Perempuan
amirfath.com, Cerpen (20), Des 2020 – “Perempuan lagi, perempuan lagi” istri saya bergumam.
Sehabis ia membaca koran, majalah dan jurnal, ternyata yang paling berkesan bagi istri saya itu adalah masalah perempuan. Sebab katanya hampir setiap halaman selalu masalah perempuan saja yang di bicarakan. Tak ada habis-habisnya, memangnya mau diapain siih perempuan ini? Katanya lebih lanjut.
Saya melihat sikap istri saya itu cukup terharu. Banyangkan ia sebagai perempuan sudah Nampak bosan mengimuti permasalahan-permasalahan yang menyangkut dirinya. Dan kalau di pikir-pikir benar juga sikap istri saya itu. Sebab rupanya akhir-akhir ini orang membesar-besarkan persoalan apa yang menggerundel di otaknya. Tak perduli apa itu sekedar omong kosong. Yang penting ia keluarkan. Dalam bentuk seminar atau tulisan di majalah-majalah.
Akhirnya apa yang disaksikan pembaca. Ya, mereka malah semakin bingung. Pemikrian yang mereka bisa ikuti, sebab masing-masing sudah memperkuat pemikiriannya dengan ayat. Dan kalau dilihat dari penulisannya, mereka bukan orang yang ahli dalam soal agama. Mereka rata-rata mempunyai keahlian disiplin ilmu-ilmu social. Hanya saja mereka kemudian mempergunakan keahliannya itu untuk menganalisa hal-hal yang berkaitan dengan agama. Khususnya masalah perempuan, akibatnya, banyak ayat-ayat yang mereka tinjau sudah tidak sesuai dengan kondisi social yang ada. Apalagi hadits Nabi, mereka malah menganggap bahwa hadits-hadits tersebut bagaimanapun sahihnya, masih sangat terbatas pada zaman di mana Rasulullah mengucapkannya. Di sini kelihatan letak samping siurnya persoalan itu. Maka wajar kalau kemudian istri saya kesal. Dan merasa bosan membaca hal-hal yang mereka tulis. Sebab menurutnya, dengan membaca gitu-gituan justru malah semakin bingung.
Belum lagi kalau melihat perilaku penulisnya. Mereka berbicara perempuan dalam Islam. Tetapi ia sebagai perempuan tidak memakai jilbab. Anehkan? Ya, perempuan muslimah model apa yang ia inginkan, kalau masalah jilbab yang sudah jelas tidak ada khilaf, ia tinggalkan? Mau perempuan model barat? Ya, kalau maunya seperti itu, tak perlu mengutip ayat sebagai dalil. Sebab orang barat itu tidak pernah berpikir untuk mengikuti pereintah Al-Qur’an.
“Tapi pa, memang kalau mengikuti pemikrian mereka itu justru mama semakin bingung” kata istri saya sambil merapikan majalah yang sudah ia baca.
“Engga bingung bagaimana ma. Wong mereka berbicara judulnya saja Islam, tapi mereka tidak paham apa itu Islam” jawab saya.
Lho kalau mereka enggak mengerti Islam, mengapa bisa menulis tentang Islam?”
“Ya, menulis sih menulis. Tapi yang ditulis apa? Tujuan yang ingin dicapai dari tulisannya pun apa? Cara menafsirkan ayat juga bagaimana? Lihat saja bagaimana mereka berdalil dengan ayat-ayat itu? Mama tahu kan? Ayat-ayat itu mereka bawa ke mana-mana. Enggak ketahuan lagi apa yang sebenarnya dari konteks ayat tersebut. Jadi ketahuan lagi yang sebenarnya kita baca dari tulisan-tulisan mereka itu bukan lagi pemahaman ayat dan nash hadits. Melainkan penyelewengan terhadap makna ayat yang sebenernya. Maka wajar kalau mama semakin bingung. Sebab ayat yang mereka kutip itu hanya sebagai cover. Selebihnya adalah pergulatan otak mereka yang bingung. Nah karena mereka bingung, tulisannya pun ikut bingung. Akibatnya pembaca semakin bingung, disini ma rahasia mengapa para ulama kalau mau menafsirkan satu ayat saja, senantiasa mencuci rohani mereka terlebih dahulu. Mereka shalat dulu, setelah itu mereka membersihkan segala kemungkinan hawa nafsu yang kira-kira bisa mempengaruhi penafsirannya. Baru kemudian mereka memulai menafsirkannya. Itupun tidak sekedar menafsirkannya. Mereka masih berguru sana-sini, guru mereka pun tidak sekedar guru. Melainkan mereka juga mempertimbangkan tingkat keshalehannya. Begitu tradisi yang berlangsung di tengah-tengah ulama kita. Karena kalau kit abaca buku-buku mereka isinya benar-benar ilmu. Bukan semata khayalan, bukan perkira-perkiraan”
“Tapi Pa, apa yang membuat orang-orang sekarang kurang bersemangat untuk mengambil pendapat para ulama itu, alasannya karena para ulama itu bukan maksum. Beberapa pendapat yang mereka lontarkan juga kadang tidak benar, bagaimana itu Pa?”
