Friday, August 22

Ujian

amirfath.com, Cerpen (18), Des 2020 – Istri saya hari ini mempunyai ujian. Sejak hari-hari kemarin saya melihatnya sebuk sekali. Kesana kemari ia membawa buku. Siang hari, baisanya ia istirahat, saat itu ia gelisah, pandangannya melotot saja kea tap. Seperti ada yang dipikirkan. Seperti ada pekerjaan yang belum selesai. Ia tidak bias tidur.

            Melihat gelagat itu, saya segera menyapa, “ Apa yang dioikirkan saying ? “

            Ia tidak menjawab pertanyaan saya. Ia hanya melihat saya.

            Saya kemudian segera melemparkan sebuah usulan, “ Mama.. mama saying “, saya ngusap-ngusap keningnya, “ kalau memang tidak bias tidur, mama sebaiknya mandi saja. Mama mungkin kecapean karena panas. Atau mama mungkin tegang karena besok ujian. Kalau begitu mama sebaiknya membaca pelajaran yang belum mama siapkan. Dan nanti jika ngantuk, tidur saja. “

            “ Mama tidak mau mandi pa “, jawabnya. “ mama takut sakit. Mama sekarang pingin bicara saja. “

            Ia kemudian meraih kertas catatannya. Sambal tiduran ia berusaha untuk bias menguasai materi yang akan diuji besok pagi. Saya pun ikut tegang. Karena saya memahami bahwa kondiri psikologis istri saya, saat-saat hendak menjalani ujian, sangat sensitive. Syaa tidak boleh mengganggunya sedikitpun. Saya tidak boleh menyentuh perasannya dengan hal-hal apapun. Segala urusan dapur untuk selama itu, terpaksa harus saya tangani sendiri. Namun –Alhamdulillah- setiap kali saya meyodorkan masakan yang asal jadi, istri saya menikmatinya dengan ceria. Saya bahagia sekali.

            Tapi dalam diri saya, masih saja muncul raca curiga. Semacam piiran bahwa istri saya itu hanya pura-pura makan, untuk sekedar memuaskan hati saya. Padahal ia tidak merasa nikmat ketika makan masakan saya. Maka saya yakin bahwa ia masih belum kenyang. Saya yakin bahwa ia diam-diam masih menyimpan rasa lapar. Akhirnya sya mencari jalan keluar, bagaimana supaya iabelajar sambal ngemil-ngemil, makan makanan ringan mengerjakan sesuatu. Saya segera berangkat ke market terdekat. Di sana saya mencari makanan ringan kesukannya. Saya membeli “ Crisp “ makanan yang terbuat dari kentang goring, yang selalu ia nikamti setiap ia membaca buku. Untuk buah-buahan yang ia sukai saya membeli pisang dan anggur. Seperti untuk sarapan besok pagi sebelum ia berangkat ujian, saya membeli “ Cron Flaks “ bahan makanan yang terbuat dari jagung. Kemudian untuk selingan nanti saat menjawab soal-soal ujian, saya membeli manisan penyegar “ Menthol “.

            Melihat sikap saya yang demikian itu, istri saya menaruh curiga.

            “ Papa kok lain hari ini ? “ katanya “

            “ Ya dong. Mama besok kana da ujian. Mama harus segar. Mama harus makan enak. Biar miskin asal puas ma.. “ uajr saya samil meijet-mijet tubuhnya yang letih.

            “ Papa tidak cape ya ? “ Ia segera mengalihkan pembicaraan.

            “ Ah, mama kaya tidak tahu aja. Cape itu tidak terasa ma, kalau dibarangi rasa ikhlas. Dalam pekerjaan apa saja. Apalagi pekerjaan yang berkenaan dengan kewajiaban keluarga. Makannya dalam menuntut ilmu kita harus ikhlas. Bukan belajar karena ujian. Dengan demilian kita tidak akan merasa capek. Kita lihat bagaimana para ulama terdahulu mencari ilmu. Mereka sungguh menderita. Sehingga mereka ada yang berangkat dari kota Madinah ke Messir, dengan kendaraan yang sederhana sekali, yang  menelan waktu berhari-hari, hanya untuk mengecek kebenaran sebuah hadits. Lain lagi cerita Imam Bukhuri, bagaimana capeknya beliau ketika pindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengumpulkan hadits-hadits sahih. Semuanya butuh tenaga. Semuanya butuh pengorbanan. Yang kalau kita tidak menjalaninya dengan ikhlas kita akan rugi dua kali. Di bunia hanya dapat capeknya, diakhirat tidak mendapat pahala apa-apa”.

            Istri saya terdiam. Ia seakan merenungi pembicaraan saya itu. Saya terus saja memijat-mijat tubuhnya “.

            “ Mama tidak usah tegang karena ujian. “ Sambung saya lagi. “ Ini baru ujian dunia mma.. Artinya mama menjalaninya sengan bias-bisa saja. Tidak usah terlalu ngebet. Agar tidak tegang. Ya, kalau dapat ekselen Alhamdulillah kita syukuri. Kalau tidak ya, kita sabar. Kita ulangi lagi. Sebab dunia itu bukan final. Melainkan ia hanya proses menuju kesempurnaan yang hakiki. Dan dengan kesadaran yang demikian kita tidak akan terlalu bangga dengan segala apa yang kita peroleh di dunia. Sebab kita tahu bahwa semuanya itu adalah tanggung jawab. Dan kita kelak pasti akan mempertanggung jawabkannya dihadapan Allah di hari kiamat. Karenanya, mari kita menjalani segala sesuatunya dengan tenang. Bijak. Dan penuh kesungguhan. Itu saja sebenarnya konsep bagaimana menjalani dunia”.

            Istri saya agaknya mulai menerima pandangan-pandangan yang saya lemparkan itu. Ia muali bersikap tenang. Catatnnya ia mulai baca kembali dengan konsentrasi. Saya gembira sekali melihat perubahan itu. Saya biarkan ia belajar sampai menjelang tengah malam. Keesokan harinya, selesai sholat subuh, ia belajar lagi. Dan saya menyiapkan sarapan pagi. Seusai sarapan saya menemaninya menuju tempat jemputan bis universitas dan saya hanya bias berdo’a “ Semoga Allah membuka hatinya, membuka pikirannya, dan mengkaruniani taufiq kepadanya dengan kesuksesan yang gemilang. “

          

About Post Author