Sunday, July 20

Bulan Muharram dan Perubahan

amirfath.com, Artikel (271),Juli 2023 Setiap memasuki hari pertama bulan Muharram, umat Islam berkayakinan bahwa ini adalah tahun baru Hijriah.

Allah SWT menegaskan dalam surah at-Taubah 36 bahwa dalam setahun ada 12 bulan. Di antara bulan-bulan tersebut ada empat bulan yang sangat Allah SWT agungkan, yaitu bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Pesan Allah SWT, hendaklah dalam bulan-bulan yang agung tersebut lebih berhati-hati dari dosa (Fala tazhimuu fiihinna anfusakum). Siapa pun yang berbuat dosa di bulan-bulan tersebut akan dilipatgandakan hukumannya sebagaimana juga amal baik akan dilipatgandakan pahalanya.

Namun yang menarik di sini bahwa setiap kali memasuki tahun baru Hijriah, otomatis setiap kita merasakan perpindahan tahun yang sangat mengharukan.

Namun yang menarik di sini bahwa setiap kali memasuki tahun baru Hijriah, otomatis setiap kita merasakan perpindahan tahun yang sangat mengharukan. Alquran selalu menggambarkan proses perpindahan ini sebagai sistem alam (sunnatullah). Pergantian siang dan malam adalah bukti perpindahan ini.

Karena itu, Allah SWT bersumpah dengan perpindahan waktu ke malam (Wallaili idzaa yaghsya), lalu bersumpah dengan perpindahan waktu ke siang (Wan nahaari idzaa tajalla).

Apa yang penting di sini bahwa Allah Mahatahu hakikat mahkluknya yang sangat membutuhkan perubahan. Sebab, tidak mungkin makhluk, apalagi manusia, hidup dalam satu pola yang linier.

Manusia tidak mampu bertahan dalam satu situasi selamanya. Ia harus berada dalam situasi yang dinamis dan silih berganti. Jika tidak, ia akan mengalami stres.

Imam Syafii telah memaparkan dalam syairnya tentang pentingnya perubahan. Dikatakan, agar siapa pun yang ingin perubahan hendaklah berpindah dari tempat ke tempat lain.

Sebab, perubahan itu hanya didapat melalui perpindahan dan pergantian (Saafir tajid iwadhan amman tufaariquhuu). Syaratnya, bekerja keraslah karena kelezatan hidup hanya terdapat dalam kerja keras (Fanshab fainna ladzidzal aisyi fin nashabi).

Untuk menguatkan hakikat perubahan ini, disebutlah oleh Imam Syafii beberapa permisalan. Bahwa air yang tergenang akan rusak. Sebaliknya, air yang bergerak dan mengalir akan tetap bening (Innii araa wuquufal maai yufsiduhuu insaala thaaba wa inllam yajri lam yathibi).

Permisalan lagi tentang singa yang harus bergerak keluar dari sarangnya untuk mendapatkan mangsa (Wal usud lala firaaqul ghaabi maftarasat)

Demikian juga anak panah. Ia harus bergerak meninggalkan busurnya untuk mencapai sasaran (Was sahmu laula firaqul kausi lam yushibi). Ini menunjukkan bahwa dari perubahan itulah akan tercapai cita-cita yang diinginkan.

Orang yang menyerah terhadap keadaan lalu duduk berpangku tangan tidak akan pernah menemukan perubahan dalam hidupnya.

Orang yang menyerah terhadap keadaan lalu duduk berpangku tangan tidak akan pernah menemukan perubahan dalam hidupnya.

Alquran menyebutkan bagi orang yang bergerak dan berjuang dengan istilah “Almujaahidun”. Sementara orang yang duduk berpangku tangan disebut dengan “alqaaiduun”. Keduanya tentu tidak akan sama.

Almujahidun lebih tinggi derajatnya daripada alqaaiduun (Fadh dhalallahul mujaahidiin biamwaalihim wa anfusihim alal qaaidiin darajah). Bahkan, bagi kaum mujahidun itu oleh Allah SWT disiapkan pahala yang besar dan surga yang agung (Wa fadh dhalallhul mujaahidiin alal qaaidiin ajran azhiimaa) (QS an-Nisa: 95).

Lalu dikatakan, masih oleh Imam Syafii, bahwa seandainya matahari berdiam di ufuk timur selamanya, maka semua manusia di muka bumi akan tercekam kebosanan (Wasysyamsu law waqafat fil fulki daaimatan lamallahannasu min ujmin wa min arabin).

Artinya bahwa perubahan adalah keniscayaan. Surah ar-Rad 11 yang tema pokoknya mengenai keharusan mendukung alhaq (kebenaran) dan jangan terlena dengan kebatilan, di antara ayatnya adalah tentang kaidah bahwa suatu kaum tidak akan berubah kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya (Innallah laa yughayyiru maa biqaumin hattaa yughayiruu maa banfusihim).

Bahwa perubahan itu bukan sekadar pergantian hari, bulan, dan tahun. Akan tetapi harus dibuktikan dengan keberpihakan terhadap kebenaran dan penolakan terhadap kebatilan.

sumber : https://www.republika.id/posts/43301/bulan-muharram-dan-perubahan

About Post Author