Sunday, July 20

Alquran Wajib Dimuliakan

amirfath.com, Artikel (270),Juli 2023 Allah sendiri telah mengagungkan Alquran. Apalagi manusia sebagai makhluk-Nya. Sungguh tidak pantas jika ada manusia bersikap sombong lalu menghinakan Alquran.

Sebenarnya tidak ada pilihan bagi manusia kecuali memuliakan apa yang Allah SWT muliakan. Silakan Anda memilih kekafiran sebagai jalan hidup dengan segala risikonya, yaitu diazab oleh Allah SWT di neraka.

Namun dalam menyikapi Alquran, janganlah sekali-kali merendahkannya, apalagi membakarnya, menginjak-injaknya, dan menendang-nendang dengan maksud mengejeknya. Justru dengan perilaku yang demikian, Anda telah menghinakan diri sendiri.

Sebab, secara entitas, Alquran tidak akan pernah terhinakan dengan sikap tersebut. Alquran tetap mulia di sisi Allah SWT. Allah akan tetap tinggikan Alquran di al-lauhul mahfuzh (Fii lauhim mahfizh).

Janganlah sekali-kali merendahkan Alquran, apalagi membakarnya, menginjak-injaknya, dan menendang-nendang dengan maksud mengejeknya. Justru dengan perilaku yang demikian, Anda telah menghinakan diri sendiri.

Apa yang terjadi di Swedia dan beberapa tempat lainnya mengenai tindakan penghinaan terhadap Alquran itu hanyalah bagian kecil dari sejarah panjang perjalanan Islam yang Allah turunkan.

Dahulu, mereka menghina para nabi yang Allah SWT utus. Lihat sikap kaum Nabi Nuh ketika mereka menutup muka dan telinga pada saat Nabi Nuh menyampaikan dakwahnya.

Di zaman Nabi SAW juga terjadi, orang-orang kafir Makkah pernah bertekad ingin membunuh Nabi SAW. Adapun penghinaan mereka terhadap Alquran adalah pemandangan yang sering terjadi.

Mereka mengatakan Alquran hanyalah dongeng-dongeng yang kosong tanpa makna (Asaathiirul awwaliin). Dalam surah al-An’am: 25, digambarkan bagaimana mereka pura-pura mendengar apa yang Nabi SAW bacakan dari Alquran.

Lalu sebagian dari orang kafir datang kepada Nabi SAW dengan berkata, “Ini adalah dongeng-dongeng orang terdahulu, tidak ada sama sekali unsur wahyunya (Hattaa idzaa jaauuka yujadiluunaka yaquulul ladziina kafaruu on haadzaa illaa asaathiirul awwaliin).

Olokan yang sama berulang dalam kesempatan lain, ketika mendengar bacaan Alquran. Mereka mengatakan bahwa semua itu bukan hal yang baru.

“Kalau kami mau, bisa saja mendatangkan hal yang sama. Sungguh itu hanyalah dongeng-dongen umat terdahulu” (Wa idzaa tutlaa ‘alaihim aayaatunaa qaaluu qad sami’naa lau nasyaau laqulnaa mitsla haadzaa in haadzaa illaa asaathirul awwaliin) (QS al-Anfal: 31).

Dalam surah an-Nahl: 24, Allah SWT merekam bagaimana mereka benar-benar sangat benci terhadap Alquran sehingga setiap kali ditanya mengenai Alquran yang Allah SWT turunkan, dengan mudah mereka mengatakan tanpa merasa berdosa bahwa itu hanyalah cerita-cerita kosong tanpa makna (Wa idzaa qiila lahum madzaa anzala rabbukum qaaluu asaathirul awwalin).

Ternyata mereka melakukan olokan itu dengan maksud supaya bebas berbuat dosa. Buktinya, dalam surah al-Mu’minuun: 83, saat mendengar berita tentang hari kiamat, mereka ketakutan akan dihisab.

Untuk menenangkan hati, mereka segera menuduh bahwa berita hari kimat itu hanyalah bohong belaka (Laqad wu’idnaa nahnu wa aabaaunaa haadzaa min qablu in haadzaa illaa asaathiirul awwaliin).

Dalam surah al-Qalam: 14-15, Allah SWT tambahkan bahwa mereka melakukan itu karena kesombongan dengan limpahan harta yang mereka miliki (An kaana dzaa maaliw wabaniin, idzaa tutlaa ‘alaihii aayaatuna qaala asaathiirul awwaliin).

Surah al-Muthaffiin: 12-13, menyingkap bahwa perbuatan itu dilakukan sebagai akibat dari terlalu banyaknya dosa yang menumpuk dalam hati, sehingga mereka merasa biasa melakukan dosa apa saja. Bahkan, saking besarnya dosa yang diperbuat, mereka tidak merasa lagi berbuat dosa (Wa maa yukadzdzibu bihii ilaa kullu mu’tadin atsiim, idzaa tutlaa ‘aiahi ayaatuna qaala asaathiirul awwaliin).

Bagi Allah SWT, semua perbuatan keji itu tidak akan pernah menurunkan derajat Alquran. Benar Allah SWT sendiri yang turun tangan memuliakannya.

Dalam surah Abasa: 13-17, Allah SWT menegaskan bahwa Alquran tetap mulia, ditulis dalam lembaran-lembaran suci (Fii shuhufim mukarramah), diangkat di tempat yang sangat tinggi lagi suci (Marfuu’atim muthahharah), ditulis oleh tangan-tangan suci para malaikat yang selalu berbuat baik dan mulia (Biaydi safarah, kiramim bararah) maka sungguh celaka orang yang menghinakan Alquran (Qutilal insaanu maa akfarah).

sumber : https://www.republika.id/posts/43200/alquran-wajib-dimuliakan

About Post Author