Doa adalah Ibadah
amirfath.com, Artikel (269),Juli 2023 Di antara cara menjadi hamba Allah SWT adalah memperbanyak doa. Allah SWT senang kapada hamba-hamba-Nya yang selalu berdoa.
Definisi doa bagi para ulama adalah permohonan dari bawah ke atas (ath thalabu minal adnaa ilal ‘alaa). Ini kebalikan dengan perintah, yang didefinisikan sebagai permintaan dari atas ke bawah (ath thalabu minal ‘alaa ilal adnaa).
Doa adalah bukti ketergantungan seorang hamba kepada Allah sebagai Tuhannya. Hamba yang malas berdoa menunjukkan kesombongannya. Karena itu dalam hadis ditegaskan bahwa siapa yang tidak mau berdoa, Allah murka kepadanya (Man lam yas alillaaha yaghdhabu ‘alaihi) (HR Turmidzi).
Dalam surah Ghafir [40]: 60, disebutkan ayat tentang perintah berdoa, “Ud’uunii astajib lakum” (Berdoalah kepada-Ku, Aku pasti akan mengabulkannya).
Perhatikan perintah berdoa ini dihubungan dengan kepastian jawaban Allah atasnya. Kata “astajib” dengan harkat sukun disebut dalam ilmu nahwu majzuum, itu adalah jawabul amiri (jawaban atas perintah), untuk menunjukkan makna bahwa Allah SWT menjamin terkabulnya doa tersebut.
Ketika seorang hamba berdoa, tidak boleh sedikit pun ragu. Semakin kuat sebuah keyakinan akan dikabulkannya doa, maka semakin terjamin doa tersebut diterima.
Maka ketika seorang hamba berdoa, tidak boleh sedikit pun ragu. Semakin kuat sebuah keyakinan akan dikabulkannya doa, maka semakin terjamin doa tersebut diterima.
Sebaliknya, semakin lemah keyakinan seorang hamba yang berdoa, maka juga akan semakin sulit doa tersebut diterima.
Dalam hadis Qudsi Allah SWT berfirman, “Ana ‘inda zhanni abdii bii” (Aku tergantung prasangka sang hamba) (HR Bukhari-Muslim). Artinya, kekuatan doa itu sangat bergantung kepada kuat tidaknya keyakinan hamba yang berdoa.
Tema pokok surah Ghafir adalah keharusan berdakwah di jalan Allah SWT dan keharusan penyerahan segala urusan kepada-Nya. Bahwa tugas seorang hamba hanya menjalankan apa yang Allah SWT perintahkan. Adapun hasilnya bukan urusan hamba.
Bahwa tugas seorang hamba hanya menjalankan apa yang Allah SWT perintahkan. Adapun hasilnya bukan urusan hamba.
Allah SWT tidak pernah kecewa terhadap hamba selama ia berjuang di jalan-Nya. Karena itu terserah Allah, apakah mau dimenangkan atau tidak, “Inaa lananshuru rusulanaa walladziina aamanuu fil hayaatid dun yaw a yauma yaquumul asyhaad” (Sungguh Kami akan memenangkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan di dunia dan pada hari kiamat) (QS Ghafir [40]: 51).
Dalam kondisi memasrahkan urusan kepada Allah, hendaklah seorang hamba berdoa. Maka ayat tentang doa ini sangat berkaitan dengan tema utama surah Ghafir ini.
Ayat tentang perintah doa di atas, dibuka dengan kata, “Wa qaala rabbukum” (Berkata Tuhanmu) ini menunjukkan jaminan Allah akan mengabulkan doa sang hamba dan akan menjaganya. Karena dalam kata “ar rabbu” ada makna menjaga dan memelihara.
Lebih dari itu ada juga di dalamnya makna tarbiyah (pendidikan). Artinya, dalam berjuang dan berdoa hendaklah seorang hamba benar-benar pasrah kepada-Nya. Tidak boleh tergesa-gesa untuk mendapatkan apa yang ia minta.
Artinya, dalam berjuang dan berdoa hendaklah seorang hamba benar-benar pasrah kepada-Nya. Tidak boleh tergesa-gesa untuk mendapatkan apa yang ia minta.
Dalam hadis Nabi SAW bersabda bahwa umatnya akan selalu dalam kebaikan selama tidak tergesa-gesa untuk mendapatkan hasil doanya (Laa yazalul ‘abdu bikhairin maa lam yasta’jil).
Disebutkan dalam riwayat bahwa Nabi Musa dan Nabi Harun berdoa bersama-sama agar Firaun dihancurkan. Lalu, Allah SWT mewahyukan bahwa doanya telah dikabulkan (Qad ujiibat da’watukuma) (QS Yunus [10]: 89).
Ibn Abbas menjelaskan bahwa dikabulkannya doa tersebut setelah 40 tahun.
Kelajutan dari ayat tentang doa di atas adalah firman-Nya: “Innalladziina yastakbiruuna ‘an ‘ibaadatii sayadkhuluuna jahannama daakhiriin (Sesungguhnya orang yang bersikap sombong, tidak mau beribadah kepada-Ku, akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina).
Di sini ada dia istilah istikbar (sombong) dan ibadah. Bahwa hakikat doa bagi Allah adalah ibadah.
Semakin seorang hamba bersungguh-sungguh berdoa, maka akan semakin tertanam jiwa kehambaan di dalam jiwanya. Sebaliknya, hamba yang tidak mau berdoa digolongkan oleh Allah sebagai hamba yang sombong.
sumber : https://www.republika.id/posts/43129/doa-adalah-ibadah