Keseleo
amirfath.com, Cerpen (14), Des 2020 – Baru kunci lengan sebalah kiri saya keseleo, saya tidak bisa ngapa-ngapain. Tiduran tidak enak, baca buku bosan, mau masak tidak ada gairah, jalan-jalanpun capek. Sementara istri saya belum datang dari kuliah, ya sambil menghafal Al-Qur’an saya urut sedikit demi sedikit, wilayah yang keseleo itu. Tapi rasa sakitnya belum juga hilang.
Didalam pikiran mulai muncul selintas kesan, ini baru sebagian kecil dari nikmat Allah yang dikurangi, rasanya sudah tidak dikira-kira. Memang kadang-kadan dan bahkan sering terjadi, bahwa manusia suka mengingkari nikmat. Kalau ia dikasih nikmat kesehatan, ia lupa pada siapa yang memberikan nikmat itu, ia langsung seenaknya memanfaatkan kesehatan yang ia miliki. Jalan-jalan kesana kemari, nonton ini nonton itu. Segalanya tak lebih dari permainan sepanjang ia mempunyai kesehatan.
Tapi coba sedikit ia disakitkan, ia baru meraung-raung, bibirnya komat-kamit menyebut nama Allah. Air matanya tumpah, tak berhenti-berhenti. Ia meminta mapun kepada Allah, namun setelah ia sehat kembali, ia segera melupakan rasa perihnya itu. Ia kembali melompat kegelanggang permainan semula. Seperti kuda sumba yang baru lepas dari kandangnya.
Saya seketika teriongat pada seorang kawan yang waktu ayahnya meninggal dunia, ia menangis. Ia mengundang kawan-kawannya untuk mengaji Al-Qur’an, diharapkan pahalanya bakal diterima dan dihadiahkan kepada Almarhum, dimalam itu saya melihat tidak seorangpun yang lebih sedih daripadanya. Namun keesokan harinya apa yang saya saksikan dari perilaku kawan saya itu, ia begitu mudah melupakan kepergian ayahnya. Ia sepertinya merasa bahwa pahala mengaji kemarin sudah cukup untuk mengantarkan ayahnya ke surge, akhirnya ia bersikap hura-hura kembali. Bermain-main dan mengajak teman-temannya 8untuk berkumpul melakukan kemaksiatan.
Tiba-tiba adzan untuk sholat dzuhur terdengar, saya segera sadar dari lamunan. Saya meranjak mengambil wudhu. Lalu berangkat ke masjid, sehabis sholat saya duduk sejenak.s aya mencoba mengulang-ngulang ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah saya hafal. Namun tak beberapa lama rasa nyeri lengan yang keseleo datang lagi, saya mencoba menahan sebentar. Tapi lama-lama tak mampu saya tahan, saya segera keluar dari masjid saya mencoba duduk dibawah pohon didepan rumah saya, sambil berusaha melupakan rasa perih, saya lanjutkan menghafal Ayat-ayat yang tadi masih belum selesai. Namun ternyata, suasananya juga kurang menyenangkan, saya digigit nyamuk dari waktu ke waktu, kulit saya benjol-benjol. Wah ini ujian yang lain lagi.
Karenanya,s aya segera masuk kerumah. Di kamar saya masih juga belum bisa ngapa-ngapain, pikiran gelisah, perut kosong, rasa sakit tak habis-habis. Saya mencoba meminum air dingin, dengan harapan rasa nyeri ini dapat berkurang. Namun ternyata usaha ini tidak berhasil, perasaan sakit masih saja seperti menusuk-nusuk.
Untungnya, istri saya kemudian datan saya langsung minta tolong untuk segera menyiapkan makan siang. Setelah semuanya siap, saya langsung saja menikmatinya, selesai makan tiba-tiba rasa nyeri berkurang. Saya seketika berpikir, bahwa barangkali keperihan ini disebabkan karena perut saya kosong.
“Ah tidak mungkin” istri saya rupanya mengikuti perkembangan yang sedang berlangsung dalam diri saya “papa pasti kangen mama”
“Ah mama tahu aja”
“Dan memangnya begitu pa”
“Mama tahunya dari mana?”
“Ya, itu memang sunnatullah, bahwa ketika seseorang itu terganggu secara psikologis, ia otomatis akan terasa nyeri pada bagian badan yang paling lemah. Dan ketepatan papa keseleo, disaaat yang sama ketepatan papa lagi kangen pada mama. Maka bertemu deh, nah disini sebab munculnya rasa nyeri itu”
“Yang bener aja ma”
“Iya, mama tidak main-main dan ini sudah terbukti secara ilmiyah”
“Buktinya?”
“Papa kalau dideket mama sembuh” saya tertawa
“Mama pinter deh” istri saya tersenyum
“Mama, kenapa tersenyum aja?”
“Mama merasa lucu deh melihat papa”
“Lucu gimana ma?”
“Barusan waktu amma ngerjain papa, mama kan minta papa utnuk turun kebawah tangga. Mama pura-pura meninggalkan tas dibawah, agar papah turun. Eh, ternyata papa nampaknya segar sekali, wajah papa cerah dan papa dengan semangat segera mengambil tas yang mama tingga itu, di sini mama paham bahwa sebenarnya papa kalau disamping mama tidak merasa sakit, begitu kan pa?
Saya tersenyum.