Sunday, July 20

Kodrat Perbedaan Etnis Dalam Al Qur’an

amirfath.com, Artikel (20), Des 2020 –

يَاأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ(الحجرات13(

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al Hujuraat 13)

Deklarasi Ilahiyah

Ayat ini adalah deklarasi Allah swt. bahwa manusia akan menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku ”syuuba wa qabaaila”. Artinya bahwa perbedan etnis adalah disain Allah yang tidak mungkin manusia hindari. Panggilan “yaa ayyuhan naas” menunjukkan bahwa pemberitahuan ini untuk semua manusia, supaya mereka tahu hakikat perbedaan yang pasti akan mereka alami. Pun supaya mereka kenal hakikat diri mereka sendiri sebagai mahluk yang akan berpencar-pencar di muka bumi lalu membangun kebangsaan mereka masing-masing. Dengan kata lain bahwa munculnya perbadaan etnis di tengah manusia adalah sunnatullah. Sebab dengannya akan muncul sinergi dan saling membantu antara satu dengan lain.

Maksud lain dari panggilan ”yaa ayyuhan naas” dan mengapa bukan ”yaa ayyuhal ladziina aamanuu” adalah untuk menunjukkan bahwa manusia asalnya satu, dari jenis yang sama dan dari bapak yang sama yaitu nabi Adam as. Namun kendati dari satu bapak, kemungkinan berpeda cara pandang dan cara berpikir tidak akan pernah bisa dihindari. Dari potensi perbedaan ini akan terlahir kelak munculnya perbedaan suku dan etnis. Karena itu kemudian Allah berfirman: ”waja’alnaakum syu’uubaa waqabaaila”. Jadi masalah perbedaan etnis adalah bagian dari proses perjalanan hidup manusia di muka bumi. Dan sekarang kita telah menyaksikan kenyataan ini. Bahwa munculnya berbagai negara adalah perwujudan konkrit dari adanya berbagai bangsa.

Karena itu upaya apapun untuk menghilangkan sunnatullah ini tidak akan pernah tercapai. Sebab Allah sudah mendeklarasikan dalam ayat di atas. Bahwa manusia dalam prjalanan sejarahnya akan menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Maka siapa yang akan menghilangkan hakikat ini, ia harus berhadapan dengan ketentuan Allah yang paten tersebut. Oleh karena itu tema pokok pembicaraan yang harus selalu kita angkat bukan masalah perbedaan etnis melainkan bagaimana perbedaan ini menjadi sinergi. Bukankah alam ini Allah tegakkan di atas perbedaan. Perbadaan langit dan bumi, air dan udara, pohonan dan binatang, batu-batu dan besi. Tetapi semua itu tidak saling menghancurkan, melainkan saling melengkapi.

Makna lita’aarafuu

            Lalu Allah menegaskan tujuan sunnah perbedaan etnis tersebut dengan berfirman: lita’aarafuu. Artinya untuk saling mengenal. Kata at ta’aruf biasanya dimulai dari linkup kecil: keluarga, lalu kabilah, lalu suku, lalu bangsa. Dalam perjalanannya at ta’aruf selalu berlangsung secara alamiah. Hanya saja semakin lebar ruang lingkupnya semakin renggang. Kerenggangan ini cendrung menimbulkan permusuhan antar kabilah atau antar bangsa. Padahal seandainya mau kembali melihat kepada asalnya semua manusia akan tahu bahwa ujung pangkalnya adalah satu nabi Adam as, dan nabi Adam dari tanah. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw, bersabda: Kalian semua adalah anak Adam, dan Adam dari tanah, maka handaklah kalian tinggalkan kebanggan etnis, karena itu termasuk bara neraka Jahannam (HR. Abu Daud, 4/331, no.5116).

            Dalam makna lita’aarafuu terkandung makna untuk saling berkomunkasi dengan baik. Sebab dari saling berkumunikasi prasangka buruk akan hilang. Begitu juga dengan saling berkumunikasi kebanggan etnis yang cendrung membuat permusuhan akan terhindari. Di sini Allah swt. mengajarkan pentingnya komunkasi. Sebab seringkali munculnya persepsi yang salah adalah karena miskomunikasi. Akibat lebih jauh dari miskomunikasi ini adalah munculnya peperangan antar bangsa, yang dengannya nyawa manusia menjadi tidak ada harganya. Perhatikan betapa Allah swt. mengajarkan jauh sebelumnya pentingnya at ta’aaruf  supaya manusia tetap hidup dalam kedamaian sekalipun berbeda etnis. Bahwa perbedaan etnis bukan penyebab utama permusuhan, melainkan hilangnya miskomunikasi itulah yang seringkali menyeret manusia ke dalam perpecahan.

