Wednesday, August 13

Nabi Nuh dan Kisah Dakwahnya

amirfath.com, Artikel (272),Juli 2023 Nuh adalah seorang nabi yang direkam dalam Alquran karena perjuangan dakwahnya. Allah SWT turunkan surah khusus, yaitu surah Nuh, untuk memaparkan betapa perjuangannya dalam mengajak kaumnya ke jalan iman sangatlah luar buasa penuh liku-liku tanpa kenal lelah dengan durasi waktu dan usia yang sangat panjang.

Allah SWT memberikan kesaksian bahwa Nabi Nuh memang diutus oleh-Nya (Innaa arsalnaa nuuhan ilaa qaumihi). Ini penegsan dari Allah SWT dengan menggunakan huruf taukid innaa untuk menunjukkan bahwa hadirnya Nabi Nuh di medan dakwah bukan mengarang sendiri, tetapi memang diutus oleh Allah SWT. Kata “arsalnaa” menunjukkan bahwa Nabi Nuh benar-benar membawa risalah langsung dari-Nya.

Surah ini dari awal sampai akhir khusus hanya membahas perjalanan dakwah Nabi Nuh, tanpa diselingi cerita tentang nabi-nabi yang lain. Ini boleh jadi sebagai edisi spesial karena memang masa dakwahnya yang sangat panjang selama seribu tahun kurang lima puluh tahun (Falabitsa fihim alfa sanatin illaa khamsiina ‘aama) (QS al-Ankabut: 14).

Surah ini dari awal sampai akhir khusus hanya membahas perjalanan dakwah Nabi Nuh, tanpa diselingi cerita tentang nabi-nabi yang lain.

Artinya, masa dakwah yang Nabi Nuh lakukan selama 950 tahun. Itu pun jumlah pengikutnya sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat hanyalah 80 orang.

Dalam surah ini, Nabi Nuh menceritakan kepada Allah SWT betapa perlakuan kaumnya terhadapnya sangat tidak respek, penuh olok-olok dengan segala cara. Mereka di hadapan Nabi Nuh langsung menutup telinga supaya tidak mendengar apa yang Nabi Nuh sampaikan.

Mereka juga menelungkupkan beberapa helai pakaian ke mukanya, supaya tidak melihat wajah Nabi Nuh (Ja’aluu ashabi’ahum fii aadzaanihin wastaghtsau tsiyaabahum) (QS Nuh: 7).

Allah membongkar kebusukan sikap mereka bahwa itu dilakukan karena kesombongan yang berlebihan (Wa asharru wastakbarus tikbaaraa) (QS Nuh: 7). Kata “asharru” menunjukkan bahwa mereka terus mempertahankan kekafiran dan keburukan akhlaknya.

Mereka tidak suka kepada kebenaran risalah yang dibawa Nabi Nuh. Mereka ingin hidup bebas tanpa panduan wahyu. Karena itu, mereka memusuhi kehadiran Nabi Nuh di tengah-tengah mereka.

Padahal, ia hadir untuk membimbing mereka agar hidup bahagia. Lebih dari itu agar selamat dari siksaan Allah SWT karena dosa-dosa yang mereka perbuat (An andzir qaumaka min qabli ayya’tiyahum ‘adzaabun aliim) (QS Nuh: 1).

Kata “minqabli” (sebelum) menunjukkan bahwa azab bagi para pendurhaka sudah Allah SWT persiapkan, tinggal menunggu waktu.

Kata “an andzir qaumaka” menggambarkan bahwa Nabi Nuh diperintahkan Allah SWT agar segera mendatangi kaumnya dan memberikan peringatan (indzar). Sebab, tidak ada jalan lain untuk selamat dari azab Allah kecuali bertobat dan kembali kepada-Nya.

Nabi Nuh berkali-kali meyakinkan kaumnya dengan mengatakan bahwa ia hadir sebagai rasul untuk memberikan peringatan (Qaala yaa qaumi innii lakum nadziirun mubiin) (QS Nuh: 2).

Ini adalah gaya komunikasi Nabi Nuh bahwa ia datang murni untuk mengajak kepada keselamatan, tidak ada kepentingan dunia sama sekali. Penggunakan huruf “taukid inni” menunjukkan bahwa Nabi Nuh serius, sekalipun kaumnya menertawainnya.

Kata “lakum” didahulukan penyebutannya untuk menggambarkan makna bahwa Nabi Nuh datang spesial hanya untuk kaumnya sendiri demi keselamatan mereka. Ini dilakukan supaya kaumnya merasa dihormati lalu menyambut dakwahnya dengan senang hati. Namun karena kaumnya keras hati, semua cara yang Nabi Nuh lakukan ditolak dengan sikap sombong.

Pesan pokok dakwah yang disampaikan Nabi Nuh tidak lebih dari tiga poin: beribadah kepada Allah (ani’budullaha), bertakwa kepada-Nya (wat taquuhu), menaati sebagai rasul (wa athi’uun).

Ketiga pokok konten dakwah ini menggambarkan manhaj dakwah yang komprehensif, sekaligus memberikan solusi paling utama terhadap permasalahan kaumnya yang terancam azab Allah SWT.

sumber : https://www.republika.id/posts/43380/nabi-nuh-dan-kisah-dakwahnya

About Post Author