Thursday, August 21

Musibah Adalah Sunnatullah

amirfath.com, Artikel (219), Mar 2023 Surah al-Baqarah (QS al-Baqarah [2]: 155) menegaskan bahwa siapa pun makhluk tidak akan bisa menghindari musibah. Allah SWT telah menegaskan bahwa musibah itu sebuah keniscayaan (wa lanabluannakum bisyaiin minal khaufi wal juu’i wa naqshim minal amwaali wal anfusi watstsamarati wa basysyirish shaabiriin).

Huruf taukid (penegasan) dalam ayat ini diulang dua kali berupa huruf lam dan nun tasydid (lanabluanna). Hal ini menguatkan bahwa musibah itu adalah ujian yang pasti terjadi. Kata lanabluanna satu akar dengan kata ibtila’ (ujian). Bahwa tabiat hidup di dunia ini adalah ujian.

Dengan kata lain sejatinya tidak ada orang sukses di dunia. Sebab, semua apa yang manusia capai di dunia adalah proses. Kaya dan miskin, senang dan sedih, pejabat dan rakyat biasa, sehat dan sakit, semua itu ujian.

Hanya saja kondisi yang menunjukkan penderitaan seringkali disebut musibah. Tetapi hakikatnya semua itu adalah ujian.

Hanya saja kondisi yang menunjukkan penderitaan seringkali disebut musibah. Tetapi hakikatnya semua itu adalah ujian.

Masih dalam ayat yang sama digambarkan bahwa musibah itu bisa berbentuk ketakutan (alkhauf), kelaparan (aljuu’), kekurangan harta karena gempa yang menghancurkan rumah-rumah tempat tinggal, kezaliman penguasa yang merampas hak milik rakyatnya dengan cara korupsi.

Atau karena perampokan dan pencurian (wa naqshim minal amwaali), hilangnya jiwa manusia berupa kematian, bencana alam atau kematian para kerabat dekat (wal anfusi), dan kurangnya buah-buahan dan biji-bijian karena hama, kemarau panjang dan keringnya ladang-ladang pertanian (wats tsamaraat).

Menariknya dalam ayat tersebut ada penggambarana bisyaiin min (sebagian kecil). Maksudnya bahwa musibah yang terjadi hanya sebagian kecil saja. Sebab, kalau itu terjadi besar-besaran sepanjang masa, niscaya semua manusia akan musnah.

Menarik bahwa ayat tentang musibah ini terdapat dalam surah al-Baqarah yang tema pokoknya adalah kepemimpinan (i’maaratul ardhi). Ini bukti bahwa di antara ujian para pemimpin adalah terjadinya musibah di negeri yang dikelolanya. Dengan ujian ini para pemimpin menjadi tidak mudah sombong dengan kekuasaannya seperti yang dilakukan Firaun.

Syekh as-Sa’di menjelaskan bahwa ujian ini untuk membedakan antara orang-orang yang jujur, pendusta, dan orang-orang yang tidak sabar (liyatabayyanash shaadiqu wal kaadzubu wal jaazi’ minash shabri). Sebab, hidup dalam zona nyaman, jika itu terus menerus, akan mudah membuat banyak orang terlena sehingga semakin jauh dari Allah SWT.

Adalah hikmah dari Allah SWT untuk membedakan siapa yang baik dan siapa yang buruk dengan ujian tersebut.

Hadirnya musibah tidak lain agar menjadi peringatan supaya manusia berhati-hati dari dosa. Bahwa di atas segala kekuatan manusia ada kekuatan Allah SWT.

Satu hal bahwa penutup ayat di atas berbunyi wa basysyrish shaabiriin (berilah kabar gembira kepada mereka yang sabar). Ini adalah kaidah bahwa tidak ada jalan keluar dari musibah kecuali hanya sabar.

Para ulama membagi makna sabar dalam tiga kondisi: sabar dalam taat kepada Allah SWT, tetapi ini belum lengkap tanpa didukung dengan yang kedua, yaitu sabar dalam menjauhi maksiat.

Semakin naik kualitas iman maka akan semkain berat ujian.

Sebab, banyak orang dari segi taat bisa sabar, tetapi dari segi maksiat tidak sabar sehingga mudah jatuh dalam dosa. Lalu sabar dalam menjalani ujian Allah SWT. Semakin naik kualitas iman maka akan semkain berat ujian.

Keuntungan orang yang sabar dalam ujian dijelaskan pada ayat QS al-Baqarah [2]: 157, yaitu akan mendapatkan pujian dari Allah SWT (ulaaika ‘alaihim shalawaatun mirrabbihim) dan kasih sayang-Nya (wa rahmatun).

Selanjutnya, hidayah dalam diri seorang hamba akan semakin mantap (wa ulaaika humul muhtaduun). Kata muhtaduun maksudnya, ia menjadi paham mana haq dan mana batil.

sumber : https://www.republika.id/posts/37865/musibah-adalah-sunnatullah

About Post Author