Saturday, August 9

Adab Itu Penting

amirfath.com, Artikel (273),Juli 2023 Seorang budayawan pernah marah di sebuah acara televisi karena ketika ia berbicara, ada sebagian pendengarnya bermain telepon genggam. Ia mengatakan bahwa menyimak apa yang disampaikan orang lain adalah adab.

Bahwa ia sendiri selama orang lain berbicara, tidak pernah bermain telepon genggam atau ngobrol. Silakan lihat –kata dia– kalau ia pernah bermain telepon genggam saat permbicaraan berlangsung.

Berkali-kali ia mengatakan bahwa itu adalah adab. Lalu, ia menceritakan telah mengajarkan anaknya agar selalu menjunjung tinggi adab ini.

Jangan dikatakan itu anakku –kata dia lebih lanjut– kalau sehabis diantar oleh sopir taksi, ia sekadar bayar lalu pergi meninggalkannya tanpa pamit. Ingat –ujar budayawan yang berambut panjang itu selanjutnya– bahwa yang kamu bayar itu baru tenaganya, tetapi sikapmu menunggu sampai ia pergi adalah adab.

Adab adalah perilaku menjaga perasaan orang lain jangan sampai ia tersinggung. Adab adalah sikap menghormati orang lain, dengan hati yang tulus, tanpa ada kepentingan sedikit pun.

Adab adalah sikap menghormati orang lain, dengan hati yang tulus, tanpa ada kepentingan sedikit pun.

Adab adalah totalitas memberikan yang terbaik untuk orang lain sebagai manifestasi dari makna hadis: “Khairun naasi anfa’uhun linnaasi” (Paling baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain) (HR Ibn Hibban).

Bukan karena Anda kaya lalu membentak-bentak pembantu Anda dan memperlakukannya secara kasar. Jika ini yang Anda lakukan, maka Anda tidak beradab.

Silakan Anda membayarnya sesuai dengan keringat yang telah ia keluarkan, tetapi memperlakukannya dengan penuh penghinaan terhadapnya adalah perbuatan yang tidak beradab.

Diceritakan oleh Anas bin Malik bahwa ia sebagai pelayan Nabi SAW selama sepuluh tahun, belum pernah melihat Nabi SAW membentaknya. Alquran diturunkan untuk menanamkan adab tersebut.

Dalam surah al-Fatihah, ada tuntunan adab kepada Allah SWT sebelum berdoa “Ihdinashshirathal mustaqiim” (Tunjuki kami ke jalan yang lurus) (QS al-Fatihah: 6). Yaitu dengan mengucapkan “Basmalah” dan memuji Allah SWT.

Dengan mengucapkan “Alhamdulillahi rabbil aalamiin” (QS al-Fatihah: 2) bahwa doa yang dilakukan dengan sikap yang beradab akan lebih mudah terkabulkan.

Dalam sebuah riwayat dikatakan, siapa yang sibuk memuji Allah SWT sehingga ia tidak sempat meminta kepada-Nya, maka Allah SWT akan memberikan kepadanya apa yang lebih baik dari apa yang diminta oleh orang-orang yang berdoa.

Dalam sebuah riwayat dikatakan, siapa yang sibuk memuji Allah SWT sehingga ia tidak sempat meminta kepada-Nya, maka Allah SWT akan memberikan kepadanya apa yang lebih baik dari apa yang diminta oleh orang-orang yang berdoa. Artinya, dengan banyak memuji-Nya otomatis doa yang dipanjatkan terjamin diterima oleh-Nya.

Betapa adab sangat penting tidak saja dalam berhadapan sesama makhluk, tetapi lebih dari itu adab kepada Allah SWT.

Surah al-Hujurat diturunkan untuk memberikan tuntunan adab sebagaimana di atas. Di pembukaan surah ini dijelaskan adab bagaimana seharusnya mengagungkan Allah SWT dan memuliakan Rasul-Nya, yaitu dengan cara tidak mendahului keduanya dalam berpendapat (Laa tuqaddimuu baina yadayillahi wa rasuulihi) (QS al-Hujurat: 1).

Sejak itu setiap kali para sahabat ditanya oleh Rasulullah SWT tentang nama hari atau bulan, misalnya, mereka menjawab Allah dan rasul-Nya yang tahu (Allaahu wa rasuuluh a’lam), padahal mereka tahu jawabannya.

Ini tidak lain sebagai cerminan adab berdasarkan ayat tersebut. Pentingnya hakikat ini tampak pada ayat berikutnya ketika Allah SWT menegaskan bahwa ini bagian dari takwa kepada Allah SWT yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, “Wattaqullaaha innallaha samiiun aliim.”

Mengatur volume suara di hadapan Rasulullah SAW juga termasuk adab penting. Jangan sampai suara Anda diangkat di dekat rumah Nabi SAW  sekalipun beliau sudah wafat.

Para sahabat dahulu diajarkan bahwa dalam berbicara tidak melampaui suara Nabi SAW. Atau memanggil Nabi SAW dengan panggilan seperti memanggil orang lain pada umumnya (Laa tarfa’uu ashwaatakum fauqa shautin nabiy wa laa tajharuu lahuu bil qawli kajahri ba’dhikum liba’dh) (QS al-Hujurat: 2).

Ini tidak lain sebagai adab agar dalam menyikapi Nabi SAW hendaklah dengan sikap yang baik, penuh penghormatan dan pengagungan kepadanya. Jika tidak diikuti, boleh jadi akan menghapus pahala amal saleh yang telah dilakukan sebelumnya tanpa mereka mengetahuinya (An tahbatha a’maalkau wa antum laa tasyuruun).

sumber : https://www.republika.id/posts/43561/adab-itu-penting

About Post Author