Thursday, July 17

Hakikat Iman, Amanah dan Aman

amirfath.com, Khutbah (07), Maret 2023 –  Tujuan hakiki kita hidup ini adalah untuk mengutamakan Allah. Maka, program pokok yang harus kita jalani adalah mengutamakan programNya di atas program pribadi yang kita buat sendiri. Tidak ada program di dunia ini yang lebih agung dari pada program Allah. Jika seorang hamba mengutamakan progam sendiri dibanding programNya maka dipastikan ia tidak akan merasa aman. Sebaliknya orang yang mengutamakan program Allah di atas program pribadinya dipastikan ia akan merasa aman

Tidak ada program di muka bumi yang lebih utama daripada shalat. Ada satu seminar di Dubai, untuk melakukan seleksi Direktur Utama sebuah perusahaan internasional. Beberapa calon mengajukan untuk menjadi CEO di perushaan tersebut. Seorang calon yang ikut serta dalam interview mengatakan: “Saya seorang muslim, saya mempunyai kewajiban untuk melaksanakan sholat lima waktu sehari. Jika pekerjaan saya nantinya akan mengangganggu shalat saya, sebaiknya saya mundur mulai sekarang. Berapapun gaji saya nantinya, jika dapat merusak jadwal sholat yang sudah Allah tetapkan, maka saya tidak akan lanjut sebagai CEO”. Seketika para penguji, mempersilahkannya keluar tanpa satu soalpun yang diajukan.

Namun apa yang terjadi, ketika hasil interview diumumkan, orang inilah yang diterima sebagai CEO sebuah perushaan yang paling bergengsi di dunia. Ia bertanya kepada para penguji mengapa dirinya yang diterima? Para penguji menjawab: “Anda telah patuh kepada ajaran agama anda. Anda pasti orang yang jujur. Kami sedang mencari pemimpin yang berintegritas”. Orang yang mengutamakan Allah, pasti akan berhati-hati dari dosa. Semakin berhati-hati dari dosa maka akan semakin tinggi kejujurannya. Inilah hakikat Amanah.  Allah berfirman:

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِاَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ

“Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya” (QS. Al-Mu`minun: 8)

Dalam bahasa arab kata Amanah satu akar kata dengan Iman dan Aman. Artinya bahwa yang bisa menjalankan Amanah adalah mereka yang memiliki Iman. Selain yang beriman pasti akan menjalankan amanhnya karena kepentingan. Disinilah kita mengerti makna Ikhlas, bahwa tidak mungkin seorang ikhlas jika tidak memiliki iman.

Ada yang mengatakan orang-orang di Barat memiliki Akhlak dan Amanah yang baik. Perlu diketahui bahwa semua itu mereka lakukan karena kepentingan atau keuntungan materi bukan karena iman. Amanah yang  sesungguhnya hanya dapat dilakukan oleh orang beriman. Sebab dengan iman ia sadar sedang diawasi Allah swt. Inilah makna Ihsan. Nabi bersabda:

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau”

Jangan dikira Allah diam dan tidak memperhatikan hambaNya. Ketika anda bangun sholat tahajjud dan sholat subuh, padahal tidak ada orang yang melihat anda, maka itu ihsan. Sebaliknya orang yang tidak ihsan dalam beramal ia akan terus terombang-ambing dalam kepentingan. Jika ada keuntungan ia berbuat, jika tidak ada keuntungan ia berhenti beramal.

