Tuesday, August 12

Kefasikan dan Kekafiran Iblis

amirfath.com, Artikel (250), April 2023 Kata fasik dari kata fasaqa yafsuqu, artinya jauh dari jalan yang benar. Dikatakan dalam bahasa Arab “fasaqat arruthabah ‘indama yashbahul balah ruthaban” (terlepas kulit kurma ketika kurma balah itu menjadi ruthab).

Kurma balah adalah kurma yang masih muda warnanya merah, di mana kulitnya tidak bisa dipisahkan. Adapun setelah kurma balah itu menjadi ruthab, maka kulitnya bisa dikelupas.

Fasik itu adalah terkelupasnya amal dari panduan yang benar. Iblis adalah contoh mahluk yang berbuat fasik karena menolak perintah Allah SWT untuk melakukan sujud penghormatan kepada Nabi Adam (kaana minal jinni fafasaq ‘an amri rabbihii).

Surah Shad yang menyerukan kepada pertobatan kepada Allah SWT menyebutkan sikap iblis sebagai profil yang tidak mau bertobat. Penyebabnya karena sombong (illaa ibliisas takbara).

Kata istakbara dari kata kabura yakburu (besar) menggunakan wazan istafa’ala menjadi istakbar untuk mana membesar, padahal itu di luar kapasitasnya. Maksudnya, iblis itu sebenarnya makhluk yang sangat kecil di mata Allah SWT, tetapi ia merasa besar, sehingga tidak mau patuh kepada perintah-Nya.

Para malaikat saja ketika Allah SWT perintahkan bersujud kepada Nabi Adam, mereka langsung bersujud (fasajadal malaaikatu kulluhum ajma’uun). Sementara iblis tidak bersujud karena dirinya merasa hebat.

Inilah yang disebut istikbaar (kesombongan). Dari sikap istikbaar ini lahirlah kefasikan (fafasaqa ‘an amri rabbihi). Puncaknya ia menjadi kafir (wa kana minal kaafiriin).

Kata kaafir dari kata kafara artinya satara (menutup). Maksudnya, menutup fitrah yang sebanarnya telah beriman kepada Allah SWT. Jadi manusia sebenarnya ketika masih berupa janin dalam rahim ibunya, Allah SWT telah meng-install iman dalam dirinya dengan menanyakan kepada janin, “Bukankah Aku Tuhanmu (alastu birabbikum?).”

Janin menjawab, “Benar Engkau Tuhanku (qaaluu balaa).” Setelah itu janin lahir menjadi bayi.

Nabi SAW menyebutnya dengan fitrah. Maksdunya membawa iman sebagaimana asal ia diciptakannya (kullu mauluudin yuuladu ‘alal fitrah). Tetapi sayangnya, pergaulan bayi itu dengan lingkungannya membuat imannya tertutup maka dengannya ia menjadi kafir (menutup iman yang sudah ada dalam dirinya).

Inilah makna hadis, “Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi beragama Yahudi, Nasrani atau Majusi (faabawaahu yuhawwidaanihii, aw yunashs shiraanihi aw yumajjisaanihi).

Jadi perbuatan fasik yang dilakukan iblis telah menyeretnya kepada kekafiran. Di sini iblis ditanya mengapa melakukan kefasikan tersebut, padahal bersujud kepada Adam itu perintah Allah SWT (maa mana’aka an tasjuda limaa khalaqtu biayadayya).

Kata khaqtu biyadayya menggambarkan betapa manusia adalah makhluk yang sangat agung. Ini isyarat bahwa dibanding dengan makhluk yang lain, manusia mempunyai kedudukan sangat tinggi.

Maka tidak pantas manusia tunduk dan bersujud kepada iblis. Pantasnya ia hanya tunduk kepada Allah SWT. Malaikat saja diperintahkan agar melakukan sujud pernghormatan kepadanya.

Sebaliknya, iblis dikutuk (rajimm) dan dilaknat oleh Allah SWT (wa inna ‘alaika la’natii). Memang alasan yang dibuat iblis tidak bisa diterima sama sekali. Sebab, persepsi kemuliaan yang ia bangun berdasarkan materi semata.

Akibat dari kafasikan dan kekafiranya, iblis mendapatkan hukuman yang berat.

Iblis mengangap bahwa zat api yang darinya ia diciptakan lebih baik daripada tanah yang darinya Nabi Adam diciptakan (Ana khairum minhu khalaqtanii min naariw wakhalaqtahuu min thiin).

Akibat dari kafasikan dan kekafiranya, iblis mendapatkan hukuman yang berat. Ia dikutuk dan keluarkan dari surga (qaala fakhruj minhaa fa innaka rajiim).

Kata rajiim maksudnya adalah terkutuk. Sebab, ia tidak pantas sebagai makhluk berlagak sombong. Karena itu hukumannya bukan hanya dikeluarkan dari surga, tetapi juga dikutuk dan dilaknat sampai hari kiamat (wa inna ‘alaika la’natiinilaa yaumiddiin).

sumber : https://www.republika.id/posts/39726/kefasikan-dan-kekafiran-iblis

About Post Author