Majalah
amirfath.com, Cerpen (16), Des 2020 – Pagi ini istri saya tidak seperti hari-hari lainnya. Ia tiba-tiba menghadirkan setumpuk majalah dan seonggok sarapan di depan saya. Wajahnya ceria sekali. Seakan ada hal baru yang ingin ia sampaikan kepada saya. Saya waktu itu masih agak kecapean. Karenanya saya terus saja berbaring di atas tempat tidur. Namun istri saya tak berhenti-berhenti menggoda saya. Ia mengajak saya untuk segera bangkit. Saya masih saja belum menghiraukan rayuannya itu. Sementara ia menggoda lagi dan menggoda lagi. Akhirnya saya bangun juga. Saya segera mencuci muka dan duduk di dekat sarapan yang telah dipersiapkan.
“ Pa, di majalah ini bagus-bagus deh isinya “, istri saya nyeletuk, sambal menunjukan majalah yang ia bawa.
“ Tentang apa sih ma ? “ kata saya sambal menikmati sarapan.
“ Ini pa, tentang bagaimana penderitaan seorang ibu, ketika suaminya tidak suka membantu menyelesaikan urusan rumah tangga yang bias ia kerjakan. Di sini banyak deh contoh-contoh yang menarik. Diantaranya yang paling menarik adalah dari Rasulullah SAW sendiri. Disebutkan bahwa Rasulullah itu menjahit baju sendiri, memperbaiki sandal sendiri dan lain sebagainya. Sementara sekarang, banyak kan suami-suami yang main lempar saja kepada istrinya. Dan dia tidak tahu-menahu, bagaimana capeknya istrinya, ketika nyuci popok, nasak di dapur, nyuci pakaian, membersihkan kamar dan lain-lainnya. “
“ Mama pingin nyinggung papa ya ? “ kata saya bergurau “
“ Ah, papa gimana sih, masa mama nyinggung papa. Papa kan tidak begitu. Papa kan sering membantu urusan-urusan mama di rumah. “
Saya senyum saja. Tapi agaknya istri saya memang berusaha untuk menghibur saya pagi ini. Hanya lebih ilmiyah. Kalau kemarin-kemarinnya, ia memang selalu menghibur saya. Tetapi untuk kali ini, jujur yang ia lakukan lain lagi. Kali ini ia lebih kreatif, lebih menarik dan lebih mengundang perhatian. Mula-mulanya saya biasa-biasa saja. Tapi lama-lama, ketika saya melihat dia begitu semangat membaca artikel demi artikel, akhirnya saya tertarik juga. Saya terkesan dengan caranya yang cukup berfariasi. Kadang ia tertawa geli, kadang ia sedih dan kadang ia tersentuh begitu dalam. Sehingga ia terhendak dan tidak bias memberi komentar apa-apa.
“ Mama, “ saya segera memotong bacannya, “coba deh ceritakan kepada papa, poin mana yang menurut mama paling menyentuh ? “
“ Ini apa, tentang uangkapan Zainab istri Syuriah kepada suaminya di malam pertama, “ jawabnya.
“ Mengapa ma ? “
“ Sebab ini merupakan ‘Memorandum Of Understanding’ pa. “
“ Coba deh bacakan. “
Istri saya langsung membuka halama yang berjudul “ Mengapa Tidak Buat MOU ( Memorndum Of Understanding) ?. “ Disini istri saya berhenti. Lalu membacakan kalimat itu.
“ sesungguhnya aku adalah seorang wanita yang asing bagimu. Karena itu, aku tidak mengenalmu sama sekali. Terangkanlah kepadaku apa yang kamu sukai. Apa yang kamu sukai akan ku laksanakan dan apa yang kamu tidak sukai akan kujauhi.. “
“ ini memorindumnya pa, “ kata istri saya.
“ Terus bagaiman cerita selanjutnya, setelah Zainab menyatakan memorandum itu ?” kata saya.
“ Ya, hasilnya mantap deh pa. dalam cerita itu diungkapkan bahwa Syuraih merasa bahagia. Coba ini mama bacakan bagaimana syuriah merasa bahagia. Coba ini mama bacakan bagaimana Syuriah menuturkan kebahagiannya kepada sahabat-sahabatnya. “
Istri saya membaca cerita selanjutnya.
“ Syuraih bercerita kepada sahabt-sahabatnya tentang keistimewahan mendiang istrinya. “ Di mataku hari ini penampilan Zainab sungguh lebih baik dari hari-hari kemarin. Sungguh aku bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberiku berkah dengan istri yang shalihah. Aku bangga mendapatkannya. Selama hidup bersamanya aku tidak pernah marah. “ Tutur syuraih dengan mata berbinar-binar.”
Saya terkesan sekali menyimak cerita tersebut. Dan sejenak saya terdiam sambil menyandarkan tubuh ke bantal. Istri saya pun demikian. Saya melihat di pipinya setetes air mata tiba-tiba melompat begitu saja.
“ Mama, “ Saya mencoba mengganti suasana, “ apa sekarang yang paling mama rasakan setelah membaca cerita itu? “
“ Ini aoa “ kata istri saya, sambil sejenak berfikir.
“ Apa ?”
“ Ya, Semacam kesadaran bahwa selama ini mama masih belum maksimal untuk meniru pribadi seperti Zainab. Artinya mama masih belum ada apa-apanya di bandingkan Zainab “
“ Nah di sini ma pentingnya bagaimana kita harus meniru hidup para sahabat dan para shahabiyat. Dan untuk ini kita harus selalu membaca cara hidup mereka. Kita membaca dari mana saja yang menceritakan seluk-buluk hidup mereka. Sebab dengan demikian kita akan semakin dekat dengan mereka. Nah kalau kita semakin dekat dengan mereka, kita juga akan semakin dekat dengan Rasulullah. Dan ingat ma, bahwa meniru cara hidup Rasulullah adalah jalan satu-satunya untuk menjadi Ahli Surga. Bukankah kita semua pingin masuk surge. “
“ Iya, ya pa. “ Istri saya terkagum. Matanya menatap kosong ke luar jendela. Sementara majalah di tangannya masih terus dipegang erat-erat.