Bergegas Kembali kepada Allah
amirfath.com, Artikel (249), April 2023 Tidak ada manusia yang sempurna. Semua pasti jatuh dalam kesalahan (kullu banii aadama khaththaaun) (HR Imam Malik). Sebaik-baik manusia adalah yang segera menyadari dosanya dan segera kembali kepada-Nya (Wa khairul khaththaaiin at tawwabuun).
Surah Shad memberikan pesan utama mengenai ajakan kembali kepada Allah SWT. Seakan surah ini mengatakan, “Wahai manusia janganlah kamu berlama-lama dalam dosa. Segeralah kembali kepada Allah karena kamu mililk-Nya. Allah Mahatahu apa yang terbaik untukmu. Karena itu kamu diperintahkan agar segera bertobat kepada-Nya. Sebab hanya dengan bertobat kamua akan bahagia. Para nabi saja yang hanya melakukan kekeliruan kecil segera menyadari kesalahannya. Lalu mereka segera memohon ampun kepada Allah SWT.”
Di antara nabi yang disebutkan dalam surah Shad ini adalah Nabi Daud. Yang merasa bersalah karena tergesa-gesa memberikan fatwa sehingga merugikan orang lain.
Di antara nabi yang disebutkan dalam surah Shad ini adalah Nabi Daud. Yang merasa bersalah karena tergesa-gesa memberikan fatwa sehingga merugikan orang lain.
Di sini Nabi Daud segera memohon ampun kepada Allah SWT (Fastaghfara rabbahuu wa kharra raaki’an wa anaaba) (QS Shad [38]: 24). Kata “fastghfara” dengan huruf fa’ yang menunjukkan makna segera, tampak bahwa Nabi Daud tidak menunda-nunda untuk bertobat.
Memang semua ulama sepakat bahwa semua nabi adalah makshum (terjaga dari dosa), maksudnya terjaga dari dosa besar. Adapaun kesalahan yang sifatnya manusiawi seperti lupa dan tergesa-gesa itu tetap tidak bisa dihindari. Jadi apa yang dialami Nabi Daud adalah kesalahan yang masih dalam batas kewajaran sebagai manusia biasa.
Itupun Nabi Daud segera merasa bersalah dan membaca istighfar. Tidak hanya itu, Nabi Daud langsung tersungkur bersujud (Wa kharra raakia’an) untuk menunjukkan penyesalannya. Sebab, syarat tobat adalah harus dilakukan dengan penuh penyesalan agar tidak mengulangi lagi.
Ditambah lagi dengan kejujurannya bertobat (wa anaab). Dengan ini Allah SWT langsung menerima tobatnya (Fa ghafarnaa lahuu dzaalika). Tidak hanya diterima tobatnya, tetapi juga diangkat derajatnya sebagai hamba yang sangat dekat kepada-Nya (Wa inna lahuu lazulfaa wa husna maab) (QS Shad [38]: 25).
Kata “lazulfaa” (sangat dekat) menggambarkan betapa Nabi Daud di sisi Allah SWT sangat dekat dan mendapatkan derajat yang tinggi.
Syekh As Sa’di mengatakan bahwa kasalahan Nabi Daud di atas disebutkan bukan untuk dibesar-besarkan, tetapi untuk hikmah tertentu. Di antaranya bahwa orang yang segera melakukan tobat kepada Allah SWT, tidak saja mendapatkan ampunan, tetapi juga mendapatkan derajat yang tinggi.
Di antaranya bahwa orang yang segera melakukan tobat kepada Allah SWT, tidak saja mendapatkan ampunan, tetapi juga mendapatkan derajat yang tinggi.
Tobat Nabi Sulaiman juga disebutkan dalam surah Shad. Ketika itu Nabi Sulaiman sejenak lupa berzikir kepada Allah SWT karena terlena dengan kuda-kudanya yang sangat ia sukai (Idz ‘uridha ‘alaihi bil ‘asyiyyis shaafinaatul jiyaad) (QS Shad [38]: 31).
Kata “ashshafinaat” maknanya adalah bahwa kuda-kuda itu bisa mengangkat sebagian kakinya. Pemandangan ini biasanya sangat disukai oleh para raja.
Kata “aljiyad” maksudnya berlari kencang dan kecepatannya mengalahkan kuda-kuda lainnya. Kekagum Nabi Sulaiman terhadap kuda-kuda itu membuatnya lupa melakukan ibadah dan zikir sore sampai matahari terbenam (tawaarat bil hijaabi).
Segera Nabi Sulaiman merasa bersalah di hadapan Allah SWT dan langsung bertobat dan menyembelih kuda-kuda tersebut.
Segera Nabi Sulaiman merasa bersalah di hadapan Allah SWT dan langsung bertobat dan menyembelih kuda-kuda tersebut (fathafiqa mashan bissuqi wal a’naaqi) (QS Shad [38]: 33).
Nabi Ayub juga disebutkan dalam surah Shad karena tobatnya. Waktu itu Nabi Ayyub bersumpah akan menghukum istrinya karena melakukan kesalahan dengan memukulnya 100 pukulan. Setelah itu, Nabi Ayyub tahu bahwa keputusannya itu keliru.
Allah SWT menegurnya agar itu dilakukan dengan hanya satu ikat rumput ilalang lalu dipukulkan kepada istrinya (wa khudz biyadika dhightsan fadhrib bihii wa la tahnats).
Karena kesalahan ini, Nabi Ayyub segera bertobat kepada Allah SWT, lalu Allah SWT menerima tobatnya dan memberikan pujian bahwa Nabi Ayyub adalah hamba yang suka kembali kapada-Nya (ni’mal ‘abdu innahuu awwab) (QS Shad [38]: 44).
sumber : https://republika.id/posts/39691/bergegas-kembali-kepada-allah