – Surat ini diberi nama al Fiil karena ia menceritakan kisah ashabul fill (pasukan gajah yang bergerak untuk menghancurkan Ka’bah di bawah panglima Abrahah). Abrahah adalah seorang raja dari Habsyah, ditempatkan di Yaman.

Korelasi dengan surat sebelumnya: Pada surat sebelumnya Allah menyebutkan tentang penggunjing dan pencela yang suka mengumpulkan harta dan berbangga-bangga dengannya. Namun ternyata harta tersebut tidak memberikannya manfa’at, bahkan malah melemparkannya ke dalam api neraka. Kemudian pada surat al Fiil ini, Allah menyebutkan salah satu bukti yang menunjukkan hal itu yaitu dengan mendatangkan kisah ashabul fiil. Di mana mereka adalah pasukan yang kuat secara materi, didukung dengan pasukan gajah yang tak mungkin terkalahkan. Tetapi ternyata Allah menghancurkan mereka hanya dengan pasukan burung kecil dan lemah. Betapa harta mereka yang berlimpah, jumlah mereka yang besar dan kekuatan mereka yang tak tertandingi semuanya menjadi lumpuh di hadapan kekuasaan Allah. Segala yang mereka banggakan tidak sanggup memberikan pertolongan sedikitpun kepada mereka.

Kandungan Pokok surat: Surat ini hanya terfokus pada kisah ashabul fiil yang mengandalkan harta sebagai puncak kekuatan mereka, dibantu dengan tentara bergajah yang gagah perkasa. Tetapi mereka tidak berdaya apa-apa. Allah lalu menghancurkan mereka dengan burung-burung Ababil yang melempar mereka dengan batu-batu sijjil. Begitu batu-batu tersebut mengenai tubuh mereka, seketika mereka menjadi seperti daun-daun yang dimakan ulat.

Kisah Hancurnya Ashabul fiil.

Kata “alam taro” pada pembukaan surat, ditujukan kepada Rasulullah saw. artinya tahukan kamu Muhammad? Bentuk pertanyaan ini untuk menggambarkan dahsyatnya kejadian yang menimpa pasukan gajah tersebut. Maksudnya, Tahukah kamu apa yang Allah perbuat kepada ashabul fiil? Dan kamu tahu apa yang telah Allah lakukan terhadap mereka?

Benar, Allah telah menghancurkan mereka. Itu terjadi  karena mereka merasa berkuasa di muka bumi. Baru diberi kekuasaan secuil, tiba-tiba berbalik menantang Allah. Dalam surat yasiin 36/77 Allah berfirman: Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” Perhatikan Abrahah dan tentaranya yang tertipu, ia mengira bahwa harta dan kuasaannya bakal mendukung segala rencananya. Padahal tidak demikian. Banyak hal yang diinginkan manusia, dan di saat yang sama segala fasilitas telah terpenuhi, tetapi pada kenyataannya berakhir dengan kondisi yang mengenaskan.

Di sini nampak, bahwa ada kekuatan yang jauh lebih besar di luar kekuatan manusia. Itulah kekuatan Allah. Maka ketika manusia merasa dirinya tinggi, dan merasa berhak melakukan perbuatan dzalim semena-mena di muka bumi, berarti ia telah meletakkan dirinya pada posisi yang berlawanan dengan kekuatan Allah. Ketika yang dihadapi kekuatan Allah, maka jangan di harap ia bisa bertahan lama. Allah pasti menghancurkannya, seperti ia pernah menghancurkan pasukan Fir’aun dan kini pada surat Al Fiil Allah menghancurkan pasukan gajah.  

Mengapa Allah menghancurkan pasukan gajah? Sebab pasukan tersebut bersikeras untuk menghancurkan Ka’bah. Rumah yang sangat Allah agungkan. Maka tidak mungkin mereka dibiarkan begitu saja. Mereka harus diberi pelajaran, sebagaimana juga agar orang-orang yang hidup sesudahnya harus mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut. Pelajaran untuk tidak mengulangi hal yang sama. Cukuplah Abrahah sebagai contoh, dan kita menjauhi segala sikap yang mengarah ke titik yang sama.

Namun kenyataanya Abrahah-Abrahah baru bermunculan lagi. Sekalipun mereka tidak bergerak untuk menghancurkan Ka’bah, tetapi mereka telah jauh melangkah untuk mengahncurkan pilar-pilar utama agama ini. Mereka berusaha untuk mengahancurkan Al Qur’an dan As Sunnah. Mereka menganggap bahwa tidak ada di muka bumi ini yang mempunyai kebenaran mutlak. Semuanya relative. Termasuk Al Qur’an dan As Sunnah yang shahih di anggpa relative. Suatu sikap yang sungguh jika merasuki pemikiran umat Islam, ia akan sangat membahayakan.

Senjata Makan Tuan

Tetapi perhatikan apa yang terjadi pada rencana mereka yang busuk itu? Allah telah merusak rencana tersebut. Tipudaya yang mereka rancang barhari-hari, ternyata benar-benar jadi bumerang yang menyerang mereka sendiri. Allah berfirman: alam yaj’al kaidahum fii tadhliil? Kata tadhlil artinya menyesatkan. Maksudnya bahwa ketika mereka hendak melawan Allah, ternyata sangat mudah bagi Allah untuk membalik arah niat jahat itu, sehingga niat jahat tersebut tiba-tiba melawan diri mereka sendiri.