“Mereka tidak maksum, itu benar. Mereka pernah bersalah dalam berpendapat juga benar, tapi masak lantas karena kesalahan yang sedikit itu, kita lempat pendapat-pendapat mereka yang sudah mereka sepakati. Sebab ma, masalahnya begini di dalam Islam ada hal-hal yang bisa berubah sesuai dengan kondisi dan tempat yang sedang dihadapai. Pun ada hal-hal yang sudah paten, tidak bisa berubah-ubah. Bagaimanapun keadaannya. Seperti masalah Jilbab, tidak lantas karena sekarang banyak wanita yang tidak memakai jilbab, kemudian hukum jilbab itu menjadi mubah. Tidak demikian berfikir kita, sebab kalau begitu terus-menerus lama Islam yang kita anut ini menjadi habis. Dan agaknya sekarang-seakrang ini mereka telah melakukan upaya untuk ke sana”
“Maksudnya gimana pa?”
“Ya, lihat saja. Mereka mulai mengotak-ngatik masalah perempuan, temanya sih boleh saja yaitu bagaimana Islam meletakkan makhluk yang berenama perempuan ini. Tapi ketika kita melihat isinya, ternyata mereka ingin menghantam Islam. Dipandangnya bahwa Islam terlalu mengirat terhadap perempuan, padahal kalau mereka benar-benar mempelajari bagaimana Islam menyikapi perempuan, sungguh mereka akan kagum. Mereka akan tahu bahwa sebenarnya dalam Islam laki-laki dan perempuan itu sama derajatnya sebagai hamba Allah. Yang berbeda hanya fungsinya, sebab dengan demikian akan terjadi kerja sama yang seimbang. Dan ini benar memperlihatkan keadilan Allah. Sebab ternyata masing-masing itu sama-sama besar dan menuntut perngorbanan yang maksmimal. Dan seandainya kaum perempuan benar-benar mau menyasari akan fungsinya ini, niscaya dua puluh empat jam sehari semalam, tidak ada kesempatan untuk beristirahat. Barang sedikitpun, nah disini mama sekarang orang sering salah paham. Jadi persoalannya bukan terletak pada ajaran Islam, melainkan mereka sendiri yang membuat bingung. Sebab kuncinya, adalah mereka mau enggak melaksanakan Islam dengan sebenar-benarnya.”
“Dan kalau papa ditanya, apa sih fungsi-fungsi perempuan yang papa pandang besar itu?”
“Ya, fungsi itu sesuai dengan kondisi dan fitrah keperempuanan yang mereka miliki. Seperti fungsi sebagai Ibu, sebagai istri, sebagai pribadi muslimah, sebagai hamba Allah, sebagai da’iyah dan lain sebagainya. Dan soal menyrobot sana sini, seperti merebut posisi kekuasaan politik, bekerja di kantor sebagai karier, itu sebenarnya termasuk dalam fungsi laki-laki. Sebab kalau itu sudah diserobot kaum perempuan, bahaya yang akan terjadi lebih besar. Sebut saja misalnya pertama, siapa yang akan mendidik anak-anak di rumah? Kalau itu bisa dijawab dengan cara mengundang guru privat atau bisa dikasihkan pembantu, berearti sautu saat kelak, generasi yang akan memenuhi negeri ini bukan generasi kaum ibu. Melainkan generasi pembantu. Mama bisa membayangkan bagaimana wajah generasi pembantu itu. Kedua, ini akibat dari yang tadi telah di sebutkan itu, yaitu kalau anak-anak sudah ditangani pembantu, berarli lama-lama hubungan anak dengan orang tua akan terputus. Kalau sudah terputus, besar kemungkinan akan lahir anak-anak durhaka terhadap orang tuanya. Dan begini memang apa yang sekarang diderita orang Barat. Mereka tak lagi mereka ada semacam, ikatan spiritual antara mereka dengan ayah-ibu mereka. Jadinya, mreka bersikap biasa-biasa saja, ketika ayah-ibu mereka di serahkan ke lembaga-lembaga jompo. Besarkan ma bahayanya? Okelah untuk sementara ini mereka belum rasakan. Tapi lama-lama akan terasa juga. Masak sih mereka tidak mau belajar dari kegagalan orang-orang barat? Eh , anehnya mereka malah ingin meniru-niru kegagalan itu? Sungguh itu suatu tindakan yang bodoh”
“Apalagi bahaya nya pah?”
“Ada, tapi ini dari segi social. Coba mama lihat ketika kaum perempuan itu merebut fungsi kaum laki-laki. Apa yang terjadi? Di mana-mana mama melihat kaum wanita berjejer dengan laki-laki, bertemu dengan laki-laki. Dan kalau mereka memakai jilbab, itu lumayan. Tapi, malah semakin banyak bertemu, kaum perempuan itu semakin pamir. Yang dipamirkan aurat lagi, akibatnya apa? Itulah seperti yang sering mama baca dan dengar. Di mana-mana, dikantor-kantor, di tempat kerja kaum perempuan itu, sering disebut apa yang disebut dengan kecelakaan seksual. Begitu bukan? Belum lagi masalah ikhtilat. Belum lagi masalah keharmunisan dengan suami berkurang, dan lain sebagainya. Coba, gerakan perempuan seperti apa yang mereka inginkan?”
“Gerakan pembinatangan kali pa?”