Keagungan Peristiwa Isra
amirfath.com, Artikel (220), Mar 2023 Untuk memahamai tema pokok surah al-Isra’ pertama kali harus memahami pristiwa isra’-nya Rasulullah SAW. Karena itu, ayat pembuka yang kiba baca dalam surah ini adalah tentang peritiwa isra’. Adapun pristiwa mi’raj-nya dibahas dalam surah an-Najm.
Kata isra’ artinya perjalanan di waktu malam dari Masjid al-Haram di Makkah ke Masjid al-Aqsha di Palestina (subhanalladzii asraa bi’abdihii lailan minal masjidil haraami ilal masjidil aqshalladzii baaraknaa haulahu) (QS al-Isra’ [17]: 1).
Kata subhaana (Mahasuci Allah) sebuah ungkapan untuk menunjukkan keagungan setiap peristiwa yang terjadi. Ini bukti bahwa peristiwa isra sangatlah luar biasa (mukjizat). Tidak ada yang bisa melakukannya kecuali Allah SWT.
Kata lailan (sebagian malam) dalam ayat di atas, dengan bentuk nakirah menggambarkan betapa dahsyatnya kecepatan perjalanan isra itu, sehingga waktu malam yang sangat pendek bisa digunakan untuk perjalanan isra dan mi’raj yang seharusnya ditempuh berbulan-bulan dan bahkan bertahun-tahun.
Hasil penemuan ilmiah dengan teropong yang paling canggih saat ini menemukan bahwa jarak dari bumi ke berbagai bintang saja, di angkasa raya yang jumlahnya tak terhingga, sangat membutuhkan bermiliar-miliar tahun cahaya. Sementara Nabi SAW ke langit lapis tujuh bahkan sampai ke Sidratul Muntaha lalu balik ke Makkah hanya menempuh dalam jangka waktu tidak sampai satu malam.
Inilah yang ditolak oleh orang-orang kafir Makkah. Karena bagi mereka peristiwa isra tersebut tidak masuk akal. Memang akal tidak akan mampu menjangkaunya karena itu termasuk wilayah iman.
Memang akal tidak akan mampu menjangkaunya karena itu termasuk wilayah iman.
Dengan kata lain hanya iman-lah yang mau menerima isra-nya Rasulullah SAW. Abu bakar ash-Shiddiq dengan kacamata imannya langsung membenarkan apa yang Nabi SAW alami.
Nabi SAW langsung memberikan gelar kepadanya: “wa anta yang aba bakar ashshiddiq” (engkaulah wahai Abu Bakar pantas mendapatkan gelar ash-shiddiq), yaitu orang yang membenarkan segala apa yang Nabi SAW sampaikan tanpa sedikit pun keraguan.
Memang iman dikatakan iman ketika berkaitan dengan yang ghaib (alladziina yu’minuuna bil ghaibi) (QS al-Baqarah [2]: 3). Sungguh bukan iman namanya jika itu berkaitan dengan hal yang konkret.
Dari sini kita paham mengapa surah al-Isra’ ini tidak diberi nama al-Mi’raj? Sebab yang ingin digambarkan dalam surah ini adalah dimensi isra-nya Rasulullah SAW.
Tidak saja karena di dalamnya ada keagungan perjalanan yang penuh mukjizat tetapi selain itu ada pertemuan Rasulullah SAW dengan para nabi di Masjid al-Aqsha.
Sebuah muktamar terbesar di sepanjang sejarah manusia, di mana ketika itu Rasulullah SAW langsung dinobatkan menjadi imam, sementara makmumnya adalah semua nabi dan rasul, yang jumlahnya disebutkan dalam sahih Bukhari sebanyak 124 ribu nabi dan 300 rasul.
Di sini ada makna transisi risalah antara nabi dan rasul sebelumnya kepada Rasulullah SAW.
Di sini ada makna transisi risalah antara nabi dan rasul sebelumnya kepada Rasulullah SAW. Transisi ini dibuktikan dengan diturunkannya Alquran kepada Rasulullah SAW sebagai kitab suci terakhir setelah sebelumnya turun kitab Zabur, Taurat, dan Injil.
Surah al-Isra’ diberi nama juga dengan Bani Israil, sebab merekalah yang menerima al-Kitab lalu mereka juga yang mengubah-ubah kandungannya (yuharrifuunal kalima ‘an mawadhiihi) (QS an-Nisa [4]: 46).
Dengan turunnya surah al-Isra’ ini seakan dikatakan kepada Rasulullah SAW, “Wahai Muhammad ini Alquran yang mencakup semua syariat terdahulu adalah amanah kepadamu dan kepada umatmu. Janganlah sekali-kali kamu melakukan penyelewengan seperti yang telah dilakukan Bani Israil terhadap kitab sucinya.”
sumber : https://www.republika.id/posts/37967/keagungan-peristiwa-isra