Bukan hanya itu, tubuh-tubuh mereka hancur. Segala harapan yang mereka dambakan seketika menjadi musnah. Harapan untuk hidup di dunia hancur berantakan. Apalagi harapan untuk hidup di akhirat, mereka pasti akan menjadi bahan bakar api neraka. Allah menyebutkan kata tadhlil itu untuk menunjukkanbahwa mereka benar-benar tersesat jalan: Mereka tersesat karena tidak tahu jalan ke Makkah untuk menghancurkan Ka’bah. Sehingga mereka tidak sampai ke tujuan untuk mejalankan keinginan busuknya. Lebih dari itu mereka harus berhadapan dengan kekuatan besar serangan burung-burung Ababil. Serangan yang membuat tubuh-tubuhn mereka hangus dan lepuh seketika. Dan mereka benar-benar tidak berdaya di hadapannya.

Mereka juga dalam kondisi tersesat secara akidah, karena telah berlaku sombong. Baru saja diberi sejumlah harta dan kekuasaan, seketika bangkit untuk menandingi Allah dan mau menghancurkan rumahNya. Karenanya mereka harus menjalani sikasaan Allah di akhirat. Sisaan yang tidak ada bandingannya. Dan mereka pasti akan menyesal atas segala perbuatan yang mereka lakukan.

Pasukan Burung-burung Ababil

Sebelum segala rencana busuk itu terjadi, dan sebelum pasukan kafir laknat itu memasuki masjid Al Haram, tiba-tiba datang pasukan burung-burung Ababil. Datangnya muncul dari arah laut menuju ke arah Yaman. Berung-burung itu begitu banyak, bagai gelombang, sedikit demi sedikit menutupi langit.

Masing-masing membawa tiga buah batu kecil, dua di kedua kakinya dan satu di paruhnya. Batu kerikil itu bernama sijjil. Setiap orang yang dikena batu tersebut seketika kulit dan dagingnya menjadi masak lalu terkelupas dari tulangnya. Allah mengumpamakan tubuh-tubuh pasukan Abraha yang dikena kerikil-kerikit tersebut dengan gambaran yang sering kali kita saksikan yaitu kaashfin ma’kuul ( seperti sisa-sisa makanan atau daunan yang dimakan ulat). Kocar-kacir berantakan tidak ketahuan bentunya.

                                                (Tafsir Al Hikmah) Dr. Amir Faishol Fath

عن أبي حارثة بن وهب رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ألآ أخبركم بأهل النار؟ كل عتل جواظ مستكبر.(متفق عليه)

Abu Haristah berkata: saya mendengar Rasulullah saw bersabda: maukah kalian aku beritahu tentang ahli neraka? Yaitu setiap orang yang kejam, rakus dan sombong.

عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: احتجت الجنة والنار، فقالت النار: فيّ الجبارون والمتكبرون. وقالت الجنة : فيّ ضعفاء الناس ومساكينهم، فقضى الله بينهما إنك الجنة رحمتي أرحم بك من أشاء، وإنك النار عذابي أعذب بك من أشاء، ولكليكما علي ملؤها.(رواه مسلم)

Rasulullah saw bersabda: surga dan neraka itu berdebat, neraka berkata: padaku orang-orang yang kejam dan sombong. Surga berkata: padaku orang-orang yang lemah (tertindas) dan miskin. Kemudian Allah memberi keputusan kepada keduanya:”sesungguhnya kamu surga adalah tempat rahmatKu, Aku memberi rahmat dengan kamu kepada siapa saja yang Aku kehendaki. Dan sesungguhnya kamu neraka adalah tempat siksaanKu, Aku menyiksa dengan kamu kepada siapa saja yang Aku kehendaki, dan bagi masing-masing kamu berdua Aku memenuhinya”.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم: بينما رجل يمشي في حلة تعجبه نفسه مرجل رأسه، يختال في مشيته انخسف الله به فهو يتجلجل في الأرض إلى يوم القيامة.(متفق عليه)

Rasulullah saw bersabda:suatu ketika ada seorang berjalan dengan memakai perhiasan, rambutnya yang tersisir dipertontonkan. Ketiba berjalan di dalam dirinya penuh kebanggaan dan rasa sombong. Allah akan menyiksanya membuatnya selalu timbul tenggelam dipermukaan bumi sampai hari kiamat.

عن أبي موسى رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم إن الله يملي للظالم فإذا أخذه لم يفلته، ثم قرأ { وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ(هود: 102)}(متفق عليه)

Rasulullah saw bersabda: sesungguhnya Allah cukup memberi kebebasan kepada orang yang berbuat dhalim tetapi apabila telah datang siksaanNya maka ia tidak akan bisa menghindarinya lagi. Kemudian beliau membaca ayat …(Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras)(QS. Hud 11/102).

إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ(57)وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ(58)وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ(59)وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا ءَاتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ(60)أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ(61)

Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (QS. Al Mu’minuun 57-61)

About Post Author