Sunday, July 20

Semua Ujian Allah Pasti Baik

amirfath.com, Khutbah (08), Maret 2023 –  

Beberapa waktu lalu Cianjur mengalami gempa yang sangat menyedihkan. Hidup memang ujian. Semakin tinggi iman semakin berat ujian. Para nabi adalah hamba yang paling berat ujiannya. Itu bukti kasih sayang Allah. Ibarat sekolah yang baik ia pasti akan menguji siswanya agar naik tingkat. Bukan sekolah yang baik, jika membuat siswanya manja dan bermain-main tanpa kejelasan tujuan. Seorang istri yang baik pasti akan menguji suaminya. Dengan ujian tresebut akan terlihat sejauh mana cinta seorang suami kepadanya.

            Ujian adalah cara Allah menyayangi hambaNya. Bila seseorang dimudahkan urusannya padahal ia jauh dariNya, maka itu tanda bahwa Allah sedang melakukan istidraj kepadanya. Maksudnya Allah sedang mengulur dengan cara memudahkan semua urusan dunianya sehinga ia terlena dengan dosa-dosa. Setelah itu Allah lemparkan ia dalam azabNya.

سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui” (QS. Al-A`raf: 182)

Jadi tidak perlu kita iri karena sebagian orang dimudahkan urusan dunianya. Jangan-jangan itu istidraj. Ucapkanlah terima kasih jika sedang diuji. Dahulu para sahabat sangat sedih jika tidak mendapatkan ujian. Mereka takut jangan-jangan sedang diistidraj olehNya. Katakanlah: “Ya Allah aku akan sabar, aku akan ridha atas apa yang Engkau ujikan”. Jalanilah ujian seberat apapun. Karena itu memang tidak bisa dihindari. Kita harus ridha, karena kita memang makhlukNya yang lemah, tidak berdaya apa-apa di hadapanNya. Ujian itu bermacam-macam, bisa jadi berupa kesenangan dan bisa jadi berupa kesengsaraan. Beberapa waktu lalu saudara kita di Turki sedang diuji dengan gempa. Memang bumi ini sedang mengalami peregangan sehingga gempa terjadi dimana-mana. Boleh jadi ini adalah tanda semakin dekatnya hari Kiamat. Bahwa alam semesta ini akan berakhir. Ibarat manusia ada penuaan, begitu juga dengan bumi, semakin dekat kiamat, maka peregangan akan terus terjadi.

            Bagaimanapun kita harus yakin bahwa setiap Ujian yang Allah berikan pasti baik. Sebab Allah Maha Bijak. Semua yang Allah ujikan pasti ada hikmahnya. Pernah seorang shaleh terdahulu diuji dengan penyakit yang sangat berat. Penyakit berser yang membuatnya harus mengganti pakainnya setiap selesai shalat. Seluruh kamarnya jadi najis kerena tumpahan kecingnya. Keluarganya sangat sedih melihatnya. Tetapi orang shaleh tersebut tersenyum. Lalu mengatakan: “Apa yang membuatmu sedih, sedangkan aku dalam kasih sayangNya. Allah sedang mencuci dosa-dosaku suapaya aku kembali kepadaNya tanpa dosa. Ini bukti betapa baiknya Allah kepadaku”. Mendengar itu kerabatnya kaget, karena kesabarannya.

Nabi Ayyub adalah contoh terbaik dalam kesabaran menerima ujianNya. Selama dalam penderitannya Nabi Ayyub tidak sedikitpun mengeluh. Istrinya meminta agar Nabi Ayyub memohon kesembuhan kepada Allah. Nabi Ayyub menjawab: “Aku malu minta sembuh, selama delapan puluh tahun aku dimudahkan, diberi harta, diberi anak dan kesehatan. Lalu kini saatnya kita harus hidup tanpa anak, harta dan bahkan aku harus menerima penyakit yang Allah berikan. Apakah pantas aku memohon sembuh dengan penyakit yang baru beberapa saat ini?”. Saking malunya Nabi Ayyub, ia hanya mengatakan kepada Allah: “Ya Allah aku sedang tertimpa penyakit, sungguh Engkah paling Maha Penyayang”. (QS. Al-Anbiya: 83).