            Di antara makna at ta’aruf juga saling berbuat baik. Dalam Al Qur’an kata al ma’ruf di artikan sebagai kebaikan. Dalambanyak hadits Rasulullah saw. selalu menggunakan istilah al amru bil ma’ruuf  yang artinya menyuruh dalam kebaikan. Dengan demikian nampak jelas bahwa hakikat perbedaan etnis dalam Al Qur’an bukan sumber permusuhan dan perpecahan, melainkan sarana untuk saling berbuat baik. Maka sungguh tidak ada alasan bagi mereka yang berperang dang saling menjajah karena perbedaan etnis. Sebab tujuan dari sunnah perbedaan etnis bukan untuk saling menjatuhkan melainkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan.

Pentingnya Ketakwaan Dalam Beretnis

            Tema takwa adalah termasuk tema pokok dalam Al Qur’an. Semua risalah para nabi, ujung pangkalnya adalah untuk membangun takwa. Takwa artinya bersungguh-sungguh mentaati Allah swt. Umar bin Khattab pernah bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang takwa. Ubay menjawab dengan balik bertanya: pernahkah kau Umar melewati jalan penuh duri? Umar menjawab: Pernah. Ubay bertanya lagi: Apa yang kau lakukan pada saat itu? Umar menjawab: Aku hindari duri itu aku melangkah. Ubay menjawab: Itulah takwa.

Dari kisah dialog Umar dan Ubay ini nampak bahwa takwa adalah puncak kehati-hatian seseorang dari berbuat maksiat kepada Allah, seperti ia berhati-hati dari duri. Tentu tidak ada seseorang ketika melewati duri atau ranjau ia berjalan seenaknya. Ia pasti berhati-hati jika ia berakal sehat. Begitu juga dalam menjalani hidup di muka bumi ini,  seseorang yang berakal sehat pasti berhat-hati jangan sampai matanya melihat yang haram. Jangan sampai tangannya mengambil, menulis atau meraba yang Allah haramkan. Jangan sampai perutnya kemasukan barang haram. Jangan sampai rumahnya di masuki harta haram. Jangan sampai anak istrinya makan masakan haram dan seterusnya.

Makna totalitas takwa ini ternyata bukan hanya berkalitan dengan makanan, melainkan juga berkaitan dengan kehidupan berbangsa. Banyak masalah kebangsaan terjadi, di mana penyebab utamanya adalah karena tidak adanya takwa. Sebab katika suatu kaum tidak punya takwa, ia pasti akan menuhankan hawa nafsu. Maka katika nafsu menjadi tuhan, otomatis permusuhan tidak bisa dihindari. Karena itu pada ayat di atas Allah –dalam kaitannya dengan perbedaan etnis- Allah menekankan pentingnya ketakwaan. Itu menunjukkan bahwa cara terbaik untuk membangun kedamaian antar berbagai etnis atau bangsa adalah dengan meningkatkan ketakwaan.

Lebih jauh, makna inna akramakum indallahi atqaakum adalah bahwa bagi Allah yang terpenting bukan masalah etnis atau bangsa, melainkan ketakwaan masing-masing. Sebab di dalam Al Qur’an tidak ada keterangan mengenai kemulyaan seseorang karena keuturunan. Tidak ada dalam ayat manapun atau hadits apapun yang menjelaskan bahwa si fulan lebih mulia dari lainnya karena keuturunan darah biru. Pun juga tidak ada keterangan mengenai bahwa kaum fulan itu pilihan Allah karena kesukuannya atau kebangsaannya. Semua bagi Allah sama. Semua diciptakan dari setetes air mani yang hina. Allah berfirman:   ”Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?  Dia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada” (Ath Thaariq 5-7).

Rasulullah saw. dalam khutbahnya pada saat haji wada’ juga menegaskan hakikat ini: ”Wahai manusia, sesungguhnya Tuhanmu satu, ayahmu satu, maka tidak ajaran bahwa kaum Arab lebih baik dari pada kaum lainnya atau ebaliknya. Pun tidak ada ajaran bahwa yang berkulit hitam lebih baik dari pada yang berkulit mirah atau sebaliknya, melainkan karena ketakwaannya”. Di sini nampak jauh-jauh sebelum munculnya perpecahan karena masalah etnis, Rasulullah saw. mewanti-wanti agar takwa menjadi tema sentral perjuangan setiap manusia, apapun suku atau bangsanya. Sebab bila takwa benar-benar tegak, kemungkinan terjadinya perpecahan akan bisa dihindari.

Inilah petunjuk yang datang dari Allah. Tidak ada kebenaran kecuali yang datang dariNya. Dialah yang maha mengetahui ”aliim” dan paling ahli dalam segala segala sesuatu ”khabiir”. Maka tidak ada soslusi untuk menyelsaikan persoalan-persoalan etnis kecuali harus kembali kepada ajaranNya. Bila ternyata pada ayat di atas Allah swt. menegaskan pentingnya takwa, maka berarti jalan terbaik menuju keharmunisan dalan beretnis atau berbangsa adalah kembali kepada Allah dan bertakwa kepadaNya secara jujur ”haqqa tuqaatih”. Sebab hanya dengan bersungguh-sungguh ikut Allah, keberkahan akan turun. Bila keberkahan turun, maka otomatis kedzaliman dan permusuhan antar berbagai etnis akan hilang. Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author