Riba Dan Sedekah
amirfath.com, Opini (07), Des 2020 – Dalam surah Al Baqarah 276 Allah berfirman: “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa”. Ayat ini menggambarkan dua cara mendapatkan keuntungan dalam bisnis: Pertama dengan cara riba, kedua dengan cara sedekah. Tapi Allah tidak menykai cara riba, karenanya setiap cara riba akan selalu Allah hancurkan. Dan Allah menyukai cara sedekah, karenanya setiap cara sedekah akan selalu Allah untungkan. Dengan kata lain, riba bukan cara berbisnis yang baik. Sebab riba mempersulit orang lain. Riba adalah cara mengeruk keuntungan dengan mencekik kehidupan banyak orang. Bila system riba dilestarikan, tidak mustahil akan menyebabkan malapetaka besar-besaran dalam dataran kemanusiaan. Baru-batu ini –dan sampai sekarang masih berlangsung- kita menykasikan kerisis global finasial. Itu asal muasalnya tidak lain karena riba. Allah mengharamkan riba, bukan sarana bisnis yang baik. Riba hanya memenangkana kaum kapitalis (para pemilik modal). Sementara orang-orang yang lemah akan terus semakin lemah, karena mereka akan terus dipaksa untuk membayar bunga kepada para pemilik modal. Bila diumpamakan dengan nyamuk, riba sungguh mengisap darah perekonomian seperti nyamuk mengisap darah manusia.
Dalam dunia bisnis, sebenarnya yang paling penting bukan sekedar mendapatkan keuntungan. Melainkan bagaimana membantu orang lain. Allah swt. membagi-bagi rejeki di antara manusia, bukan untuk membuat yang kaya mencekik yang lemah, melainkan supaya melakukan ta’awaanuu alal birri wat taqwaa bukan melakukan ta’awaanuu alal itsmi wal ‘udwaan. Karena itu pinjam memininjam dalam fikih Islam bukan cara untuk mendapatkan keuntungan, melainkan untuk membantu orang lain. Rasulullah saw. bersabda: “siapa yang mempermudah saudaranya sesama muslim, Allah akan mempermudah baginya di hari Kiamat”. Artinya bahwa mempermudah urusan orang lain adalah inti ajaran Islam. Bahwa segala tindakan mempersulit orang lain diharamkan dalam Islam. Itulah sebabnya mengapa Allah berjanji akan menghancurkan ekonomi yang dibangun di atas sistem riba, dan akan mengembangkan sistem ekonomi yang dibangun di atas perinsip sedekah atau memberi.
Sedekah adalah tindakan membantu orang lain. Pada ayat di atas Allah menjamin keberkahan bagi kehidupan ekonomi sedekah. Bahwa prinsip berbagi adalah suatu keniscayaan. Bahwa manusia tidak akan pernah tenang di dunia apalagi di akhirat tanpa saling berbagi. Bahwa kejahatan dan kerusakan akan terus menghantui kemanusiaan selama manusia tidak keomitmen untuk saling tolong menolong. Bahwa kemenangan Rasulullah saw. dan sahabatnya-sahabatnya dalam sejarah adalah karena mereka berangkan dari prinsip ekonomi ta’awun (tolong-menolong). Bahwa sehebat apapun sistem ekonomi dan sepintar apapun para palakunya, ketika sistem tersebut tegak di atas prinsip riba, ia ibarat pohon yang rapuh. Akarnya tidak menghunjam ke bumi. Suatu saat, akan segera roboh dan menghancurkan manusia itu sendiri. Dalam surah Ibrahim 26, Allah berfirman: “Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun”. Wallahu a’lam bish shawab.