Apa yang dilakukan nabi Ayyub adalah sebuah pelajaran yang sangat dalam, bahwa ujian pasti akan menimpa siapapun. Mengeluh karena ujian adalah kesalahan. Sebab dalam mengeluh ada sikap tidak ridha dengan takdirNya. Sementara ujian adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Orang yang tidak ridha terhadap ujianNya pasti akan mengalami dua kondisi yang sangat menyedihkan: pertama ia akan terus menerus dalam kesedihan dan kekecewaan. Akibatnya ia akan dirundung penyakit psikologis yang berkepanjangan. Kedua, ia tidak akan pernah tenang. Hidupnya akan terus dihantui kegelisahan yang tidak pernah selesai.  Dalam kondisi ini maka semua fasilitas yang dimiliki semewah apapun tidak akan ada gunanya. Tidak sedikit orang yang bunuh diri di rumah mewah itu. Tindakan tersebut adalah akibat dari tumpukan kekecewaan tarhadap apa yang Allah takdirkan. Tentu ini penyakit yang harus dihindari.

Pemirsa Rahimakumullah

Apapun ujian yang Allah berikan kita harus berperasangka baik. Sebab Allah Maha Rahmah dan Rahim dimana kasih sayangnya meliputi semua situasi dan kondisi. Kita harus mengatakan semua yang Allah takdirkan pasti baik.

كُلُّ مَا قَدَّرَ اللَهُ فَهُوَ خَيْرٍ

“Setiap apa yang terjadi pasti baik”

            Sebuah Kisah seorang raja yang jarinya terpotong. Salah seorang pengawalnya mengatakan “Itu takdir Allah. Yakinlah bahwa setiap apa yang Allah takdirkan pasti baik”. Raja Marah: “Apanya yang baik, sementara jariku terpotong” katanya. Raja memerintahkan pasukannya agar pengawal tersebut dimasukkan penjara. Setelah itu raja berangkat memburu. Tibalah di sebuah perkampungan, dimana raja dan pengawalnya dianggap masuk ke wilayah tersebut secara illegal. Semuanya ditangkap oleh penduduk kampung itu. Satu persatu dipanggang lalu diserahkan kepada sesembahan mereka. Tinggal giliran raja, ternyata nampak bagi mereka satu jarinya terpotong. Mareka melepaskan raja itu karena ada cacatanya dan tidak pantas diserahkan kepada sesembahan mereka. Pulanglah raja ke istana. Bertemulah raja dengan ajudannya yang dipenjara. Raja berkata: “Kamu benar, karena jariku terpotong aku selamat tidak dibakar. Ajudan itu menjawab: “Seandainya aku tidak dipenjara niscaya aku ikut juga mengawal dan aku termasuk yang dibakar”.

Pemirsa Rahimakumullah

            Ujian Nabi saw. memang sangat berat. Sebelum Nabi lahir ayahnya wafat. Umur 6 Tahun ibunya wafat. Nabi pindah ke tangan kakeknya Abdul Mutthalib, tak lama setelah itu sang kakek wafat. Nabi diasuh oleh pamannya Abu Talib. Bersama Abu Talib, Nabi belajar jadi penggembala kambing sejak dini. Lalu Nabi menikah dengan Khadijah. Tak lama setelah itu Nabi mendapatkan wahyu. Lalu diperintahkan untuk berdakwah. Ancaman dari kaum kafir Makkah bertubi-tubi. Nabi tetap bertahan dalam dakwahnya. Orang-orang kafir Makkah memboikot Nabi dan keluarganya selama tiga tahun. Tidak ada yang dimakan kecuali daun-daunan yang ada. Banyak sahabat yang dibunuh, dimutilasi, inilah ujian Nabi dan para sahabatnya.

            Puncak ujian bagi Nabi adalah ketika paman dan istrinya yang selalu membela Nabi dalam berdakwah dipanggil Allah swt. Di sinilah Nabi sangat merasa sedih. Masa-masa ini disebut dengan `amul huzni (tahun kesedihan). Supaya tidak berlarut-larut kesedihan Nabi, Allah mengajak Nabi untuk berjalan-jalan. Yaitu dari masjid Al-Haram ke masjid Al-Aqsha lalu naik ke Sidratul Muntaha. Inilah yang dikenal dengan peristiwa Isra` Mi`raj.

(Disampaikan pada Kajian Bulanan Masjid Raya Al-Azhar Cianjur, 08 Februari 2023)

About Post Author