Jangan Salah Paham tentang Akhirat
amirfath.com, Artikel (245), April 2023 Secara fitrah setiap manusia ingin kebaikan dan ingin mendapatkan yang terbaik untuk dirinya. Bila diberi dua pilihan rumah, misalnya, dengan harga yang sama, satunya agak rusak dan satunya masih baru dan sangat kokoh, bisa dipastikan ia akan memilih yang baru dan kokoh.
Begitu juga dalam membeli mobil. Ketika mendapatkan dua pilihan, satunya sudah banyak rusaknya, sementara satunya masih bagus dan mulus, maka ia akan memilih mobil yang bagus dan mulus.
Namun mengapa ketika diberi dua pilihan antara halal dan haram, masih banyak manusia memilih yang haram? Antara surga dan neraka, ternyata masih lebih banyak yang memilih neraka? Antara dunia dan akhirat, masih lebih banyak memilih dunia?
Namun mengapa ketika diberi dua pilihan antara halal dan haram, masih banyak manusia memilih yang haram? Antara surga dan neraka, ternyata masih lebih banyak yang memilih neraka?
Padahal secara hakikat, setiap yang haram pasti membawa kerusakan, neraka pasti membawa kesengsaraan, dan dunia pasti penuh masalah.
Dalam surah al-A’la, Allah SWT menegur kesalahpahaman ini, setelah menjelaskan pentingnya bersih diri (tazakka). Bahwa mengutamakan cinta dunia atas akhirat, tidak saja salah tetapi akan menghalangi upaya bersih diri (bal tu’tsiruunal hayaatad dunya) (QS al-A’la [87]: 16).
Kata “bal” menunjukkan pengingkaran, maksudnya kamu tidak akan bisa melakukan bersih diri jika masih mengutamakan dunia atas akhirat. Kata “tu’tsuruun” satu akar dengan kata “itsaar” (lebih mengutamakan).
Seharusnya kata “itsaar” ini digunakan dalam hal positif, misalnya, persaudaraan, di mana seseorang mengutamakan sudaranya atas dirinya sendiri. Tetapi di sini digunakan dalam hal yang negatif, yaitu mengutamakan kesenangan dunia yang sementara atas kesenangan akhirat yang abadi. Karena itu, Allah SWT memberikan peringatan atas sikap tersebut, sebab dengannya manusia tidak akan pernah bahagia.
Lalu Allah SWT mengoreksi kesalahpahaman manusia tentang akhirat, supaya tidak mengutamakan dunia. Bahwa akhirat dibanding dengan dunia jauh lebih baik dan lebih kekal (khairuw wa abqaa) (QS al-A’la [87]: 17).
Kata “khair” (lebih baik) maksudnya kenikmatan di surga lebih indah dibanding dengan kenikmatan dunia. Disebutkan dalam hadis bahwa saking indahnya kenikmatan surga, itu tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam bayangan manusia (maa laa ‘ainun raat wa laa udzunun samiat wa laa maa khathara fii qalbi basyar) (HR Bukhari-Muslim).
Katakanlah ada seseorang yang mencapai segala kenikmatan dunia yang paling tinggi atau membayangkan sebuah istana yang sangat megah, ini masih tidak ada apa-apanya dibanding dengan kenikmatan di surga.
Tidak usah jauh-jauh, surga paling bawah saja, masih sepuluh kali lipat lebih nikmat daripada semua yang paling nikmat di dunia. Apalagi kenikmatan surga paling tinggi. Maka sungguh tidak masuk akal jika ada orang yang mengutamakan dunia atas akhirat.
Kata “abqaa” (lebih kekal) menggambarkan bahwa kenikmatan di surga selama-lamanya tidak ada batas akhir. Dikatakan dalam surah al-Bayyinah [98]: 8 bahwa para penghuni surga kekal selamanya (Jazaauhum ‘inda rabbihim jannaatu ‘adnin tajrii min tahtihal anhaaru khaalidiina fiiha abadaa).
Penggabungan antara kata “khaalidiin” dan “abadaa” menunjukkan bahwa keabadian di surga benar-benar tanpa akhir. Dialah Allah SWT yang membuatnya abadi sebagai balasan bagi hamba-hamba-Nya yang saleh selama di dunia.
Dari Ibunda Aisyah, Nabi SAW menjelaskan bahwa dunia adalah tempat bagi mereka yang tidak mempunyai tempat, harta bagi mereka yang tidak mempunyai harta, dan hanya orang-orang yang tidak punya yang tergila-gila dengan dunia.
Dalam hadis lain dari Abu Musa Al-Asyari, Nabi SAW bersabda bahwa siapa yang mencintai dunia pasti akan membahayakan akhiratnya, dan siapa yang mencintai akhirat pasti akan mengorbankan dunianya, maka utamakanlah yang abadi atas yang sementara. (HR Ahmad).
sumber : https://www.republika.id/posts/39521/jangan-salah-paham-tentang-akhirat