Quraisy (Suku Quraisy)
amirfath.com, Tadabur Surah Quraisy (106), Des 2020 – Surat makkiyah ini diberi nama Quraisy karena dari awal sampai akhir menceritakan tentang suku Quraisy. Allah mengingatkan mereka agar segala kenikmatan yang diberikan bisa membuat mereka selalu menyembah Allah semata.
Erat kaitan surat ini dengan surat sebelumnya (alFiil) dapat dilihat dari sisi pembukaan surat yang berbunyi li iilaafi quraisy; seakan jawaban atas pertanyaan: mengapa Allah menghancurkan pasukan gajah yang hendak menghancurkan ka’bah? Jawabannya: li iilaafi quraisy (karena Allah akan memberikan rasa aman kepada kaum quraisy).
Dalam surat Al Fiil Allah mencritakan bagaimana pasukan gajah itu Allah hancurkan dengan cara yang sangat mengenaskan, sebagai nikmat atas kaum Quraisy yang menghnui kota Makkah, lalu pada surat ini Allah menyebutkan beberapa nikmat yang lain lagi, atas kaum qurisy terutama nikmat dari segi ekonomi dan perdagangan. Di sana lebih berkaitan dengan nikmat keamanan, di sini lebih berkenaan dengan nikmat social-ekonomi.
Diriwayatakan dari Ummu Haani’ binti Abi Thalib bahwa Rasulullah saw. bersabda:” Allah utamakan suku quraisy dengan 7 hal: (1) aku dari mereka, (2) kenabian juga dari mereka,(3) (al hijabah) menjaga ka’bah dan memegang kuncinya adalah kewajiban mereka (4) (as siqayah) memberikan minum kepada jamaah haji adalah kewajiban mereka (5) Allah menyelamatkan mereka dari serangan pasukan gajah, (6) mereka menyembah Allah 10 tahun sebelum kaum lain menyembahNya (7) Allah menurunkan surat khusus bagi mereka dalam alQur’an, kemudian Rasulullah saw. membacakan surat ini.
Kenikmatan paling agung bagi suku Quraisy
Dalam surat ini Allah menyebutkan tentang tabiat kehidupan orang-orang Quraisy, di mana Allah memberikan kemudahkan kepada mereka dalam melakukan perjalanan bisnis di dua musim: perjalanan ke Yaman pada musim dingin karena Yaman negri yang panas maka cocok jika didatangi pada musim dingin. Dan perjalanan perjalanan ke negri Syam pada musim panas karena Syam negri yang dingin.
Suku Quraisy Makkah terkenal sebagai saudagar, tanpa melakukan rihlah mereka tidak akan bisa hidup di Makkah. Dengan jiwa berdagang itulah mereka bisa melanjutkan kehidupan di kota Makkah. Di kota Makkah mereka merasa aman, karena mereka berdiam di sampaing Masjid Al Haram. Inilah kemulyaan yang diberikan Allah kepada mereka. Karena itu Allah memerintahkan mereka untuk menyembahNya sebagai bukti syukur atas nikmat yang didapatkannya.
Dari sini nampak mengapa Allah menjaga ka’bah? Sebab ka’bah ini yang kalak Allah jadikan sebagai kiblat hamba-hambaNya di seluruh dunia. Maka kekuatan apapun yang bergerak untuk menghancurkan ka’bah, pasti Allah akan menghcurkannya sebelum sampai kepada tujuan yang mereka inginkan. Perhatikan pasukan gajah yang gagah perkasa itu, Allah hancurkan mereka sebelum membuktikan niatnya. Imam ar Razi ketika menafsirkan “falya’budu rabba hadzal bait” beliau menyebutkan bahwa nikmat Allah ada dua mkacam: pertama, menolak bala dan ini sangat penting karena menjaga diri dari bala adalah wajib. Kedua, mengambil manfa’at sebagai buah dari nikmat pertama. Allah menjelaskan pada surat Al fiil mengenai nikmat penolak bala lalu dalam surat ini memerintahkan untuk ibadah sebagai kewajiban atas nikamt telah diterimanya.
Kenikmatan lain bagi mereka
Kemudian Allah menyebutkan beberapa nikmat lainnya: Pertama, bahwa Allah sebagai Rabbul Bait telah memberikan makanan dan menjauhkannya dari kelaparan, meluaskan rizki mereka dengan memberikan kemudahan untuk melakukan dua rihlah di musim panas dan musim di mana dengan kedua rihlah tersebut mereka bisa mendapatkan rizki. Kedua, bahwa Allah memberikan mereka rasa aman dan tenang menetap disamping Baitul Haram. Maka hendaklah mereka menyembah total hanya kepada Allah. Jangan lagi menyembah berhala, patung atau sepertinya. Dalam hal ini dapat kita lihat betapa Allah tidak memisah-misahkan perkara dunia dan akhirat sebagaimana dalam firmanNya “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari ni`mat-ni`mat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri tetapi mereka mendustakannya; karena itu mereka dimusnahkan azab dan mereka adalah orang-orang yang zalim”(QS. An Nahl 16/112-113).