Pemirsa yang berbahagia

Orang yang mempunyai Iman pasti Amanah. Jika ada orang mengaku beriman namun tidak amanah, patut dipertanyakan keimananannya. Jangan-jangan Imannya pura-pura, atau pencitraan atau lemah. Sekalipun ia sholat tetapi ia korupsi, berzina, mabok dan mencuri. Maka tidak mungkin orang yang sholat melakukan hal itu. Karena orang yang Sholat akan mencegah dirinya dari perbuatan yang keji tersebut

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar” (QS. Al-Ankabut: 45)

Dalam ayat di atas ada dua istilah yaitu: fakhsya maksudnya dosa yang merusak diri sendiri seperti mabok dan berzina. Adapun mungkar adalah dosa merusak orang lain seperti mencuri, korupsi dan menipu. Ayat ini menggunakan inna (huruf taukid) artinya pasti, bahwa Allah tidak mungkin berbohong dan tidak mungkin salah berfirman. Maksudnya mana mungkin ada orang yang sholat itu tetapi ia mencuri, mabok dan zina.  Jika itu terjadi pasti yang salah adalah orang yang melakukannya bukan Allah yang salah berfirman.

Kata Amanah ada hubungannya dengan Iman. Orang yang mepunyai kualitas iman, pasti ia akan Amanah. Ketika Amanah dijakankan dengan benar pasti akan memberikan rasa Aman. Dahulu orang kafir Quraisy dari segi keimanan mereka tidak mau beriman kepada Ajaran Nabi. Sampai-sampai pengikut Nabi dibantai dan disiksa, seperti keluarga Ammar bin Yasir, dimana ibunya ditusuk dengan besi panas sampai mati syahid. Salah seorang sahabat Khuubaib juga dimutilasi di Tan`im, kukunya dicabut, matanya dicungkil sampai mati syahid.

Namun Sebenci-bencinya orang kafir Makkah terhadap Nabi, mereka tahu bahwa Nabi itu amanah. Setiap mereka memiliki barang berharga, mereka tidak mau menitipkannya kepada temannya sesama kafir. Tetapi mereka menitipkannya di rumah Nabi. Ketika itu rumah Nabi mirip perbankan sekarang menjadi tempat penititipan. Mereka menyambut Nabi sebagai “Al-Amiin” (Orang yang terpercaya). Pada saat mereka berselisih siapa yang akan meletakkan Hajar Aswad di tempatnya semula, seketika Nabi saw datang lalu mereka semua mengatakan Al-Amin Radhiina (ini dia orang yang terpercaya kami ridha dengannya). Maka mereka memberikan kepada Nabi untuk meletakkan Hajar Aswad tersebut. Di saat Nabi saw. berdiri di atas Jabal Kubis, lalu mengetes: “apakah kalian percaya jika saya katakan bahwa di belakang gunung ini ada pasukan?”. Serentak mereka menjawab: maa jarrabna ‘alaik kadzibaa” (belum kami mendengar kamu berdusta wahai Muhammad).

Pemirsa yang berbahagia

Permasalahannya sekarang adalah masih ada orang yang tau bahwa Islam benar tapi tidak mau beriman, tau bahwa Nabi Muhammad benar, tapi tidak mau mengikutinya, tau bahwa pahala sholat besar tetapi ia tidak sholat. Inilah perbedaan Tau dan Yakin. Oleh karena itu betapa pentingnya Iman yang harus dibuktikan dengan kaykinan.  Seorang suami yang imannya kokoh pasti akan menjaga amanah keluarganya dan akan memberikam rasa aman bagi mereka. Begitu juga seorang pejabat negara yang memiliki iman, pasti akan menjaga Amanah jabatannya dan akan memberikan rasa aman bagi rakyatnya. Al-Quran mengumpamakan dengan pohon yang kokoh:

 كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ اَصْلُهَا ثَابِتٌ وَّفَرْعُهَا فِى السَّمَاۤءِۙ

“Seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit” (QS. Ibrahim: 24)

Inilah pohon yang pasti tidak saja memberikan rasa aman bagi siapapaun yang berteduh dibawahnya tetapi juga menjamin kesejahteraan bagi mereka. Kita sedang merindukan lahirnya seorang pemimpin seperti pohon ini.

(Disampaikan pada Kajian Tematik, Masjid Raya Bintaro, Tanggerang Selatan 12 Februari 2023)

About Post Author