Tuesday, September 2

Operasi

amirfath.com, Cerpen (17), Des 2020 – Ujian datang lagi dari Allah untuk istri saya, beberapa bulan lalu Allah telah mengujinya dengan keguguran. setelah itu rasa pusing dan sakit perut selalu datang. Kali ini lain lagi, dokter menentukan agar istri saya dioprasi karena infeksi darah “ bertholin “.

            “ Operasi ? “ saya bertanya kepada dokter .

            “ Ya, “ Jawab dokter dengan tenang.

            Saya terdiam sejenak. Istri saya segera saya bawa ke luar. Di halaa rumah sakit kami berunding. Mempertimbangkan keputusan sang dokter. Istri saya agak pucat. Saya coba menenangkannya.

            “ Mama “ kata saya, “ mama tenang saj ya, kita terima semua apa yang ditakdirkan Allah kita dengan lapang dada. “

            Istri saya masih saja terdiam saya memandang bangunan rumah sakit itu seakan menakutkan. “Navy Hospital” begitu sebutan yang terkenal dari rumah sakit itu. Dalam pikiran saya terbayang sebuah rumah sakit, yang dulu pernah mengoprasi ibu saya. Waktu itu saya masih kevil. Saya tidak mengerti apa-apa. Saya melihat ayah, kakek dan nenek tertegun. Wajah mereka tegang. Sedikit demi sedikit, air mata nya menetes. Sementara saya bermain-main di taman rumah sakit itu. Saya tidak tahu kalau ternyata saat itu sedang berlangsung sebuah operasi untuk ibu saya.

            Sekarang saya sedang di tanah rantau. Jauh ayah, jauh ibu. Saya hanya berdua dengan istri saya. Keputusan dokter tidak bias tidak harus saya jalani.

            “ Mama, “ kata saya lagi, “ mama sabar ya. “

            “ Ya pa, “ jawabnya, “ mama harus menerima takdir ini dengan pasrah dan sabar. “

            “ Mama, “ saya berusaha untuk menghiburnya, “ kalau kita pikir-pikir, kita masih ringan ma, disbanding ujian yang diderita orang itu. “ Saya menunjuk kea rah seorang pasien yang sedang digotong. Kedua tangannya habis diamputasi. Karena hangus akibat setruman listrik yang demikian dahsyatnya.

            Istri saya sejenak menarik nafas. Pandangannya terpaku pada pasien yang sedang dirangkul itu. Nampaknya ia mulai berubah. Wajahnya yang tadi agak pucat sekarang sudah agak tenang.

            “ Mama, “ kata saya lebih lanjut, “ sebenarnya penyakit yang diderita seseorang itu ma, merupakan ujian dari Allah. Maka kalau seorang itu adalah orang yang saleh, penyakit yang ia derita merupakan bukti kecintaan Allah kepadanya. Dan begitu memang apa yang terdapat dalam sebuah riwayat. Disebutkan dalam riwayat tersebut bahwa kalau Allah cinta pada seorang hamba-Nya. Ia langsung memerintahkan mulai katanya, untuk menguji sang hamba yang dicintai itu. “

            Istri saya nampaknya semakin tegang. Wajahnya semakin terlihat ceria. Ia seakan siap menerima kenyataan. Apapun yang terjadi.

            “ Dan lagi ma, “ sambung saya, “ Rasulullah bersabda, bahwa penyakit yang mama derita itu, akan mencuci dosa-dosa yang pernah mama lakukan. Karenanya, kita menjenguk orang sakit, kita disunnahkan mengucapkan kepada pasien “ thahuur “. Artinya semoga allah mensucikan dosa-dosamu. “

            “ oh, begitu ya pa ? “ kata istri saya “

            “ Ya, bagitu memang Islam mengajarkan ini kepada kita. Karenanya ma, kalau kita membaca cerita-cerita para sahabat, kita banyak tahu bahwa mereka berlomba-lomba untuk menerima ujian semacam ini. Sebab bagi mereka, ujian penyakit ini adalah tanda dari hakikat iman yang mereka miliki. Coba mama simak cerita ini : pernah suatu hari seorang sahabat datang kepada Rasulullah SAW. Sahabat ini tiba-tiba menangis di hadapan beliau. Ketika di tanya oleh Rasulullah, ia menjawab bahwa ia ragu atas keiman yang selama ini ia miliki. Ia bertanya kepada Rasulullah, apakah ia betul-betul muslim atau munafiq. Dan apa yang membuatnya keraguan seperti ini adalah karena selama ia beriman ia belum pernah mendapat ujian dari Allah berupa penyakit. Akhirnya ia bimbang. Karena ia yakin secara mendalam, bahwa Allah pasti mengujinya kalau ia benar-benar beriman.”

            “ O, memang demilian ya pa ? “

            “ Iya. Dan ini baru satu contoh. Di sana banyak lagi contoh-contoh yang lebih menarik. Mama bias baca kisah Khalid bin Walid. Suatu hari ia mau menceraikan istrinya karena sang istri tidak pernah sakit. Alasannya, karena si Khalid ragu atas keimanan istrinya. Apakah ia benar-benar mukminah atau bukan. Sebab kalau ia seorang mukminah ia pasti diuji oleh Allah dengan sebuah penyakit. Namun ketika Khalid mengajaknya ke Khalifah Umar, untuk melakukan perceraian, Allah menunjukkan bukti keimanannya. Istri Khalid jatuh. Kakinya kesandung batu. Di sana Khalid baru yakin, bahwa istrinya benar-benar mukminah.”

            Istri saya tersenyum. Wajahnya ceria sekali. Ia seakan tak bimbang lagi menerima kenyataan. Ia ampaknya siap dioprasi. Seperti apa yang telah diputuskan oleh dokter.

            Di hari itu juga, operasi akan dilaksanakan. Saya melihat istri saya dibawa oleh tim dokter kesebuah ruangan khusus. Saya segera mengikuti dari belakang. Ruangan itu bertangga-tangga. Angker. Tapi bersih. Di sana-sini ada hiasan dinding yang menggambarkan suasana kerjaan cina pada ratusan tahun yang silam. Gambar-gambar itu sungguh menambah angkernya ruangan yang saya lalui. Belum lagi pakaian para dokter yang putih-putih. Setiap kali mereka lewat di depan saya, mereka seakan menyebarkan bahu obat yang menakutkan. Saya terus memasuki liku-liku yang menuju ke ruangan khusu itu.

            Ketika istri saya di bawa masuk, saya ditahan oleh para dokter. Saya diminta untuk menunggu di luar. Saya menunggu sambal membaca Al-Qur’an. Hati saya berdebar-debar. Harap-harap cemas. Tapi saya sudah tawakkal kepada Allah. Saya sudah pasrah dan siap menerima apa yang akan Allah takdirkan kepada saya.

            Setelah empat jam saya menunggu, dokter memberitahukan kepada saya, bahwa operasi telah selesai. Istri saya selamat. Dan ia boleh dibawa pulang. Saya bahagia sekali. Saya bersyukur kepada Allah. Saya segera memasuki ruangan tempat istri saya dioperasi. Begitu saya menemuinya, ia tersenyum. Wajahnya yang ceria, seakan memberikan ucapan selamat.

            “ Selamat mama, Alhamdulillah! !” saya membalas isyaratnya itu. Lalu saya membawa pulang.

          

About Post Author