Tuesday, September 2

Kucing

amirfath.com, Cerpen (15), Des 2020 – Di belakang dapur ada seekor kucing lagi beranak. Istri saya segera memanggils saya.

            “Ada apa ma?” Tanya saya

            “Tu pa, kucing lagi melahirkan” Kata Istri saya, telunjuknya menunjuk ke arah kucing itu.

            Saya menyaksikannya, sederhana sekali prosesnya tanpa memerlukan penanganan seorang gynecologist, proses itu berlangsung dengan penuh ketenangan. Rumahnyapun sederhana, cukup berlindung dari selembar triplek, yang kemarin baru saja saya letakkan disitu.

            “Subhanallah ya ma” saya bergumam “Coba kita renungkan peristiwa itu ma, Betapa Allah Maha Adil”

            “Iya, ya pa” jawab istri saya sambil menekan dada

            “Kita jarang sekali merenungi ayat-ayat Allah seperti ini ma”

            “Betul pa”

            “Dan seperti inilah sebenarnya ma, apa yang tersirat dari firman Allah Afalaa tatafakkaruun, afalaa ta’qilun [1] dan kita sebenarnya di tantang oleh ayat ini untuk selalu melakukan perenungan. Merenungi bagaimana angina memperkawinkan antara putik bunga, sehingga tetumbuhan itu datang silih berganti, tiada putus-putusnya. Merenungi bagaimana langit-langit bisa menghampar bagaikan atap, tanpa sebuah tiang apapun. Coba kita terus melakukan hal yang semacamnya, papa yakin iman kita akn semakin bertambah, dan kita akan semakin dekat kepada Allah”

            “Iya ya pa”

            “Karenanya ma, Imam Ghazali ketika ditanya tentang kewajiban yang paling utama, beliau menjawab tafakkur. coba kita simak pernyataan beliau ini, kita resapi secara perlahan. Kita pasti akan mengakui kebenarannya, sebab memang dari tafakkur inilah lahir pemahaman yang benar. Kemudian pemahaman yang benar ini melahirkan keimanan yang benar, dan otomatis keimanan yang benar bakal melahirkan perilaku yang benar”

            “Tapi pa, kalau kita menonton televise, pada channe Discovery kita tahu bahwa orang-orang barat telah sampai ke titik detail mengenai ayat-ayat Allah dialam ini. Dan mereka mengagumi segala kebesaran itu, namun mengapa meraka justru semakin jauh dari Allah?”

            “Nah itu ma, yang papa juga sedang pikrikan. Tapi sih sebernarnya hal itu bukan masalah yang rumit. Sebab pada akhirnya memang sangat tergantung pada hidayah Allah. Maka jawabannya, ketika kita menemukan persoalan semacam itu, gampang aja. Kita bilang bahwa merka belum mendapatkan hidayah dari Allah. Karenanya ma, nikmat hidayah ini dalam kategori para ulama adalah nikmat yang paling besar, jauh lebih besar dari seluruh nikmat yang ada.

            “Ya, kalau jawabannya hanya seperti itu, semua orang bisa menjawab pa

            “Habis gimana lagi, kalau memang hanya itu jawaban yang paling mengenak kepada sasaran, dan papa dalam hal ini bukannya tanpa alasan ma, coba kita simak bagaimana peristiwa Abu Thalib, paman Rasulullah. Masih kurang bagaimana Rasulullah, merayu pamannya untuk mengikuti ajarannya. Tapi apa jawaban akhir dari Allah innaka laa tahdi man ahbabta, walaakinnallah yahdii mayyasyaa[2] disini kita bisa mengambil kesimpulan,, bahwa tidak imannya Abu Thalub itu, karena tidak turunnya hidayah tersebut.

            Istri saya mengangguk-angguk, pandangannya masih saja terpaku pada arah jendela. Ia masih berpikir, dibenaknya seakan masih terselip pertanyaan.

            Saya segera menyambung peryataan yang baru saja saya ungkapkan.

            “Begini ma” kata saya lebih lanjut “kalau mama pingin jawaban yang lebih dalam lagi, coba mama seallu berusaha untuk membaca ayat Al-Qur’an dengan cara tadabbur. Tadabbur ini artinya menghayati ayat demi ayat secara serius, disini mama nanti akan menemukan ungkapan fii quluubihim maradhuu, qasat quluubuhum dan lain sebagainya. Apa itu artinya ma, semuanya itu tak lain, adalah penegasan dari Allah bahwa dihati orang-orang kafir itu ada semacam penyakit. Penyakit itu membuat hati mereka membantu, nah ketika hati mereka seperti abtu, amam bisa bayangkan, bagaimana batu. Ya, tentunya tidak tembus air tidak tembus cahaya, akibatnya tidak ada yang bisa mengantarkan petunjuk ke dalam hati tersebut. Apapun ayat-ayat Alla yang mereka saksikan”

            “Nah disini amam baru paham pa”

            “Tapi ma, ada pelajaran lagi dari peristiwa kucing tadi”

            “Apa itu pa?” Istri saya sambil memperbaiki tempat duduknya. Lalu ia memusatkan perhatiannya kepada saya

            “Begini ma, kucing itu amma saksikan begitu sederhana cara melahirkan anaknya. Begitu bukan, tidak perlu campur tangan para ahli dan bahkan kita belum mendengar bahwa ada seekor kuing melahirkan dengan cara operasi. Nah begitu juga orang-orang terdahaulu, yang pada waktu itu teknologi masih belum maju seperti sekarang ini, namun sekarang ma kita sering mendengar orang melahirkan dengan cara operasi hampir-hampir amsalah operasi ini bukan lagi merupakan persoalan yang tabu. Di mana-mana orang sudah bisa melakukannya, apa hikmah dari semaunya  itu ma? Nah disini keadilan Allah kita saksikan lagi, bahwa Allah menurunkan segala persoalan manusia. Sesuai dengan kemampuan dan kemungkinan yang dimiliki oleh manusia itu, maka kita manusia masih belum mampu melakukan pengobatan dengan cara operasi, waktu itu belum Allah turunkan penyakit yang menuntut cara seperti itu. Sementara setelah manusia mencapai puncak teknologi yang bisa melakukan penyembuhan dengan cara operasi. Disini baru Aallah menurunkan penyakit yang menuntut operasi tersebut, namun hal yang perlu kita garis bawahi disini ma, bahwa apapun kemajuan yang dicapai manusia, amsih saja ada persoalan yang tidak bisa manusia pecahkan. Seperti kasus AIDS dan lain sebagainya, apa rahasia di balik itu ma? Disini kita melihat bahwa Allah sebenarnya ingin memberi pelajaran kepada manusia, agar ia tidak takabur dengans egala apa yang ia capai. Agar ia segera mengakui keterbatasan dirinya, agar ia tahu bahwa segala pencapaian itu, hanyalah setetes dari samudra Ilmu Allah yang diberikan, dan itu masih belum ada apa-apanya”

            “Wah kalau begitu kita harus belajar dari kucing ya pa”


[1] Artinya, “Apakah kau tidak merenungi, apakah kau tidak memikirkannya

[2] Q.s Al-Qashash , 56 : “Sesungguhnya engkau Muhammad tidak bisa memberi hidayah (petunjuk) kepada siapa saja yang engkau cintai, melainkan hanya Allah-lah yang bisa memberi petunjuk kepada siapa saja yang ia kehendaki.

          

About Post Author