Saturday, July 19

Ketika Hidayah Masuk ke Hati

amirfath.com, Kisah (01), Des 2020 – Umair bin Wahab tadinya masih kafir. Ia bertekad untuk membunuh Nabi saw. Ia sangat benci kepada Nabi karena dianggap telah menghancurkan akidah yang selama ini yakini. Nabi telah mengajak meraka menyembah Allah. Suatu pagi Umair keluar untuk bertawaf di Ka’bah dan memohon barakah kepada patung-patung yang ia sembah. Di sana Umair bertemu dengan Safwan bin Umayah. Safwan mengajak Umair ngobrol sejenak. Dalam obrolan Umair menceritakan bahwa ia punya banyak beban hutang. Kalau tidak karena hutang tersebut ia telah berangkat ke kota Madinah untuk membunuh Nabi. Safwan segera menjawab: biarkan aku yang menanggung hutangmu. Dan aku pula yang akan menaggung segla kebutuhan istri dan anak-anakmu jika kamu terbunuh.

Mendengar pernyataan Safwan, Umair langsung bertekad berangkat ke Madinah. Pedangnya ia selendangkan di punggungnya. Tekadnya 100% untuk membunuh Nabi. Di Madinah, Umar bin Khaththab melihat Umair menuju masjid. Umar segera memberitahukan kepada Nabi bahwa Umair datang dengan niat yang jahat. Nabi mengizinkan Umair masuk menemuinya. Umair masuk mengucapakan salamat pagi. Nabi menjawab bahwa kita telah mempunyai salam lebih baik dari itu. Nabi bertanya: Apa yang membuat kau datang ke sini wahai Umair? Umair menjawab: Aku datang untuk  meminta agar tawanan perang Badar dilepaskan.

Nabi bertanya lagi: Untuk apa engkau membawa pedang di lehermu? Umair menjawab: Aku tidak ada maksud apa-apa kecuali hanya untuk menuntut tawanan perang Badar. Nabi lalu menjawab: Bukankah kau telah duduk bersama dengan Safwan bin Umayah di dekat Ka’bah, lalu kamu berkata: kalau tidak karena aku punya beban hutang niscaya aku berangkat untuk membunuh Muhammad? Nabi melanjutkan ucapannya: Bukankah Safwan pada saat itu berkata: Biar aku yang akan menanggung hutangmu dan menghidupkan keluargamu, dengan syarat kau membunuh Muhammad? Nabi melanjutkan: Tetapi Allah akan menghalangi itu. Niat jahatmu tidak akan bisa kau lakukan. Umair seketika terdiam. Lalu ia mengucapkan: Aku bersaksi bahwa engkau utusan Allah.

Umair melanjutkan ucapannya: Tadinya aku tidak percaya bahwa engkau utusan Allah. Dan aku tidak yakin bahwa engkau mendapatkan wahyu dari langit. Umair berkata lagi: Tetapi mengenai pembicaraan aku dengan Safwan itu sungguh tidak ada seorangpun yang tahu kecuali kami berdua. Maka aku yakin bahwa engkau mendapatkan berita itu dari Allah. Umair bersyukur dengan menjadi seorang muslim. Ia berucap: Sagala puji bagi Allah yang telah membuat aku terhantar kepada jalan Islam. Orang-orang Islam berbegembira dengan masuknya Umai kepada Islam.

Umar bin Khaththab yang tadinya benci kepada Umair dan berkata: bahwa babi lebih aku cintai dari pada Umair, setelah itu ia merevisi ucapannnya itu dengan berkata: Sekarang Umair lebih aku cintai dari sebagian anak kandungku. Safwan bin Umayah menunggu lama sekali berita tentang apa yang telah diperbuat Umair.  Tapi malah ia mendengar bahwa Umair telah masuk Islam. Safwan sangat kaget mendengar Islamnya Umair. Tadinya ia yakin bahwa Umair akan tetap kokoh dalam kekafirannya. Bahwa Umair tidak mungkin masuk Islam sekalipun seluruh penduduk bumi masuk Islam. Umair benar-benar menjadi Muslim yang baik. Ia mulai mendalami ajaran Islam. Beberapa surah Al Qur’an mulai banyak yang dihafal. Maka mulai muncul dalam dirinya semangat dakwah.

Umair datang kepada Nabi: Wahau Rasul, sudah cukup lama aku berusaha untuk memadamkan cahaya Islam, sekarang izinkan aku untuk berdakwah di kota Makkah.

Umair melanjutkan: Bila penduduk Makkah menerima ajakanku kepada Islam, maka itu yang aku inginkan, tetapi bila mereka menolak, akan aku sakiti mereka seperti telah sakiti dulu sahabat-sahabatmu yang beriman. Nabi mengizinkan Umair berangkat menuju kota Makkah. Pertama kali ia bertemu dengan Safwan bin Umayah. Umair berkata: Wahai Safwan bukankah engkau punya akal? Bukankah engkau pemuka kota Makkah? Bukankah engaku seorang cerdas?

Umair melanjutkan: Akal yang mana, yang menerima untuk menyembah batu wahai Safwan? Adapun aku, telah beriman dan bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah. Di kota Makkah Umair terus berdakwah. Mengajak orang-orang Quraisy masuk Islam. Satu-satu persatu orang kafir Makkah masuk Islam. Sampai begitu banyak orang-orang masuk Islam karenanya.

About Post Author