Pembantu
amirfath.com, Cerpen (19), Des 2020 – Omong punya omong ternyata masalah pembantu akhir-akhir ini termasuk masalah yang serius di sekitar kawan-kawan saya. Ya, seriusnya macam-macam, ada yang mengeluh karena pingin pembantu. Ada yang merasa tidak puas dengan pembantunya, dan ada yang tidak mampu mengaji pembantunya.
Sementara program kuliah bagi kami pelajar, harus berjalan terus. Dan disaat yang sama urusan rumah dari yang berkaitan dengan masalah dapur sampai masalah anak, itu juga harus ada yang mengurus. Maka boleh dikatakan hal yang satu ini sudah menjadi keharusan.
Salah seorang kawan saya, pernah mencoba mengambil pembantu dari orang asing, karena ketepatan ia lagi belajar di Pakistan. Tapi ada ceritanya, ia merasa tidak cocok. Macam-macam deh alasannya. Yang jelas sekarang dia sedang mencari seorang pembantu dari negeri sendiri. Indonesia.
Kawan saya yang lain lagi, punya pembantu dari Indonesia. Tapi agaknya dia terlalu ketat menyikapi pembantunya, mungkin dalam pemahaman dia, seorang pembantu itu derajat kemanusiaannya lebih rendah. Dikontrol sedetail-detailnya, di curigai, di periksa segala hak miliknya, dicari-cari kesalahannya. Wah, pokoknya tidak ada yang benar dari segala apa yang ia lakukan. Akibatnya, kawan saya ini bingung sendiri, setiap masuk rumah ia merasa sumpek setiap kali bertemu dengan pembantunya itu.
Dan anehnya, kalau anaknya menangis pembantunya yang dimarahi. Padahal memang tabiat anak kecil menangis, lebih aneh lagi pembantunya itu sering dilarang masak, nyuci pakaiaan dan lain sebagainya. Sementara itu semua adalah pekerjaannya. Akibatnya pembantunya ini bingung, mau ngapain ia dirumah. Mau tidur tidak enak, mau makan juga tidak enak, dan sungguh ia mereasa tersiksa. Perasaannya terenyuh, bagai ditusuk-tusuk tak terpikirkan seperti yang ia ceritakan kepada istri saya.
Saya kadang tidak mengerti terhadap sikap kawan yang satu ini. Mengapa ia bersikap demikian? Padahal kalau ia mau menganggap pembantu itu sebagai keluarga sendiri. justru akan mengangkat derajatnya. Dan memangnya demikian Islam mengajarkan, pernah suatu hari sahabat Anas bin Malik bercerita tentang bagaimana sikap Rasulullah selama ia menjadi pembanu beliau. Anas menyebutkan bahwa Rasulullah tidak pernah sedikitpun menyakiti, atau menyinggung hatinya.
Sungguh saya tidak habis pikir, mengapa justru yang bersikap demikian ini adalah orang Islam. Mereka sholatnya baik, puasanya juga dijalani bahkan hajinya pun tak ketinggalan. Tapi masih saja terperangkap dalam berbagai hal yang sebenarnya tidak mencerminkan kesempurnaan semua ibadah itu.
Apalagi kalau saya membaca berita-berita surat kabar. Di sana ternyata tidak sedikit cerota-cerita mengenai bagaimana penderitaan seorang pembantu. Sebut saja misalnya, para pembantu yang dikirim dari Indonesia ke Saudi Arabia. Lebih khusus lagi ke Makkah, di samping Ka’bah lagi. Apa kata berita itu, sungguh sangat menyedihkan. Sebagian dari mereka ada yang diperkosa secara paksa. Sebagian yang lain ada yang sengaja di siksa. Tidak dikasih gajinya, tidak diperbolehkan melihat dunia yang luas ini. Sebagian yang lain ada yang diam-diam melarikan diri. Dan minta tolong ke perwakilan Indonesia disana, untuk segera di pulangkan kekampungnya. Sebagian yang lain ada yang tidak mendapatkan pintu untuk lari, akhirnya ia terpaksa melompat jendela dan meninggal dunia.
Ya, apa boleh buat. Sebab ternyata umat Islam masih banyak yang belum memahami Islam sempurna, mereka masih paham bahwa Islam itu hanya Sholat, puas, zakat dan haji, titik. Tidak ada lagi, dan kalau mereka telah melaksanakan semua itu, dianggapnya telah sempurna Islamnya. Terserah, ia mau berzina, mencuri, korupsi, menyakiti orang lain, dan lain sebagainya. Ini sungguh pemahaman yang keliru, karena dibalik ibadah itu semua masih ada yang namanya akhlaq mulia. Dan itu malah justru yang menjadi tujuan dari disyariatkannya ibadah-ibadah tersebut.