Urgensi Bersih Diri
amirfath.com, Artikel (244), April 2023 Rasulullah SAW sangat menyukai surah al-A’la [87]. Karena itu, Nabi SAW selalu membacanya di hari Jumat pada saat menjadi imam shalat Jumat.
Para perawi hadis sepeti Imam Muslim, Imam Ahmad, Abu Daud dan Turmidzi, meriwayatkan bahwa Nabi SAW membaca surah ini saat mengimami shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Jika di hari itu bertepatan dengan hari Jumat, Nabi SAW juga mengimami shalat Jumat dengan membaca surah tersebut.
Imam Ahmad meriwayatkan juga bahwa Nabi SAW sering membacanya pada saat melakukan shalat Witir. Bagi siapa yang mentadabburi surah ini akan mendapatkan hakikat penting yang harus dijadikan panduan dalam hidupnya, yaitu pembuktian kehambaan dengan melakukan bersih diri.
Istilah bersih diri diambil dari kata tazakka dalam ayat surah al-A’la [87]: 14. Allah SWT menegaskan bahwa orang yang pasti beruntung adalah yang membersihkan dirinya (qad aflaha man tazakkaa).
Kata aflaha diartikan oleh ulama tafsir dengan faaza (menang). Maksudnya, menang terhadap setan dan hawa nafsu sehingga ia selamat dari dosa. Dengan ini jelas bahwa kehidupan orang-orang beriman selalu dalam pertarungan melawan satan dan godaan hawa nafsu.
Ibadah puasa adalah untuk membangun benteng diri agar seorang hamba benar-benar aman dalam menghadapi godaan kedua kekuatan tersebut. Boleh jadi seseorang berhasil mengendalikan hawa nafsunya, tetapi karena kuatnya godaan setan, akhirnya kendali itu terlepas juga.
Karena itu, selama Ramadhan pada saat hamba-hamba Allah SWT mengendalikan hawa nafsunya dengan puasa, Allah SWT juga mengikat setan (suffidat asy syayathiin).
Makna lain dari aflaha adalah najaa (selamat) dari azab dan dimasukkan surga. Karena itu doa-doa yang dalam thawaf adalah “wa qinaa ‘adzaaban naari wa adkhilnal jannata ma’al abraari” (Lindungilah kami dari api neraka dan masukkanlah kami ke dalam surga).
Dalam hadis, Rasulullah SAW mengajarkan doa “Allahumma ajirnii minan naari” (ya Allah selamatkanlah aku dari api neraka) (HR Ahmad). Memang pedihnya siksa neraka ini sering diulang-ulang dalam Alquran.
Ambil saja sebagai contoh dalam surah an-Naba’, Allah SWT menggambarkan neraka dengan sangat menakutkan. Bahwa makanan dan minumannya tidak saja sangat panas tetapi juga menjijikkan (illaa hamiimaw waghassaqaa) (QS an-Naba’ [78]: 25).
Ini tidak lain supaya semua orang merasa takut masuk neraka. Namun karena masih banyak orang yang tidak beriman kepada Allah SWT, gambaran tentang neraka tidak membuat mereka takut. Akibatnya mereka terus berlanjut dalam dosa-dosa.
Pembersihan diri tidak semata menjalani ibadah ritual melainkan harus dibuktikan dengan akhlak mulia.
Kata tazakka, artinya bersungguh-sungguh membersihkan diri dari dosa. Imam Ibn Katsir menjelaskan maksudnya bersih dari akhlak yang buruk (thahhara nafashu minal akhlaaq ar radziilah). Tetapi akhlak baik saja belum cukup, melainkan harus didasarkan kepada apa yang Allah SWT turunkan kepada Rasulullah SAW (Wa taaba’a maa anzalallah ta’alaa ‘alaa rasuulihi).
Dari sini jelas bahwa pembersihan diri tidak semata menjalani ibadah ritual melainkan harus dibuktikan dengan akhlak mulia. Pujian Allah SWT kepada rasul-Nya adalah setelah Nabi SAW dengan pendakian ibadah ritualnya mencapai puncak akhlak mulia (Wa innaka la’alaa khuluqin azhiim) (QS al-Qalam [68]: 4).
Karena itu, ibadah ritual sebesar apapun pahalanya bisa terhapus karena keburukan akhlaknya.
Dalam hadis tentang puasa disebutkan bahwa Allah SWT tidak butuh puasa orang yang masih berlaku dusta dan menipu. Juga, kata Nabi SAW, banyak orang yang tidak mendapatkan pahala apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus.
Supaya kerja tazakka (pembersihan diri) di atas benar-benar efektif, harus dibuktikan dengan dua kewajiban. Pertama, perbanyak zikir kepada Allah SWT (Wa dzakarasma rabbihii). Kedua, perbanyak shalat terutama menjaga kesempurnaan shalat fardhu lima waktu (fashalla) (QS al-A’la [87]: 15).
Nabi SAW menegaskan bahwa inti tazakka adalah tauhid kepada Allah SWT dengan melepaskan segala bentuk kemusyrikan. Adapun zikir dan shalat adalah menegakkan shalat lima waktu dengan sesungguh-sungguhnya (HR Al-Bazzar).
sumber : https://www.republika.id/posts/39496/urgensi-bersih-diri